» » » » Kenapa pembajakan kapal terjadi lagi ?

Jakarta 24 Juni 2016 - eMaritim.com

Kejadian pembajakan yang kembali terulang di perairan Filipina selatan terhadap Tug Boat Charles menarik perhatian eMaritim untuk mengulasnya secara mendetail.
Diharapkan ini menjadi perhatian pihak berwajib untuk mencegah hal tersebut terjadi lagi.

Perdagangan antar pulau dari pelabuhan pelabuhan di selat Makassar ke arah utara memang sudah ada sejak zaman dahulu kala. Pelabuhan pelabuhan seperti Samarinda,Balikpapan,Tarakan dan Makassar banyak menghasilkan komoditas yang di ekspor ke negara negara Filipina, Taiwan,Korea dan Jepang.

Rute yang paling dekat dan aman dari gangguan cuaca adalah berlayar dari pelabuhan pelabuhan tersebut kearah utara, melewati kepulauan Mindanao di selatan Filipina dan Selanjutnya melewati kepulauan Visayas di Filipina tengah.
Dengan armada kapal Tug boat bertenaga 2000 sampai 2400 HP , apabila menarik tongkang bermuatan 5000 sampai 8000 ton maka kecepatan yang didapat adalah sekitar 4 sampai 5 knot saja atau setara dengan 7 sampai 9 km per jam nya.
Kecepatan seperti itu sama dengan kecepatan manusia dewasa berjalan kaki alias sangat mudah di sergap oleh speed boat yang berkecepatan 20 sampai 30 knots.

Dengan ketinggian lambung kapal dari permukaan air yang hanya 1 sampai 2 meter, akan sangat mudah bagi siapapun untuk meloncat keatas kapal.
Maka tidak heran apabila kapal kapal Tug boat yang menarik tongkang menjadi target empuk untuk dibajak.

Lalu kenapa tidak mengambil jalur lain? Secara desain kapal kapal sejenis tug boat hanya memiliki tangki bahan bakar sebanyak 50 sampai 70 meter kubik, sehingga apabila mereka harus memutar menyusur selatan Kalimantan dan berputar kearah utara di barat Kalimantan maka persediaan bahan bakar tidak akan cukup untuk sampai ke tujuan.
Besarnya biaya untuk membeli bahan bakar di tengah jalan,ditambah ganasnya ombak di perairan Laut Cina Selatan membuat pilihan ini seperti buah simalakama.

Beberapa usul pernah diutarakan berbagai pihak mengenai keselamatan pelayaran di perairan tersebut,termasuk diantaranya menempatkan pasukan bersenjata diatas kapal. Ide ini dilontarkan dalam seminar keselamatan pelayaran yang digagas Institut Keamanan dan Keselamatan Maritim Indonesia beberapa bulan lalu.

Sementara itu penasehat DPP INSA Oentoro Surya dan Sekjend INSA Budhi Halim mengatakan bahwa cara terbaik adalah melakukan apa yang sudah pernah Indonesia lakukan bersama sama Malaysia dalam menumpas perompak di Selat Malaka yang dahulu menjadi momok pelayaran di area tersebut.
Penempatan kapal kapal patroli di daerah rawan terbukti ampuh melindungi kapal dari sergapan pelaut

Mungkin sudah saatnya pemerintah Indonesia bekerjasama dengan pemerintah Filipina dan Malaysia untuk membuat joint task force di kepulauan Sulu yang memang rawan.
Ketakutan mengenai kekuatan pasukan Abu Sayyaf semestinya tidak berlaku diatas air,karena mereka tidak memiliki kapal yang lebih besar daripada speed boat tradisional.

Sepertinya dibutuhkan keinginan kuat pihak angkatan laut negara ini untuk segera bekerja sama dengan pihak coast guard Filipina dan Malaysia untuk segera mengamankan area tersebut.
Diharapkan dengan penempatan kapal patroli bersenjata berat akan membuat perompak takut melakukan aksinya.(emaritim-zah)

eMaritim.Com
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
Comments
0 Comments
World Maritime Day 2017: "Connecting Ships, Ports and People"

close
Banner iklan disini