Dari Kelas ke Dunia Nyata: Lilin Tua Terapkan Metode CTL dalam Pelatihan Maritim Ramah Lingkungan di STIMAR AMI

Iklan Semua Halaman

Dari Kelas ke Dunia Nyata: Lilin Tua Terapkan Metode CTL dalam Pelatihan Maritim Ramah Lingkungan di STIMAR AMI

Ananta Gultom
02 Oktober 2026

 


Jakarta, 1 Oktober 2026 — Dunia pendidikan maritim dituntut terus beradaptasi dengan perubahan industri pelayaran yang semakin mengarah pada efisiensi energi, digitalisasi dan pengurangan emisi. Tantangan tersebut menjadi perhatian dalam Pelatihan Maritim Ramah Lingkungan: Integrasi Zero Carbon, GREENSHIP dan Green Port yang digelar di STIMAR AMI, Kamis, 1 Oktober 2026.

 

Pelatihan menghadirkan Bas Suparwo, yang dikenal luas dengan panggilan “Lilin Tua”, seorang praktisi dan influencer YouTube di bidang pendidikan permesinan kapal. Dalam pelatihan ini, Lilin Tua tidak hanya menyampaikan materi secara konvensional, tetapi menerapkan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL).

 

Direktur STIMAR AMI, Capt. Albert Lapian

CTL merupakan metode pembelajaran yang menghubungkan materi yang dipelajari dengan situasi nyata yang dihadapi peserta dalam kehidupan maupun dunia kerja. Dengan metode ini, peserta tidak hanya menerima teori, tetapi diajak memahami sebuah persoalan, berdiskusi, mencari hubungan dengan bidang masing-masing, kemudian menemukan solusi secara bersama-sama.

 

Lilin Tua Bas Suparwo

Pendekatan tersebut terasa dalam pelatihan ketika peserta dari berbagai program studi digabungkan untuk membahas kasus yang berkaitan dengan tantangan maritim ramah lingkungan.

 

Peserta tidak hanya duduk mendengarkan pemaparan. Mereka terlibat dalam diskusi lintas disiplin, saling memberikan pandangan berdasarkan bidang keilmuan masing-masing, hingga akhirnya mencoba merumuskan solusi terhadap persoalan yang diberikan.

 


Pelatihan diikuti oleh peserta dari berbagai program studi di STIMAR AMI, yaitu:

  • Diploma III Nautika
  • Diploma III Teknika
  • S1 Bisnis Maritim
  • S1 Logistik
  • S1 Rekayasa Transportasi Laut

 

Komposisi peserta lintas program studi tersebut menjadi bagian penting dari penerapan CTL. Persoalan lingkungan dalam industri maritim memang tidak dapat diselesaikan hanya dari satu disiplin ilmu.

 

Kapal, misalnya, membutuhkan efisiensi mesin dan energi. Dari sisi nautika diperlukan optimalisasi pelayaran dan pengoperasian kapal. Sementara itu, bidang logistik, bisnis maritim dan transportasi laut harus mempertimbangkan efisiensi rantai transportasi, pelabuhan serta dampak lingkungan.

 


Dengan demikian, konsep Zero Carbon, GREENSHIP dan Green Port diperkenalkan bukan sebagai istilah yang berdiri sendiri, tetapi sebagai bagian dari sebuah ekosistem maritim yang saling terhubung.

 

Mempersiapkan Pelaut Menghadapi Industri Masa Depan

Direktur STIMAR AMI, Capt. Albert Lapian, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya mempersiapkan lulusan menghadapi tantangan industri maritim di masa depan.

 

Menurutnya, lulusan tidak hanya dituntut mampu menjalankan tugas secara profesional, tetapi juga perlu memiliki wawasan mengenai perkembangan teknologi, efisiensi energi dan tuntutan dekarbonisasi industri pelayaran.

 

Para lulusan diharapkan mampu menjadi tenaga profesional yang dapat mengoperasikan kapal secara aman, efisien energi, rendah emisi, serta mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan regulasi dekarbonisasi IMO.

 

Selain memperoleh pengetahuan baru, peserta juga mendapatkan Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI) setelah menyelesaikan pelatihan.

 

Belajar dengan Cara yang Berbeda

Suasana pelatihan menjadi semakin menarik ketika peserta dari berbagai program studi larut dalam diskusi untuk menyelesaikan sebuah kasus.

 


Di sinilah pendekatan CTL terlihat berbeda dibandingkan metode pembelajaran satu arah.

 

Peserta tidak langsung diberikan jawaban. Mereka justru diarahkan untuk berpikir, bertanya, berdiskusi, menghubungkan teori dengan kondisi nyata, kemudian menyusun solusi.

 

Model seperti ini sekaligus memperkenalkan pola kerja yang akan mereka hadapi di dunia maritim.

 

Di kapal maupun di pelabuhan, sebuah persoalan jarang dapat diselesaikan oleh satu bagian saja. Nakhoda, perwira dek, perwira mesin, operator pelabuhan, bagian logistik dan manajemen harus mampu berkomunikasi dan bekerja dalam satu sistem.

 

Karena itu, pembelajaran lintas disiplin menjadi semakin relevan bagi calon tenaga profesional maritim.

 

Ditutup dengan Uji Kompetensi

Pada akhir pelatihan, peserta mengikuti tes multiple choice untuk mengukur pemahaman terhadap materi yang telah diberikan.

 

Dari hasil tes tersebut dipilih tiga peserta dengan nilai tertinggi sebagai peraih skor terbaik.

 

Kegiatan tersebut menjadi penutup yang menarik setelah sebelumnya peserta mendapatkan pengalaman belajar melalui diskusi dan pemecahan kasus secara bersama-sama.

 

Berlanjut ke Program Eskul Taruna Teknika

Pelatihan ini tidak berhenti sebagai kegiatan satu hari.

 

STIMAR AMI bersama Lilin Tua Bas Suparwo juga merencanakan program lanjutan dalam bentuk proyek khusus bagi Taruna Pra-Prala Jurusan Teknika yang akan dikembangkan sebagai kegiatan ekstrakurikuler.

 

Program tersebut diharapkan menjadi ruang bagi taruna untuk belajar lebih jauh melalui praktik dan proyek nyata, khususnya yang berkaitan dengan permesinan kapal, efisiensi energi, teknologi ramah lingkungan dan perkembangan industri maritim masa depan.

 

Langkah tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pendidikan maritim tidak cukup hanya mempersiapkan taruna untuk lulus ujian dan memperoleh ijazah.

 

Mereka juga harus dipersiapkan untuk menghadapi perubahan industri.

 

Sebab, ketika dunia pelayaran bergerak menuju dekarbonisasi dan net-zero, generasi pelaut yang akan berada di atas kapal beberapa tahun mendatang adalah mereka yang saat ini masih duduk di bangku pendidikan.

 

Dan dari ruang kelas itulah perubahan tersebut mulai dipersiapkan.

 

eMaritim.com — Maritime Experts Speak.