» » » Kepala Kesyahbandaran Utama Makasar Hadiri Peresmian Nama Kodam XIV Hasanuddin






Makassar, eMaritim.com – Kepala Kantor Kesyahbandaran Utama Makassar, Capt Sahattua P, Simatupang, MM, MH.  Menghadiri upacara peresmian pergantian nama Kodam VII Wirabuana menjadi Kodam XIV Hasanuddin yang berlangsung di lapangan Karebosi Makassar Sulawesi Selatan, Rabu (12/04/2017).

Hadir dalam peresmian nama Kodam XIV Hasanuddin ini, Pangkostrad, Gubernur Sulawesi Selatan, Gubernur Sulawesi Tenggara, Gubernur Sulawesi Barat, Pangdam se-Indonesia, ketua DPRD Sulsel, Kapolda Sulsel Irjen Pol Muktiono, Wali Kota Makassar Ramdhan Pomanto, para tokoh agama dan masyarakat se-Sulsel. Terlihat juga seperti Danlantamal, Koopsau, Syahbandaar Makassar, dan Jajaran Pelabuhan Makassar serta instansi lainnya.

Nama Kodam XIV/Hasanuddin pernah digunakan sebelum peleburan Kodam Hasanuddin di Sulawesi Selatan dan Kodam Merdeka di Sulawesi Utara pada Februari 1985 silam.

Nama Sultan Hasanuddin sendiri  merupakan Raja Gowa ke-16 dan pahlawan nasional Indonesia yang terlahir dengan nama I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape yang berjuang melawan penjajahan Belanda dan telah mendapat gelar pahlawan nasional.

Launching pergantian nama Kodam VII Wirabuana menjadi Kodam XIV Hasanuddin diwarnai dengan aksi 17 penerjun dari prajurit TNI AD. Beberapa diantara mereka membawa bendera Merah Putih, bendera bertuliskan TNI Kuat Bersama Rakyat, Bendera Kodam XIV Hassanudin, Bendera TNI, Bendera bergambar Sultan Hasanuddin.


Sejarah tentang Nama Raja Sultan Hasanuddin atau Raja Gowa

Pada tahun 1666, di bawah pimpinan Cornelis Speelman. Laksamana Cornelis Speelman, Kompeni berusaha menundukkan kerajaan-kerajaan kecil, tetapi belum berhasil menundukkan Kerajaan Gowa|Gowa. Di lain pihak, setelah Sultan Hasanuddin naik takhta, ia berusaha menggabungkan kekuatan kerajaan-kerajaan kecil di Indonesia bagian timur untuk melawan Kompeni.

Pertempuran terus berlangsung, Kompeni menambah kekuatan pasukannya hingga pada akhirnya Kerajaan Gowa, Gowa terdesak dan semakin lemah sehingga pada tanggal 18 November1667 bersedia mengadakan Perdamaian Bungaya di Bungaya.

Gowa merasa dirugikan, karena itu Sultan Hasanuddin mengadakan perlawanan lagi. Akhirnya pihak Kompeni minta bantuan tentara ke. Batavia. Pertempuran kembali pecah di berbagai tempat. Sultan Hasanuddin memberikan perlawanan sengit. Bantuan tentara dari luar menambah kekuatan pasukan Kompeni, hingga akhirnya Kompeni berhasil menerobos benteng terkuat Gowa yaitu Benteng Sombaopu pada tanggal 12 Juni 1669. Sultan Hasanuddin kemudian mengundurkan diri dari takhta kerajaan dan wafat pada tanggal 12 Juni 1670.(hp)



eMaritim.Com
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
Comments
0 Comments
close
Banner iklan disini