» » » Tahun 2021 Sebanyak 29 Blok Migas Habis Kontraknya, Pertamina Bisa Seperti Petronas

Surabaya,eMaritim.Com,- PT Pertamina diminta meningkatkan partisipasinya dalam pengelolaan hulu migas di Tanah Air. Sejumlah kalangan menilai, kontribusi BUMN bidang energi yang baru 20 persen itu, masih sangat tidak sebanding dengan Petronas di Malaysia yang bahkan sudah menguasai hingga 60 persen pengelolaan migas di negaranya sendiri.

Menurut pengamat energi, Aan Prayoga, tingginya partisipasi Petronas di negeri jiran itu harus menjadi acuan Pertamina agar bisa menjadi tuan rumah di negaranya sendiri.

 ”Pertamina harus meningkatkan partisipasinya yang masih terlalu minim itu,” ujarnya di sela seminar nasional di Surabaya, Jum’at (20/3/2015), sepeti disiarkan HU.Suara Karya, Senin (23/3/2015).

Pihaknya berharap, minimal dalam lima tahun ke depan, perusahaan plat merah itu sudah bisa mulai mengambil alih pengelolaan blok migas yang masih dikuasai asing.

Dalam rentang waktu tersebut, dia mencatat ada 29 blok migas di seluruh Indonesia yang akan habis masa kontraknya pada 2021 mendatang.

Untuk jangka pendek, pihaknya berharap Pertamina bisa mengambil alih Blok Mahakam yang masa kontraknya berakhir dalam dua tahun ke depan. Dia menjelaskan bahwa kontrak bagi hasil blok Mahakam ditandatangani pada 1967, dan diperpanjang pada 1997 untuk jangka waktu hingga 2017.
Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang menggarap Blok Mahakam itu adalah Total yang berpartner dengan Inpex dengan share 50%-50%. Untuk hal tersebut, Pertamina dituntut segera mempersiapkan modal.

Pada bagian lain, Kepala Humas SKK Migas Pusat, Rudianto Rimbono menjelaskan pentingnya kajian mendalam dan penerapan teknologi modern untuk mendapatkan hasil produksi migas lebih maksimal. Pihaknya juga menggambarkan sulitnya mengantisipasi produksi minyak yang cenderung menurun, bila belum menemukan cadangan migas yang baru.

Di sisi lain, dia memastikan sampai saat ini potensi migas di Indonesia belumlah kering sepenuhnya. Bahkan masih banyak cadangan migas yang terkurung dalam batuan perut bumi baik di onshore maupun offshore.

Tapi diakui, di masa lalu Indonesia masih bisa menjadi pengekspor crude oil atau minyak mentah dan gas LNG, karena sumber Migas itu masih ditemukan di permukaan kerak bumi yang dangkal. ”Tapi sekarang, migas kita itu tinggal yang berada jauh di bawah kedalaman bumi,” ujarnya.

Pihaknya optimis, ke depan bisnis migas di Indonesia bisa menjadi tumpuan. Karena upaya eksplorasi yang terus dilakukan menjadikan dana yang diinvestasikan untuk memproduksi migas, lebih besar dibandingkan cost recovery-nya.

Pada tahun lalu, dana untuk eksplorasi migas mencapai Rp 200 triliun. ”Dari jumlah tersebut, separuh di antaranya terserap oleh pengusaha migas nasional,” ujarnya.
(siman/juntak)

eMaritim.Com
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
Comments
0 Comments
close
Banner iklan disini