» » Catatan Akhir Tahun dari Abu Dhabi, Tentang Negara Maritim Indonesia

Catatan Captain Darwanto Simatupang:

Abu Dhabi, 31st Dec 2016.

Sebagai seorang profesional maritim yang bekerja di daerah Timur Tengah ini, banyak hal-hal yang ingin saya ceritakan kepada sesama teman teman seprofesi. Mulai dari suka citanya sampai duka cita atau tantangan yang dihadapi oleh para profesional di bidang ini. Setelah lebih dari 10 tahun menetap dengan keluarga di daerah Timur Tengah ini, pola pikir dan cara pandang saya ada sedikit terpengaruh dengan gaya dan kultur Timur Tengah, walaupun saya berusaha untuk tetap menjaga integritas saya.

Beberapa tantangan yang  dihadapi para profesional maritim terutama Perwira Pelayaran Niaga baik yang bekerja di Deep Sea maupun khususnya di Offshore Marine/Ship Operating Company adalah ketidak jelasan pemberlakuan MLC 2006 kepada seluruh Pelaut Indonesia, terutama bagi mereka mereka yang bekerja di UAE ini. Negara UAE sendiri belum meratifikasi MLC 2006, ini ditambah lagi dengan Indonesia yang baru akhir akhir ini bergerak untuk meratifikasinya walaupun implementasinya belum terasa jelas kepada para pelaut kita.

Ada lagi tantangan yang hampir selalu dialami oleh Perwira Pelayaran Niaga di UAE ini adalah tidak adanya kontrak kerja yang jelas, bahkan dari pemantauan saya banyak variasinya dan tidak ada standard baku yang dipakai oleh para Manpower Recruitment, Crewing Agency ataupun Perusahaan Pelayaran itu sendiri. Dimulai dari masalah awal ini, banyak masalah masalah lain yang muncul seperti keterlambatan gaji, pemulangan pelaut secara sepihak, bahkan ada yang di terlantarkan tanpa bahan makanan dan minuman untuk ABK diatas kapalnya.

Selain itu adalagi masalah tentang Passport dan Buku Pelaut yang dipegang oleh Pihak Agen atau Perusahaan Pelayaran, sehingga pergerakan Perwira Pelayaran Niaga ini diibaratkan seperti para TKI yang terkurung dalam lingkup Kapal. Padahal mereka mereka ini adalah tenaga kerja profesional yang bersertifikat international dan diakui oleh IMO, mereka bukanlah non skilled worker.

Ada juga yang pelaut kita di penjara di UAE karena alasan yang berbeda beda, dari alasaan kriminal, pinjaman duit di Bank yang macet bayarnya sampai kepada masalah masalah lainnya yang belum terdeteksi.

Lalu masalah Medical Test, yang pernah bekerja di UAE sini mungkin tau bahwa ini adalah salah satu tantangan besar yang harus dihadapi oleh setiap pelaut yang ingin bekerja disini. Tidak cukup dengan Medical Test yang diakui oleh IMO atau negara asal pelaut tersebut, tetapi mereka juga harus melalui Medical Test GAMCA, yang harus di endorse oleh Embassy UAE di Jakarta, setelah lolos itu, baru mereka ke UAE dan masih harus melalui Medical Test berikutnya sekurang kurangnya 2 kali sebelum visa kerjan mereka keluar. Jadi sekurang kurangnya 3-4 kali Medical Test dalam waktu yang sangat singkat sekitar 2-4 bulan tergantung seberapa cepatnya proses yang satu ke proses yang lainnya selesai. Apakah ada yang memperhatikan seberapa parahnya mereka ter-expose kepada X-Ray misalnya?

Selain daripada itu, di UAE ini juga belum ada atase perhubungan yang menaungi masalah masalah spesifik diatas. P2MI UAE sedang bekerja sama dengan pihak KBRI untuk mengevaluasi keadaan ini apakah diperlukan kedepannya.
Semua masalah masalah itu diatas telah disampaikan secara official kepada Dubes RI untuk UAE, dan P2MI akan terus memantau dan mendukung kinerja Pemerintah dengan kritik-kritik yang membangun, karena saya yakin sinergi dan kerjasama yang baik akan menghasilkan output yang lebih baik daripada kita bekerja sendiri sendiri.

Selain daripada masalah masalah yang ada di UAE sini, saya juga mengangkat beberapa concern kepada pemerintah Indonesia tentang maritim nya ini, dimana Presiden dan pemerintahannya berusaha membuat Indonesia menjadi Poros Maritim Dunia. Niat ini sangat baik dan mulia, tetapi apabila niat, visi dan misi tanpa adanya dukungan dari SDM yang kompeten dan mumpuni bagaimana caranya kita bisa mewujudkan cita cita ini? CEO saya pernah berkata, ibaratnya perusahaan (negara) ini seperti Mobil Ferari-F1, sudah barang tentu kualitas dan infrastrukturnya top class.

Lalu apabila drivernya sekelas Michael Schumacher, dan tim dilapangan yang membantu Ferrari F1 ini bertanding adalah top class dan kompeten serta mumpuni dibidangnya masing masing, apakah kita akan menang? Besar kemungkinan kita menang dengan option yang pertama tadi bukan?

Lalu sekilas saya mencari cari dukungan dari Indonesia untuk mengadakan research kelas dunia dalam bidang maritim terutama bidang Marine Safety kita di Indonesia, sangat kecewa ketika saya tidak mendapatkan data data yang ingin saya pelajari kedepannya. Bahkan beasiswa beasiswa yang disediakan belum ada yang saya dapatkan berhubungan dengan Marine Safety secara khusus dan Maritim Indonesia secara umumnya.

Dari website LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) saya dapatkan bahwa beasiswa ini difokuskan (hanya) pada 10 (sepuluh) bidang keilmuan yang menjadi prioritas LPDP, yang meliputi: Bidang Teknik, Sains, Pertanian, Kedokteran, Akuntansi/Keuangan, Hukum, Agama, Ekonomi, Sosial, dan Budaya & Bahasa.

Lalu bagaimana dengan pengambangan SDM Maritim kita, Perwira Pelayaran Niaganya? Universitas Maritim Indonesia yang mencetak S2 dan S3 serta Profesor di dalam ranah Maritim itu sendiri? Research dan study yang berkenaan dengan banyaknya kecelakaan di laut akhir akhir ini serta sertifikat palsu dan lambatnya pemerintah mengeluarkan ijazah ijazah ber STCW 2010? Bagaimana caranya NKRI ini bisa menjadi Poros Maritim Dunia bila ini tidak dicari penyebabnya dan diselesaikan secara cepat oleh Pemerintah dan stake holders yang terkait?

Inilah yang menjadi tugas berat pemerintah Indonesia, kita harus menempatkan orang yang tepat untuk pekerjaan yang tepat pula. Right Man in the Right Place. Sangat disayangkan apabila KKN masih berlaku setelah jaman reformasi ini. Saya sebagai generasi Reformasi di tahun 1998 merasa masih banyak tugas tugas besar dan penting kita yang belum selesai, untuk membawa NKRI ini untuk menjadi negara yang madani dan sejahtera. Dan saya yakin Indonesia bisa mencapai itu!

Selamat menyambut 2017.
Semoga Maritim Indonesia semakin jaya dan Continual Improvement nya terus maju dan di terapkan untuk kemajuan bangsa dan negara Repbulik Indonesia ini.
MERDEKA dan SALAM PERWIRA!

Best Regards,

Darwanto Simatupang, MIMarEST, AFNI.(jan)

eMaritim.Com
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
Comments
0 Comments