» » » Anjloknya Harga Minyak Dunia, Industri Migas Tak Boleh Panik

Bogor, eMaritim.Com,-PT Total E&P Indonesie mengkhawatirkan atas anjloknya harga minyak dunia. Namun dipastikan kondisi tersebut tidak menjadikan 'kiamat' sektor hulu minyak dan gas bumi.

Vice President Of Human Resources Communication & General Service Total E&P Indonesia Arividya Noviyanto mengatakan, level harga minyak dunia yang mengkhawatirkan berada di bawah US$ 50 per barel.

"Di bawah US$ 50 itu ngeri," kata Novi di Bogor, Jawa Barat, Sabtu (5/9/2015).

Novi mengungkapkan, meski begitu industri migas tidak boleh panik dan cepat mengambil keputusan menghentikan kegiatannya. Pasalnya, akan berpengaruh pada jangka panjang dan akan berbuah penyesalan jika harga minyak dunia kembali bangkit.

"Sekali lagi jangan lupa industri ini pikirkan jangka panjang. Jangan US$ 40 dolar sebulan, bisa bikin kiamat. Jadi, ngebor itu keputusan jangka panjang. Kalau 2-3 bulan, harga naik nanti nyesel," tuturnya.

Penyesalan tersebut pernah dialami Total pada ketika harga minyak dunia anjlok pada 1999. Untuk itu, Total tidak ingin mengulang kesalahannya.

"Harga minyak waktu itu sekitar US$ 20 per barel, kemudian drop ke US$ 11 lalu US$ 10 hingga US$ 9 per barel. Agak panik, lalu stop rig selama 2-3 bulan di tahun 2000. Padahal, sebetulnya harga turunnya sebentar. Tahun 2000 pertengahan, harga minyak udah naik lagi di angka US$ 18. Nah tapi kesalahan 3 bulan yang recovery lama," pungkasnya.

Untuk itu, menghadapi anjloknya harga minyak saat ini perseroan memilih untuk mengubah budaya kerja demi menekan biaya operasi. Total di seluruh wilayah kerjanya yang tersebar di seluruh dunia menerapkan program Change culture, Compete On Cost and Deliver (4C&D).

"Kita mau ubah kultur budaya tentang biaya-biaya ini supaya cost lebih kompetitif," kata Novi.
Dia mengungkapkan pengubahan budaya kerja tersebut diantaranya adalah  pemilihan cara kerja dan komponen kegiatan operasi yang lebih efisien namun masih mempertimbangkan aspek keselamatan.

Ia menambahkan, Total juga melakukan penghematan dalam menggunakan kertas. Hal tersebut sangat erfektif menekan biaya. Dia menyebutkan, dalam sekitar dua tahun penghematan kertas Total Indonesia hampir mencapai US$ 1 juta.

"Jadi kalau di Total mau print harus pakai batch (identitas pribadi). Jadi per orang ketahuan," tuturnya.

Meski harga minyak dunia turun, Total berkomitmen untuk menjaga produksi tetap stabil sehingga dapat mencapai target yang telah ditetapkan pemerintah.

"Total ingin memproduksi lebih baik dari yang ditargetkan dan itu adalah bagian dari komitmen kita," pungkasnya. (liputan6.com/eykel lasflorest/lasman)
foto :illustrasi/google

eMaritim.Com
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
Comments
0 Comments
close
Banner iklan disini