» » » Napak Tilas Sejarah Pelaut Indonesia

Jakarta 25 Juni 2017, eMaritim.com

Percayalah bahwa Nenek Moyang kita seorang Pelaut !! karena sejarah membuktikan dan bisa kita lihat di peninggalan sejarah bangsa yang hebat ini. Candi Borobudur yang dibangun pada abad ke 8 menceritakan tentang kegagahan nenek moyang kita jauh sebelum bangsa Eropa menjelajahi dunia.
Bukti arkeologis tersebut menyatakan bahwa para pelaut Nusantara telah menaklukkan begitu banyak samudra, 1000 tahun sebelum Christopher Colombus dan Kaisar Ceng Ho lahir.


Kerajaan Sriwajaya merupakan salah satu kerajaan yang memiliki peran penting terhadap pelayaran dan perdagangan di Asia Tenggara serta mampu mengontrol kawasan Selat Sumatera dan Selat Sunda. Walau letaknya tidak terlalu strategis karena agak jauh dari selat Sumatera, tetapi dengan kekuatan armadanya ia mampu menaklukkan Kerajaan Melayu pada 683 Masehi. Saat itu Raja Sriwijaya menugaskan 20.000 prajurit di atas kapal untuk menaklukkan bebuyutannya dan mengukuhkan kekuasaannya. Dengan kekuatannya pula, Sriwijaya memegang kendali atas selat Sunda, Genting Kra dan Kerajaan Kedah.

Pada abad XIII, kerajaan ini kemudian mampu menguasai titik-titik simpul perdagangan antara lain P’eng-F’eng (Pahang), Theng-ya-nung (Trengganu), Ling-ya-ssu-chia (Langkasuka) Chi-lan-tan (Kelantan), Fo-lo-an (Kuala berang), Tan-ma-ling (tambralingga, Ligor, Chia-lo-si (Grahi, Teluk Brandon, dan Sin-t’o(Sunda).


Selanjutnya, dengan datang nya bangsa Eropa mengelilingi dunia pada abad 14 melakukan perdagangan, penjajahan dan perbudakan seakan menutup sejarah tentang gagahnya sang Nenek Moyang.
Dunia seakan hanya mengakui kehebatan Christopher Colombus, Ferdinand Magellan, Amerigo Vespucci dan para penjelajah Eropa lainnya.

Tertidurnya sejarah Bahari bangsa ini di masa kolonialisme Belanda baru terbangun lagi pada abad 19, setelah VOC resmi dibubarkan pada 1 januari 1800 dan wilayah-wilayah yang menjadi miliknya kini menjadi milik kolonial Hindia Belanda. Kegiatan Pelayaran periode kolonial Hindia Belanda pada abad 19 terdapat dua jalur pelayaran, khususnya pelayaran niaga. Jalur pertama yaitu, jalur pelayaran niaga Jawa-Makassar-Maluku, dan Jalur kedua ialah makassar – cina.



Pada tahun 1888 Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM) beroperasindi Indonesia dengan mengangkut muatan niaga. Pada Perang Dunia II, perusahaan ini berubah fungsi mengangkut tentara, suplai dan logistik pasukan Sekutu di bawah ABDACOM (American British Dutch Australia Command) dan berbasis di Sydney, Australia. Pada 5 September 1950, Menteri Perhubungan RI dan Menteri Pekerjaan Umum RI mengeluarkan Surat Keputusan Bersama tentang pendirian Yayasan Penguasaan Pusat Kapal-kapal (PEPUSKA).



Modal awal Pepuska hanya 8 unit kapal berbobot 4.800 DWT dan berlayar berdampingan dengan armada KPM, namun kalah bersaing, karena armada KPM selain banyak, juga memiliki kontrak monopoli. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Perhubungan RI tertanggal 28 Februari 1952, PT PELNI (Perusahaan Umum Pelayaran Indonesia) didirikan dengan Presiden Direktur pertama R. Ma'moen Soemadipraja, selanjutnya Yayasan Pepuska dibubarkan pada 28 April 1952.
KPM masih tetap beroperasi hingga dinasionalisasi oleh pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1957.


Selanjutnya pada tahun 1953, Akademi Ilmi Pelayaran didirikan oleh Presiden Soekarno dalam ambisinya untuk kembali menguasai Samudra seperti Nenek Moyang kita dahulu. Kebutuhan akan Perwira Pelayaran Niaga dalam dunia pelayaran dirasa mutlak, sehingga keberadaan sekolah itu sangat berguna untuk melanjutkan niaga dengan kapal kapal hasil rampasan dari Belanda.Pada tanggal 27 februari 1957 AIP diresmikan oleh Presiden Pertama RI Ir. Soekarno. Saat itu juga menjadi Akademi Pelayaran Pertama di Indonesia. Lokasi kampus berada di Jl. Gunung Sahari, Mangga Dua Ancol, Jakarta Utara.


Kini dengan semakin globalnya dunia pelayaran, sekolah sekolah yang didirikan untuk terus menciptakan pelaut pelaut handal didirikan di berbagai kota di Indonesia. Semarang , Makassar, Surabaya, Medan, Bitung, Aceh sampai Sorong kini mampu menyelenggarakan pendidikan yang dibutuhkan untuk generasi sekarang agar bisa kembali mengulangi kejayaan sang Nenek Moyang atau jika mungkin melebihi kehebatan sang moyang.
Selamat Hari Pelaut Sedunia ! International Maritime Organization dalam merayakan Seafarers Day mengambil tema Seafarers Matter untuk tahum 2017.


Semoga dunia pelayaran yang sedang dilanda krisis berkepanjangan akan segera berakhir, dan Pelaut-pelaut Indonesia akan kembali berkibar di jagad raya.(ZAH)

eMaritim.Com
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
Comments
0 Comments
World Maritime Day 2017: "Connecting Ships, Ports and People"