» » Profil Nakhoda; Captain Salim Rasyid

Jakarta 4 September 2016,www.emaritim,com

Menyambut IMO World maritime day yang akan diselenggarakan pada tanggal 29 September 2016,www.emaritim,com mengangkat profil seorang Nakhoda yang hidup dan kesehariannya sangat kental dengan dunia pelayaran.
Tidak dapat dipungkiri bahwa peran Nakhoda diatas kapal tidak hanya sebatas sebagai pemimpin yang membawahi para awak kapal,tetapi jauh dari pada itu juga sebagai perwakilan dari perusahaan,sebagai pejabat notarial,sebagai pemegang kewibawaan,perwakilan negara kebangsaan kapalnya dan banyak lagi.

 Semua tugas itu membuat Posisi Nakhoda menjadi sangat krusial dan tidak bisa diberikan kepada sembarang orang,biasanya perusahaan kapal bonafide akan sangat selektif dalam mengangkat seorang Nakhoda.

Secara khusus www.emaritim.com  mewawancarai Captain Achmad Salim Rasyid, seorang Nakhoda yang sudah memulai kehidupan sebagai Perwira muda di tahun 1985. Dia adalah sosok yang setia menggeluti profesi yang dipilihnya semenjak dia memutuskan untuk masuk ke Akademi Ilmu Pelayaran di awal tahun 80an. 

Di usianya yang menginjak 57 tahun,Capt Salim terlihat sangat fit untuk ukuran orang umum di usianya. Ini tak lain dikarenakan hobinya akan bela diri karate yang ditekuninya semenjak remaja membuat dia sangat menjaga kesehatannya.

Memiliki 4 orang anak yang salah satunya juga berprofesi sebagai pelaut dengan ijazah ANT 1 bernama Garang Gagah Gemilang M.Mar SDPO lulusan Sekolah Tingi Ilmu Pelayaran ( dulu Akademi Ilmu Pelayaran) tahun 2008, Captain Salim juga memiliki 2 orang putri yang salah satunya merupakan Putri Indonesia kepulauan Bali,NTB dan NTT bernama Gloria Angelika dan deorang lagi yang masih menjalani kuliah di Bandung bernama Gita Rose Aphrodita. 

Sementara anak tertuanya yang berusia 31 tahun bernama Garth G Perdana adalah seorang sarjana S1, Itu semua seperti perpaduan antara dunia Machoisme dengan Beauty yang sempurna.

Saat ditanya emaritim.com apakah pelaut menjadi cita citanya semenjak kecil, Captain Salim mengatakan bahwa cita citanya saat kecil adalah menjadi Pilot pesawat terbang atau menjadi Arsitek seperti umumnya cita cita anak di masa itu.


Selanjutnya Captain Salim memberikan komentar mengenai lesunya industri maritim " Dikarenakan efek dari anjloknya harga bahan bakar dunia,maka persaingan di dunia pelaut semakin ketat.Cara yang baik dilakukan adalah dengan men sukuri apa yang sudah didapatkan dan melakukan yang terbaik untuk pekerjaan dan selalu update dengan peraturan terbaru". Dia pun berpesan: "Allah selau bersama kita dalam setiap langkah dan tindakan kita".


Diapun menyayangkan bahwa dunia pendidikan untuk pelaut sekarang ini kurang ditunjang oleh tenaga pengajar yang kompeten dan juga sarana prasarana yang memenuhi standard IMO sehingga banyak lulusan yang belum siap untuk bersaing dengan ketatnya industri pelayaran saat ini.

Lalu mengenai maraknya issue penjualan bahan bakar solar diatas kapal, Captain Salim berpesan: "Di era Presiden Joko Widodo hal tersebut sudah tidak zaman nya lagi, sudah banyak petugas intelejen yang di samarkan menjadi crew kapal dan siap melaporkan setiap penyelewengan yang dilakukan oleh crew kapal lainnya".

Berkomitmen terhadap apa yang diyakini dengan harus sering meninggalkan keluarga bukanlah sesuatu yang mudah, dan itu sudah dijalankan Captain Salim lebih dari 30 tahun. 

Semoga apa yang dilakukan oleh Captain Salim bisa menjadi contoh untuk Nakhoda muda dan pelaut pelaut lainnya,bahwa menjadi Nakhoda yang baik lebih penting daripada mengejar materi tanpa memperhatikan kualitas pekerjaan.(janno)


eMaritim.Com
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
Comments
0 Comments
World Maritime Day 2017: "Connecting Ships, Ports and People"

close
Banner iklan disini