» » » Arah kebijakan maritim Indonesia

Jakarta 17 September 2016.

Apakah yang dimaksud dengan pattern Ship follows the trade, port grows after the ship?

Pernahkah terbayang bagaimana pelayaran dunia terjadi dimasa sebelum revolusi industri booming di benua eropa?
Lalu apa peran kapal niaga terhadap industri dan juga peran pelabuhan pelabuhan di masa itu?

www.emaritim.com menulis apa yang menjadi pemikiran Capt Zaenal Arifin Hasibuan selaku pemimpin media online ini untuk dicari korelasinya terhadap perkembangan dunia maritim di Indonesia.

Bahwa kapal niaga/merchant ship membutuhkan muatan untuk menghidupi kebutuhan nya dan untuk kelangsungan bisnisnya adalah sesuatu yang tidak bisa dipungkiri. 

Dimanapun  ada industri yang membutuhkan daya angkut besar dan murah dalam distribusinya,maka kapal niaga/kapal cargo akan hadir secara natural.

Besar kecilnya kapal akan menyesuaikan dengan letak geografis dari tempat dia mengangkut muatan/penumpang dan tentunya selaras dengan berapa besar ruang muat yg dibutuhkan industri ditempat itu.

Keadaan ideal untuk sebuah industri pelayaran niaga adalah dimana kemampuan angkut kapal dan tersedianya muatan untuk kapal berada pada porsi seimbang.

Terlalu banyak kapal dibanding muatan akan berdampak kepada persaingan freight yang keras yang bisa menimbulkan keadaan para saudagar kapal saling banting harga dan seleksi alam akan menyisakan sedikit pemenang sementara yang kalah akan gulung tikar.

Sementara terlalu banyak muatan dibanding kapal akan memicu naiknya harga freight muatan , disisi lain ini juga akan berdampak kepada munculnya kapal kapal baru dan berkembangnya industri maritim di suatu tempat.

Di Indonesia dimana 80% industrinya masih terpusat di pulau Jawa dan Sumatra,bisa dipastikan bahwa mengirim muatan dari Jawa ke Sumatra atau sebaliknya akan dengan mudah mencari kapal pengangkutnya dengan biaya yang murah.

Kenapa begitu ?karena kapal memiliki muatan pergi dan pulang yang berarti mendapat uang sewa bolak balik.

Sementara apabila mengirim barang dari Jawa/Sumatra ke pulau yang tidak ada muatan baliknya maka bisa dipastikan harga sewa kapal akan sangat mahal. Ini akan berdampak langsung kepada harga jual barang barang itu di pulau tersebut.

Pemahaman dunia maritim yang sehat haruslah dilihat dari kacamata bisnis yang murni ; adanya bisnis antar pulau/negara akan membutuhkan kapal , semakin kompleks kegiatan bongkar muat di suatu tempat maka akan memicu tumbuhnya pelabuhan. Itulah pemahaman Ship follows the trade, port grows after the ship.

Bangunlah sebuah industri disebuah pulau terpencil,maka efek efek ini akan muncul secara natural : 

1.Adanya orang bekerja di pabrik/industri maka akan timbul kebutuhan hidup mereka yang akan didatangkan dari pulau lain menggunakan kapal.

2. Dengan adanya industri di pulau tersebut maka kapal yang membawa kebutuhan logistik itu akan pulang membawa muatan hasil industri.

Jadi apabila sebuah negara dengan budget terbatas seperti Indonesia ingin memberikan subsisi untuk memajukan industri maritimnya,kira kira ke mana arah subsidi yang tepat ?

Membuat pelabuhan kah ? memberikan subsidi ke bidang perkapalan atau membuat pabrik pengolahan hasil bumi di pulau2 yg dianggap tertinggal ?

Dalam alam yang sederhana kapal bisa melakukan bongkar muat tanpa adanya pelabuhan, seperti yang masih dilakukan di beberapa tempat sampai saat ini.

Kapal akan selalu bisa dibangun berbagai bentuk mengikuti keadaan geografis tempat dia beroperasi atau sesuai fungsinya. Dan kapal niaga hanya akan hidup apabila memiliki muatan/ sewa yang memadai.

Apabila bisnis lancar,kapal akan bermunculan,swasta pun tidak keberatan membangun pelabuhan apabila kunjungan kapal memadai.

Lalu bagaimana dengan kebijakan pemerintah membangun pelabuhan pelabuhan ditengah krisis dunia pelayaran dimana hampir 40 persen kapal Indonesia menganggur?(janno)

eMaritim.Com
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
Comments
0 Comments
World Maritime Day 2017: "Connecting Ships, Ports and People"

close
Banner iklan disini