» » » » » » 14 Cara Agar Kapal Laut Ramah Lingkungan

Jakarta 9 Desember 2016, eMaritim.com


Dunia pelayaran sekarang ini sedang menuju kepada sebuah ultimate goal untuk menjadikan semua kapal sebagai Green Ship, kapal yang ramah lingkungan dengan emisi serendah mungkin atau bahkan zero emisi.
Beberapa langkah sudah dilakukan baik disisi Manufacturing ataupun sisi Administration.

Membuat kapal sekarang ini menjadi sebuah tantangan yang sangat menarik dengan semakin ketatnya aturan yang mengharuskan bahwa kapal harus Ramah Lingkungan dan sebisa mungkin tidak meninggalkan emisi hasil pembakaran minyaknya.

Dengan akan diberlakukannya batasan maksimum 0,5 % kandungan Sulfur dari bahan bakar kapal di Januari 2020 yang ditetapkan oleh Komite Perlindungan Lingkungan Laut Marine Environment Protection Committee (MEPC)pada Oktober 2016 lalu, redaksi eMaritim.com menghadirkan beberapa cara yang sudah dan akan dilakukan industri perkapalan dalam usaha menekan emisi sekecil mungkin dari sebuah kapal.

1.   No Ballast System: Ballast water convention yang diatur oleh IMO akan fokus kepada mengurangi transfer sedimen micro organisme dari suatu daerah ke daerah lain. Rencana pembuatan No Ballast System atau yang similar pada kapal akan secara drastis mengurangi permasalahan ini.


2.   LNG Fuel for Propulsion: Diyakini bahwa LNG adalah bahan bakar masa depan dari sebuah kapal niaga, ini disebabkan LNG hampir tidak memiliki emisi sisa pembakaran yang selama ininmenjadi masalah dengan Fossil fuel.
Kombinasi pemakaian antara LNG fuel dengan Diesel Oil akan sangat banyak menghemat pemakaian bahan bakar dan juga emisinya.


3.   LNG Fuel for Auxiliary engine: Sebagai mesin yang selalu hidup walaupun kapal sedang ada di pelabuhan, pemakaian LNG pada Auxiliary Engine akan sangat mengurangi emisi gas buang di pelabuhan tempat kapal berada. Negara negara Skandinavia sudah mulai mempersyaratkan ini untuk beberapa pelabuhan mereka.


4.   Sulphur Scrubber System: Sepertinya sulit untuk melakukan phase-out pemakaian diesel fuel di kapal untuk mengurangi emisi SOx (Sulphur Oxide), hal ini akan bisa dilakukan dengan meng instal Exhaust Gas Scrubber System yang akan mencuci/ memisahkan Sulfur dari gas pembuangan. Jika ini dilakukan maka akan bisa mengurangi emisi Sulphur Oxide sampai 98 persen termasuk pertikel partikel ikutan lainnya.


5.   Advanced Rudder and Propeller System: Sebuah desain yang tepat untuk Propeller dan Rudder akan bisa mengurangi fuel consumption sampai 4% dari sistem konvensional, di kapal kapal offshore dan kapal jenis khusus lainnya pemakaian Controllable Pitch Propeller seperti sudah menjadi keharusan dan juga Pemakaian Kort Nozzle (Tube yang mengelilingi Propeller nya), ini semua dilakukan untuk menambah daya dorong kapal menjadi lebih maksimal dibandingkan dengan sistem Fix Propeller dan Open Blade. Rudder pun memiliki banyak perbedaan dari tahun ke tahun dan Ship's Builder melakukan inovasi untuk mendapatkan Rudder yang paling baik.
Jenis jenis standard Spade/Balance Rudder, Semi Balance Rudder, Flaps Rudder, sampai yang advanced seperti Pleuger Rudder dan  Voith Propulsion di buat untuk maksud efisiensi disamping fungsi utama sebagai kemudi kapal.


6.   Speed Nozzle: Sejauh ini sudah digunakan di kapal Supply dan Tug boat , dan terus dalam pengembangan untuk kapal kapal niaga lainnya dan diharapkan penggunaan Speed Nozzle bisa menghemat energi sebanyak 5%.


7.   Hull Paint: Hal penting lainnya dalam hal menghemat bahan bakar yang juga akan mengurangi emisi adalah pemakaian cat yang benar pada bagian bagian lambung kapal. Menggunakan cat yang benar akan mengurangi friksi kapal terhadap air di sistem Hydro Dynamic kapal itu sendiri dan bisa menghemat antara 3-8% bahan bakar.


8.   Waste Heat Recovery System: Sistem ini sudah dipakai untuk beberapa waktu lamanya di industri perkapalan, sisa panas dari pembakaran bisa digunakan untuk memanaskan Steam dan juga memanaskan muatan, akomodasi, Heavy fuel dan lain lain. Sistem ini apabila di aplikasikan dengan baik bisa menghemat secara drastis pemakaian bahan bakar sampai 14% dari total pemakaian.


9.   Exhaust Gas Recirculation: Di dalam sistem ini NOx (Natrium Oxide) dari mesin induk dikurangi dengan cara re-circulate exhaust gas dari silinder mesin yang akan mengurangi temperatur dari sekat pembakaran.
Dengan metode ini maka Natrium Oxide  bisa berkurang sampai 80 % pada gas emsi.


10.  Water in Fuel: Penambahan air kedalam Fuel sebelum di injkesi dalam Combustion Chamber bisa mengurangi temperatur didalam Cylinder liner. Dengan cara yang efifsien sistem ini bisa menghasilkan pengurangan Natrium Oxide 30-35 % pada gas emisi.


11.   Improved Pump and Cooling Water System: Sistem pendinginan air yang optimal pada pipa-pipa, pendingin, dan pompa bisa menghasilkan penghematan fuel consumption sebanyak 1,5 % pada sistem elektrik yang diproduksi oleh Genset kapal.


12.   Sail and Kite Propulsion System: Pemasangan layar dan sistem layang-layang pada kapal konvensional bisa mengurangi pemakaian fuel yang berujung kepada pengurangan emisi SOx dan NOx sebnyak 35 %.


13.   Fuel and Solar Cell Propulsion: Sistem penggerak  Fuel Cell menggunakan kekuatan dari kombinasi antara Fuel cell, Solar Cell dan sistem Battery. Ini bisa membantu mengurangi emisi GHG (Green House Gases) cukup besar.


14.   Sandwich Plate System (SPS): Sebuah proses komposting 2 plat metal yang diikat dengan Polyurethane elastomer Core. Ini menghindari pemakaian baja yang bisa mengurangi berat benda tersebut dan juga lebih tahan korosi. Teknologi ini dipastikan bisa mengurangi pemakaian bahan bakar dan juga bisa tahan lama dibanding dengan menggunakan bahan besi.(janno)









eMaritim.Com
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
Comments
0 Comments
World Maritime Day 2017: "Connecting Ships, Ports and People"

close
Banner iklan disini