» » » Belum Tahu Kapan akan Dipulangkan, ABK Oryong Asal Indonesia yang Tewas dan Selamat

Brebes, e.Maritim.Com,- Tenggelamnya kapal Oryong 501 asal Korea Selatan di Selat Bering, Rusia, sudah tiga pekan berlalu, tapi seluruh anak buah kapal (ABK) Oryong asal Indonesia baik yang tewas maupun yang selamat belum diketahui kapan akan dipulangkan.

“Sampai hari ini belum ada kabar dari Kementerian Luar Negeri ihwal jadwal kepulangan mereka,” kata Kepala Seksi Perlindungan dan Pemberdayaan Badan Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Jawa Tengah, Pujiono, Jumat, 26 Desember 2014.

Kapal Oryong tenggelam pada 2 Desember lalu. Dari 60 awak kapal Oryong, 35 orang di antaranya warga Indonesia. Dari 35 ABK itu, 15 ABK di antaranya warga eks-Karesidenan Pekalongan, Jawa Tengah, yaitu sepuluh ABK dari Kabupaten Tegal, empat ABK dari Brebes, dan satu ABK dari Pemalang.

Hanya satu dari 15 ABK tersebut yang ditemukan selamat, yaitu Wanto bin Popon, warga Desa Karangmalang, Kecamatan Songgom, Brebes. “Satu ABK yang selamat itu juga belum dipulangkan,” kata Pujiono.

Pujiono mengaku baru akan menghubungi petugas dari Kementerian Luar Negeri untuk memastikan keberadaan 15 ABK kapal Oryong asal Jawa Tengah. “Apakah masih di Rusia atau sudah di Korea saya belum tahu. Coba saya tanyakan dulu,” ujarnya.

Menurut Pujiono, lamanya waktu pemulangan para korban kapal Oryong itu diduga karena masih dalam proses otopsi. “Kalau seluruh jenazah sudah selesai diotopsi, saya yakin tidak ada kendala dalam proses pemulangannya ke Indonesia,” kata Pujiono.

Meski jenazah 14 ABK kapal Oryong dari eks-Karesidenan Pekalongan belum dipulangkan, sebagian keluarganya sudah mendapat asuransi dari perusahaan yang memberangkatkan ke Korea. “Salah satunya keluarga Barjo, ABK asal Kecamatan Ulujami, Pemalang. Tapi berapa nominalnya saya lupa,” ujar Pujiono.

Adapun ABK yang selamat, Wanto, belum diketahui pemulangannya ke Desa Karangmalang, Brebes. Warga desa itu sudah bersiap menggelar acara syukuran. “Kalau sudah pulang, kami akan meminta Mas Wanto berhenti jadi nelayan di luar negeri. Kami masih trauma,” kata Daryunah, istri Wanto.(tempo.com/pulo lasman simanjuntak)

eMaritim.Com
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
Comments
0 Comments
World Maritime Day 2017: "Connecting Ships, Ports and People"

close
Banner iklan disini