» » » Mengenang 12 Tahun Tsunami Aceh

Jakarta 26 Desember 2016, eMaritim.com

12 Tahun silam dunia di kejutkan oleh bencana maha dahsyat yang menghantam 14 negara di Asia dan Afrika. Tsunami terjadi Minggu Pagi 26 Desember 2004. Tanpa prediksi dan peringatan apa-apa, Indonesia dan sebagian besar wilayah Asia Tenggara dibangunkan oleh guncangan maha dahsyat dari bawah kulit bumi dengan kekuatan 9.2 Skala Richter. 230.000 jiwa melayang di 14 negara yang terpapar kekuatan alam dengan hantaman gelombang setinggi 30 meter di pantai.

Mengenang tragedi Tsunami Aceh,  eMaritim.com memberikan beberapa fakta antara tsunami dan kapal sebagai berikut :

1. Di samudra yang dalam energi tsunami bisa berkecepatan 500 km/jam, semakin mendekati daerah pantai kecepatan itu menurun tetapi tinggi gelombang meningkat drastis sebagai efek dari energi yang ter kompresi hasil dari tekanan dahsyat Tsunami.

2. Ditengah samudra, kapal mungkin akan lebih menderita dihantam Taifun dibanding Tsunami, ini dikarenakan gelombang laut yang dihasilkan Taifun berlangsung berhari hari, sementara gelombang yang dihasilkan Tsunami hanya berlangsung beberapa menit.
Laut yang dalam adalah tempat yang aman buat kapal saat Gelombang Tsunami terjadi.

3.Air Laut Surut sebelum Tsunami, dikarenakan tubrukan lempeng bumi yang mengakibatkan patahan dan pergeseran kulit bumi menghasilkan perubahan dasar laut yang mendadak dan memindahkan air laut dalam volume yang amat besar ke dalam rongga hasil tubrukan. Inilah yang mengakibatkan air laut sempat surut bermeter-meter dari garis pantai sebelum energinya terlepas dan bergulung kembali ke pesisir dengan kekuatan dan kecepatan yang amat dahsyat.

4. Kapal yang sedang berlabuh jangkar di air dengan kedalaman lebih dari 50 meter  di daerah yang terkena dampak Tsunami, kemungkinan besar tidak akan terbalik selama rantai jangkarnya cukup untuk menahan beban kapal tersebut dan panjang nya memadai saat puncak gelombang melewatinya.
Ketinggian gelombang yang tercatat selama ini adalah sekitar 30 meter.

5. Kekuatan energi Tsunami tahun 2004 setara dengan kekuatan 23.000 bom atom atau 2 kali lebih kuat dari seluruh bom yang digunakan pada Perang Dunia ke 2.

6. Kapal yang sandar di pelabuhan saat Tsunami terjadi kemungkinan akan hancur atau terangkat keatas daratan dan terbalik. Ini disebabkan kapal tidak memiliki stabilitas lagi jika sudah tidak terapung di air. Tarangkatnya kapal ke darat disebabkan tidak ada tali yang akan kuat menahan beban kapal saat terdorong naik dibawa gelombang Tsunami. Jika tali kapal kuat menahan beban itu, maka kapal akan tenggelam karena kemasukan air yang naik setinggi sampai 30 meter.

7. Good Seamanship at Rough Sea memberikan pesan kepada pelaut sebagai berikut:
- Jika Tsunami datang dan kapal sedang terikat di dermaga. Pergilah ke tempat aman yang jauh dari pantai. Warning Tsunami yang hanya beberapa menit tidak akan cukup buat mempersiapkan kapal  pergi ke tengah samudra. Lin halnya jika warning diterima beberapa jam sebelum gelombang datang maka melayarkan kapal ke tempat dalam adalah cara paling aman.
- Jika Tsunami datang saat berlabuh jangkar dan tidak ada persiapan waktu untuk pergi ke laut dalam, panjangkan rantai jangkar sampai cukup untuk kapal surfing melewati gelombang Tsunami.
- Walaupun sistem deteksi Tsunami semakin canggih, masih dibutuhkan waktu sekitar 5 menit dari mulai menerima data, mengukur kedalaman air, tendensi arah pergerakan gelombang dan kekuatan gempa itu sendiri. Jika daerah tempat kapal sandar/ berlabuh dekat dengan pusat gempa yang menghasilkan Tsunami, kemungkinan data diterima akan bersamaan dengan datang nya gelombang Tsunami itu sendiri.
- Pelajari tanda tanda alam adalah hal yang paling efektif ketimbang hanya bergantung dari laporan Meteorologi soal kedatangan Tsunami.(janno)

eMaritim.Com
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
Comments
0 Comments
World Maritime Day 2017: "Connecting Ships, Ports and People"