» » » TNI AL Masih Tabuh Genderang Perang Lawan Kapal Asing

Jakarta, eMaritim.Com,- - TNI Angkatan Laut (AL) rupanya diam-diam masih beraksi. Meski tak banyak diekspos media, mereka masih melakukan operasi penenggelaman kapal nelayan asing yang masih berani wira-wiri sampai nyolong ikan di perairan Indonesia.

Semenjak pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), TNI AL memang sudah diinstruksikan untuk bertindak tegas pada nelayan asing. Selain dari Jokowi, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti juga menginginkan agar kekayaan laut Indonesia bisa terus dijaga.

Awal Desember 2014 lalu, TNI AL sempat kebanjiran pujian dari publik lantaran berhasil menenggelamkan 3 kapal Vietnam. Meski sebenarnya juga banyak pihak kecewa lantaran TNI AL cuma menghancurkan perahu nelayan, bukannya kapal asing yang besar.

Namun TNI AL patut diapresiasi karena masih berusaha konsisten untuk melakukan operasi melawan kapal asing. Setidaknya tetap menjalankan perintah karena terus diawasi Presiden Jokowi dan Menteri Susi .

Berikut aksi TNI AL masih gempur kapal nelayan asing seperti dirangkum merdeka.com (13/1/2015):


@merdeka.com

1. Hancurkan kapal Thailand sampai dikritik media asing

TNI AL pada akhir Desember 2014 lalu sempat mengeksekusi kapal nelayan Thailand. Kala itu TNI AL menghancurkan 2 kapal sekaligus.

Namun operasi TNI AL itu mendapat sorotan dari media asing. The Bangkok Post misalnya. Dalam editorial awal Januari lalu sempat mengecam kebijakan pemerintah Indonesia. Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang memerintahkan TNI menghancurkan kapal nelayan ilegal dianggap mengacaukan stabilitas di Asia Tenggara. Kebijakan itu dinilai barbar, jauh dari norma diplomatik antara negara sahabat.

Koran ini berharap pemerintah Thailand segera protes ke pemerintah RI. Adanya 5.400 nelayan asing yang memasuki peraian Indonesia, termasuk dari Negeri Gajah Putih, disebabkan oleh ketidakbecusan TNI menjaga wilayah Tanah Air yang mayoritas berupa perairan dan terdiri dari 18.307 pulau.

"Sederhana saja, (maraknya nelayan asing masuk) karena ketidakmampuan Indonesia menegakkan aturan mereka sendiri. Tapi sebagai responnya, mereka secara kasar menghukum nelayan kecil yang tertangkap," tulis editorial Bangkok Post seperti dikutip merdeka.com, Kamis (8/1).

Di tengah situasi kawasan yang kurang kondusif terkait sengketa batas wilayah di Laut China Selatan, Bangkok Post menyatakan sikap Indonesia semakin memperparah keadaan. Padahal Presiden Jokowi awalnya diharap bisa jadi mediator bagi Thailand dan Vietnam melawan China yang aktif memasang patok di kawasan Laut China selatan.

Negara-negara lain di Asia Tenggara bukannya segan, tapi akan memandang Indonesia sebagai musuh. Aksi balasan kemungkinan dilakukan dengan memboikot ekspor kelautan dari Tanah Air.

"Jika Indonesia terus menghancurkan kapal dari negara mitranya yang berharga di ASEAN, maka besar peluang muncul aksi balasan," tulis koran itu.

@merdeka.com

2. Tenggelamkan kapal nelayan Filipina

TNI AL kembali melakukan eksekusi kepada kapal nelayan asing yang berada di wilayah perairan Indonesia. Pangkalan TNI AL (Lanal) Tahuna jajaran Koarmatim melaksanakan pemusnahan kapal berbendera Filipina, KM Gerry 12 di Perairan Teluk Tahuna, Kelurahan Apengsembeka, Kabupaten Kepulauan Sangihe Sulawesi Utara, Sabtu (10/1/2015).

