Antrian Kapal dan Pelayanan Pelabuhan Belum Maksimal ,Berdampak Pengeluaran Biaya Perusahaan Pelayaran -->

Iklan Semua Halaman

Antrian Kapal dan Pelayanan Pelabuhan Belum Maksimal ,Berdampak Pengeluaran Biaya Perusahaan Pelayaran

Pulo Lasman Simanjuntak
05 Februari 2016
Jakarta, eMaritim.com – Pelayanan yang belum maksimal dan antrian kapal sandar pada pelabuhan merupakan hal yang paling ditakuti bagi pelaku usaha pelayaran.

Hal ini dibahas oleh Director Commercial and Operation, PT Baruna Adiprasetya, Capt. William Tumanggor M. Mar MM yang mengungkapkan adanya penambahan biaya yang besar jika terjadi keterlambatan bersandar dan waktu sandar kapal yang lama.

Capt. William mengungkapkan bahwasannya antrian sandar kapal di pelabuhan merupakan hal yang sudah lama terjadi dalam bidang usaha pelayaran dan biasanya diakibatkan oleh hal hal yang berkaitan, seperti operator pelabuhan atau pemerintah sebagai pengelola dan pengatur penyandraan kapal, pemilik muatan (shipper), penerima muatan (cosignee), dan pemilik kapal (ship owner).

Antrian kapal, masih kata Capt.William, sampai dengan saat ini sudah sampai ke tingkat yang parah dan krusial. Bahkan dapat dikatakan kebanyakan pelabuhan di Indonesia antrian kapal sudah kritikal.
Dimana satu hal yang menyebabkan antrian itu adalah infrastruktur terutama dengan terbatasnya ketersediaan space kapal yang ada, dan juga bertambahnya  jumlah kapal-kapal yang dimiliki oleh pengusaha kapal di Indonesia.

" Bisa dibayangkan coba, dengan lahan sandar di pelabuhan yang sudah tidak mencukupi tapi kapal semakin bertambah,” kata Capt. William Tumanggor kepada wartawan emaritim.com saat di hubungi melalui via telepon, Jum’at, (5/2/2016).

Dirinya juga mengungkit masalah pelayanan pelabuhan yang belum maksimal terkait dengan service yaitu tenaga kerja bongkar muat (tkbm), sarana trucking, sarana gudang, dan tak luput dari masalah jam kerja buruh yang tidak maksimal.

"Pelayanan yang tidak maksimal seperti ini yang selalu saya pikirkan akan sebab dan akibatnya bagi perusahaan (pelayaran),"katanya.

Dampak biaya yang besar

Menurutnya, cost harian kapal (daily running cost atau DRC) akan membengkak. Kaitan di dalam DRC yang dimaksud adalah biaya direct cost seperti maintenance, spare parts, lube oil, depresiasi dan juga finansial cost yang masih tinggi. Kemudian biaya bahan bakar minyak yang masih belum turun mengikuti turunnya harga minyak dunia dan biaya-biaya tak terduga seperti yang ada di pelabuhan.

"Yang saya permasalahkan adalah masalah perijinan, perpanjangan surat kapal yang mati masih memakan biaya yang tinggi (harga perpanjang surat kapal yang mati), dan juga biaya intangible," tuturnya.

Sebagai pemilik kapal, masih kata Capt. William, sebelum melakukan perjalanan dari satu pelabuhan ke pelabuhan  yang lain kami selalu melakukan kalkulasi perhitungan voyage account (dimana di dalam perhitungan tersebut akan diketahui dengan freight atau muatan kargo yang akan dilaksanakan itu mendapatkan keuntungan atau kerugian).

"Di dalam perhitungan itu semua komponen yang ada sudah dimasukkan apa yang disebut dengan DRC (daily running cost), tapi jangan lupa disitu juga termasuk komponen pemakaian bahan bakar minyak,"kilahnya.

Dia juga menambahkan dengan adanya kongesti dan antrian kapal yang tinggi atau lama, maka pihak yang bergerak dibidang perusahaan pelayaran akan menderita secara langsung . (Rhp)