» » » Seluruh ABK Selamat Dalam Kecelakaan Dua Kapal Ini

Foto Ilustrasi
Jakarta, eMaritim.com- Tenggelamnya kapal KM Sinar Mutiara dan Kapal berbendera Malaysia TB Lom Kim Chuan 118 di perairan Indonesia dipastikan tak ada korban jiwa.

Kecelakaan Kapal KM Sinar Mutiara

Tenggelamnya KM Sinar Mutiara telah dilaporkan secara resmi oleh Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (KUPP) Telaga Biru Bangkalan, Madura kepada Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kemenhub.

Adapun kapal tersebut dilaporkan tenggelam di perairan Utara Madura kurang lebih 18 NM Utara Ketapang pada 5 Desember 2016 sekitar pukul 04.30.

Kapal berbobot 50 GT dinakhodai Ali Imron sesuai manifest mengangkut sembilan orang anak buah kapal (ABK), pegawai ternak enam orang, dan ditambah 11 orang pegawai tambahan.

"Kapal membawa 141 ekor Sapi dan 710 ekor kambing," jelas KUPP Telaga Biru Abdullah Hadi dalam laporan resminya, Selasa (6/12/2016).

Kapal dibawah PT Makmur Berkat Jaya, Telaga Biru, bertolak dari Pelabuhan Telaga Biru setelah mendapatkan Surat Persetujuan Berlayar (SPB) pada pukul10.30 dengan pelabuhan tujuan Banjarmasin.

Sebelum kapal tenggelam, menurut Abdullah, Nakhoda sempat menghubungi keluarganya melalui telepon, agar dikirimkan bantuan, karena kapal akan tenggelam dan menginformasikan posisi kapal berada di pengeboran Bukit Tua, Terminal Ketapang.

"Sekitar pukul 17.00, kapal tidak bisa dihubungi baik melalui sambungan telepon maupun radio. Kami langsung berkoordinasi dengan Bukit Tua untuk lakukan SAR berkoordinasi dengan Basarnas dan BNPBD," ujar Abdullah.

Pada (6/12) sekitar pukul 08.00, Nakhoda menghubungi keluarga melalui sambungan telepon, mengabarkan bahwa semua awak kapal selamat dan ditolong oleh kapal nelayan serta dievakuasi ke KLM Purnama Haji yang melintas dari Banjarmasin menuju Telaga Biru.

"Pukul 12.00 Kapal Purnama Haji tiba di Pelabuhan Telaga Biru beserta seluruh awak kapal dengan selamat," tutur Abdullah.

Namun begitu, seluruh angkutan ternak ikut tenggelam bersama kapal. Tidak ada dampak pencemaran laut dari kejadian itu.

"Dugaan sementara, kapal tenggelam dampak angin dan hujan kencang disertai ombak tinggi," kata Abdullah. ‎

Kecelakaan Kapal Lom K Chuan

Kapal berbendera Malaysia TB Lom Kim Chuan 118 yang tenggelam di laut sekitar TSS batas perairan Batam-Malaysia pada Senin Malam (5/12/2016), diduga terjadi lantaran dihantam ombak dan angin di lambung kanan.

Direktur Jenderal Perhubungan Laut, Ir. A. Tonny Budiono, MM menyebutkan bahwa Kapal berjenis tongkang/kapal tunda itu mengangkut sembilan orang termasuk Nakhoda Capt. Donnald R J. Oley.

"Kapal tersebut membawa 95 kontainer dan tujuh voith paper," ungkap Tonny.

Kapal berlayar dari pelabuhan Port Klang, Malaysia pada 2 Desember 2016 sekitar pukul 10.00 setempat dengan rute pelabuhan tujuan RAPP buatan Sungai Siak Pekanbaru.

"Dari kecelakaan tersebut, semua awak dan Nakhoda selamat. Tugboat dan barge juga dapat diselamatkan sedangkan angkutan barangnya yakni 60 kontainer jatuh ke laut beserta enam voith paper, " kata Tonny.

Adapun kronologis kejadian kecelakaan tersebut adalah pada saat kapal melakukan penyeberangan TSS tiba-tiba angin kencang datang dari arah Barat, tepat di lambung kanan. Nakhoda berusaha putar haluan namun tidak bisa karena kepadatan lalu lintas laut pada saat itu.

Selesai melakukan crossing, tongkang terlihat miring dan saat dicek ternyata beberapa angkutan sudah jatuh ke laut.

"Kapal langsung berubah haluan ke pulau Rupat untuk berlindung, namun sebagian barang bawaan tidak bisa diselamatkan, karena keadaan kapal miring," tutur Tonny.

Dengan kejadian tersebut, tidak ada korban jiwa dan seluruh awak dipastikan selamat. Adapun lalulintas pelayaran di kawasan tersebut tetap normal dan berlaku seperti biasanya.

Perhatikan Laporan Cuaca

Tonny Budiono menyayangkan terjadinya dua kecelakaan laut tersebut. Dengan adanya kejadian tersebut, Tonny menyampaikan agar para Nakhoda memperhatikan laporan kondisi cuaca di setiap melakukan pelayaran. " Saya menyayangkan kecelakaan laut terjadi lagi karena faktor cuaca. Untuk itu, saya minta agar Nakhoda kapal harus memperhatikan laporan cuaca yang dikeluarkan oleh BMKG agar kejadian serupa tidak terulang lagi," tegas Tonny.

Sekali lagi, keselamatan pelayaran harus menjadi tanggung jawab bersama, Regulator, Operator dan pengguna jasa harus bersinergi dalam mewujudkan keselamatan pelayaran tanpa kompromi.

eMaritim.Com
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
Comments
0 Comments
World Maritime Day 2017: "Connecting Ships, Ports and People"