"Pemusnahan yang dilakukan dengan cara dibakar dan ditenggelamkan tersebut dipimpin oleh Komandan Lanal Tahuna Kolonel Laut (P) Fransiscus Herman S," tulis Dispenal Mabesal seperti dikutip merdeka.com dari tnial.mil.id, Selasa (13/1/2015).

Pemusnahan KM Gerry 12 tersebut dilaksanakan berdasarkan Surat Penetapan Pengadilan Negeri Tahuna No: 3 Pen.Pid/2014/PN.THN tentang pemberian persetujuan kepada Penyidik Lanal Tahuna untuk memusnahkan barang bukti berupa 1 (satu) buah Kapal Ikan Asing Jenis Pumboat berbendera Filipina KM Gerry 12. 

Sebelumnya KM Gerry 12 juga pernah menjadi tangkapan KRI Yos Sudarso-353 di Perairan Sangihe awal Desember 2014. Saat diperiksa KIA/KM Gherry yang diawaki oleh 12 orang ABK tersebut, 9 orang di antaranya warga negara Filipina tidak bisa menunjukkan satu pun dokumen kapal maupun dokumen ABK alias kapal tersebut bodong.

"Kegiatan pemusnahan KM Gerry 12 tersebut disambut positif oleh warga setempat, karena selama ini di Perairan Sangihe rawan terhadap pencurian ikan oleh nelayan asing khususnya Filipina sehingga nelayan lokal kehilangan sebagian besar mata pencahariannya," katanya.
TNI AL masih tabuh genderang perang lawan kapal asing
@merdeka.com

3. Tangkap kapal Panama pencuri 1 juta kg ikan & udang

Kapal berbendera Panama dengan bobot 4.306 GT berhasil ditangkap TNI AL. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyebut, Kapal bernama MV HAI FA itu, membawa hampir satu juta kilogram ikan dan udang.

Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP), Asep Burhanudin menuturkan, penangkapan itu dilakukan lantaran MV HAI FA. Tak dilengkapi Surat Laik Operasi (SLO) kapal perikanan. Kapal jenis pengangkut ikan itu diawaki oleh 23 anak buah kapal, semuanya berkewarganegaraan Tiongkok.

"Muatan kapal berupa ikan campuran dan udang diketahui sebanyak 900.702 kg terdiri dari ikan beku 800.658 kg dan udang beku 100.044 kg," kata Asep di Jakarta, Selasa (13/1/2015).

MV HAI FA ditangkap saat merapat di Pelabuhan Wanam, Kabupaten Merauke. Muatan yang diketahui milik PT. Avona Mina Lestari ini rencananya akan diekspor ke Tiongkok.

"Pengawas Perikanan menyatakan bahwa kapal tersebut dinyatakan tidak laik operasi karena keseluruhan ABK berkewarganegaraan asing, sehingga tidak diterbitkan SLO," ungkapnya.

Selain tidak memiliki SLO, kapal tersebut juga tidak mengaktifkan transmitter Sistem Pemantauan Kapal Perikanan (Vessel Monitoring System/VMS) selama pelayaran dari Avona ke Wanam, Papua. Untuk itu, pihaknya telah menempuh langkah-langkah strategis untuk menangani kasus ini.

Langkah yang diambil, di antaranya melakukan koordinasi dengan aparat terkait seperti Koarmatim TNI AL, Kepolisian, termasuk Komandan Lantamal XI Merauke dan Komandan Lantamal IX Ambon. Termasuk mengawal MV. HAI FA ke Dermaga Lantamal IX Ambon dengan menggunakan KRI. John Lie-358, yang tiba di Ambon tanggal 1 Januari 2015 .(sonny listyanto/lasman simanjuntak)

eMaritim.Com
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
Comments
0 Comments
World Maritime Day 2017: "Connecting Ships, Ports and People"

close
Banner iklan disini