» » » Indonesia Sebagai Negara Kepulauan Tenyata Lebih Memilih Mengimpor Kapal

Jakarta, e.Maritim.Com,- Untuk pertama kalinya Indonesia berhasil membuat kapal keruk dengan bobot 3000 ton dan panjang 80 meter. Kapal yang dibangun di galangan kapal Steadfast Marine, Pontianak, Kalimantan Barat, itu akan dipakai untuk mengeruk Sungai Kapuas dan Sungai Landak yang mengalami sedimentasi.

Kemampuan membuat kapal keruk Barito Equator ini sangat membanggakan. Sebab, selain terjadi alih teknologi dari Damen Shipyards asal Belanda, juga menjadi bukti bahwa Indonesia mampu memproduksi kapal keruk ukuran besar.

Sebenarnya tak ada yang tidak mungkin dibuat di Indonesia. Sayangnya, untuk membuktikan kemampuan itu tidak ada kondisi yang mendukung. Lihat saja industri galangan kapal. Kapasitas galangan kapal saat ini berbobot 900.000 ton, tetapi hanya digunakan kurang dari 60 persen.

Galangan kapal lebih banyak digunakan untuk merawat kapal. Untuk hal ini, kapasitas galangan kapal justru kurang memadai. Akibatnya, kapal yang akan diperbaiki harus antre satu dan dua bulan. Hal ini menganggu produktivitas kapal.

Indonesia sebagai negara kepulauan ternyata lebih memilih mengimpor kapal ketimbang membangun industri pembuatan kapal. Mengapa pemilik kapal lebih suka mengimpor daripada membuat kapal di dalam negeri?

Ternyata mengimpor kapal biayanya lebih murah. Untuk membangun kapal di dalam negeri komponen masih harus diimpor. Bahkan pemerintah mengenakan pajak 10 persen dan bea masuk berkisar 5-12,5 persen. Pajak dan bea masukyang masih cukup tinggi in itentu saja membuat pemilik kapal memilih mengimpor kapal.(kps/pulo lasman simanjuntak)

eMaritim.Com
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
Comments
0 Comments
World Maritime Day 2017: "Connecting Ships, Ports and People"

close
Banner iklan disini