» » » » » Bajak Laut di Perairan Asia Tenggara

Jakarta 02 April 2016,www.emaritim.com

Berita mengenai dibajaknya kapal Tug Boat Brahma 12 beserta Tongkang Anand 12 dan ke 10 awak kapal berkebangsaan Indonesia oleh Kelompok garis keras Abu Sayyaf di Filipina Selatan meninggalkan begitu banyak pertanyaan bagi dunia pelayaran Indonesia dan juga khalayak umum.
Belum lepas dari ingatan kita mengenai pembajakan Kapal Sinar Kudus oleh pembajak Somalia dan drama pembebasan awak kapalnya,kini satu lagi kapal Indonesia menjadi korban beserta awak kapalnya.
Apakah memang kapal sangat rentan terhadap aksi pembajakan?juga apakah daerah tersebut merupakan daerah yang rawan untuk dilalui kapal kapal niaga?
Lalu pertanyaan yang lebih banyak datang dari khalayak umum adalah,dimana saja daerah yang rawan untuk dilayari oleh kapal kapal niaga?
emaritim.com mengulas daerah daerah yang terkenal dengan perompak nya di,dunia pelayaran.

Jika ditilik dari jumlah pembajakan kapal seluruh dunia dibanding tahun tahun sebelumnya , sebenarnya terjadi penurunan jumlah kejadian setiap tahunnya.
Sebagai gambaran jumlah pembajakan atau perompak diatas kapal pada tahun 2014 adalah sebanyak 21 kejadian pembajakan yang dilaporkan dengan jumlah sandera sebanyak 442 pelaut .
Lalu pada tahun 2015 jumlah tersebut sedikit menurun menjadi 15 kejadian pembajakan yang dilaporkan dengan jumlah sandera sebanyak 271 pelaut .
Penurunan ini bisa terjadi sebenarnya karena intensifnya Indonesia dan Malaysia bekerja sama menjaga Selat Malaka yang selama beberapa dekade menjadi daerah yang paling rawan akan aksi perompak di dunia .
Secara garis besar,negara negara yang perairannya rawan kejadian pembajakan kapal adalah;Nigeria,Somalia,Indonesia,India,Tanzania dan Peru.

Wilayah yang paling banyak dilaporkan terjadi pembajakan dan juga pencurian diatas kapal adalah wilayah Asia Tenggara dengan total jumlah kejadian dilaporkan sebanyak 137 kejadian(data 2015),menyusul perairan Afrika dengan 52 kejadian(data 2015) besar dan kecil.Daerah daerah lain diluar Asia Tenggara dan Afrika hanya mencatat sejumlah kecil kejadian yang juga dalam kategori low level piracy atau perompak tidak terorganisir.
Dasar dari tingginya kejadian perompakan dan pembajakan di daerah Asia Tenggara lebih banyak di sebabkan oleh idealnya daerah tersebut untuk aksi aksi pembajakan.
Dengan banyaknya alur dangkal dan pulau pulau kecil di Selat Malaka, daerah ini selalu menjadi momok yang menakutkan bagi kapal kapal yang melewatinya.Dalam beberapa dekade aksi pembajakan kapal selalu mencatatkan rekor tertinggi dibanding daerah manapun di dunia.
Bajak laut yang beroperasi di Selat Malaka bukan hanya datang dari Indonesia saja,tetapi dari kelompok kelompok terorganisir dari berbagai belahan dunia.
Bergesernya aksi pembajakan ke wilayah selatan Filipina juga sebenarnya disebabkan oleh faktor geografis daerah tersebut yang memiliki banyak pulau pulau ditambah dengan meruncingnya pertikaian pemerintah dengan kelompok separatis Abu Sayyaf.

Negara tetangga tersebut memiliki 3 gugusan pulau yang biasa disingkat sebagai Luz Viminda atau Luzon di Utara,Visayas di tengah dan Mindanao di selatan.
Meningkatnya ketegangan antara pemerintah pusat Filipina yang berpusat di Luzon dengan kelompok separatis di selatan atau kepulauan Mindanao berekses kepada pembajakan kapal sebagai upaya kelompok separatis mendapatkan dana mempersenjatai diri melawan pemerintah pusat .

Pembajakan kapal selalu meninggalkan dilema untuk pelaut dan para pemilik kapal yang disandera.Besarnya tebusan yang diminta dan ancaman pembunuhan terhadap para pelaut mau tidak mau harus mendapatkan perhatian khusus pemerintah.
Ditengah lesunya iklim usaha perkapalan,kejadian ini semakin memperparah derita pelaut dan pemilik kapal dalam menjalankan tugas yang di embannya.
Tuntutan untuk dibentuknya Coast Guard di Indonesia sudah bertahun tahun tidak menemui jalan terang,dikarenakan beberapa instansi merasa keberatan akan kehilangan kekuasaan atas dunia pelayaran yang semestinya sama sama dilindungi.
Semangat Pemerintah Indonesia untuk menjadikan Maritim sebagai tulang punggung ekonomi bangsa mendapat ujian yang berat,tetapi tidak seberat derita pelaut yang sudah mulai kesulitan mencari pekerjaan diatas kapal dan juga beratnya pengusaha pelayaran yang terbeban rendahnya harga sewa kapal dan tingginya bunga bank di negara ini.

Semoga para pelaut yang di sandera bisa kembali berkumpul dengan keluarganya dan pemerintah semakin mengerti bahwa menjadikan negara maritim yang kuat tidak cuma soal tol laut,tetapi ada hal pembajakan kapal,soal nasib pelaut Indonesia dalam kaitannya dengan ratifikasi MLC dan juga serbuan kapal kapal negara tetangga dalam era MEA.(zah)

eMaritim.Com
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
Comments
0 Comments
World Maritime Day 2017: "Connecting Ships, Ports and People"

close
Banner iklan disini