AS Serang Iran Tujuh Malam Berturut-turut, Ketegangan Timur Tengah Kian Memanas

Iklan Semua Halaman

AS Serang Iran Tujuh Malam Berturut-turut, Ketegangan Timur Tengah Kian Memanas

Reporter eMaritim.Com
18 Juli 2026

 

Sumber: Al Jazeera Youtube


Washington/Teheran – Konflik antara Amerika Serikat dan Iran terus mengalami eskalasi setelah militer Amerika kembali melancarkan gelombang serangan udara untuk malam ketujuh secara berturut-turut. Serangan terbaru dilaporkan menyasar sejumlah wilayah strategis di Iran selatan, termasuk kawasan yang berada di sekitar Selat Hormuz, jalur pelayaran energi terpenting dunia.


Media Iran melaporkan terdengar ledakan di beberapa kota, termasuk Sirik, Bushehr, dan Pulau Qeshm. Pemerintah Iran menilai serangan tersebut sebagai bentuk perluasan operasi militer Amerika yang kini tidak lagi hanya berfokus pada fasilitas yang berkaitan dengan pengamanan Selat Hormuz, tetapi mulai menjangkau sasaran yang lebih jauh ke wilayah pedalaman Iran.


Di tengah meningkatnya tekanan militer, penasihat militer Pemimpin Tertinggi Iran memperingatkan bahwa fase negosiasi telah berakhir. Menurutnya, apabila serangan Amerika terus berlanjut dalam beberapa hari ke depan, Iran akan meningkatkan operasi militernya secara lebih luas dan tidak lagi membatasi serangan balasan hanya pada sasaran tertentu.


Sementara itu, Iran mengklaim telah melancarkan serangan balasan terhadap Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar, markas militer Amerika terbesar di Timur Tengah. Teheran menyatakan telah menargetkan sistem radar dan sejumlah aset militer di pangkalan tersebut sebagai respons atas serangan udara Amerika di wilayah Iran. Namun hingga laporan ini disusun, pihak Amerika belum memberikan konfirmasi resmi mengenai klaim tersebut.


Tidak hanya Qatar, dampak konflik juga mulai dirasakan negara-negara Teluk lainnya. Kuwait melaporkan adanya korban luka di fasilitas militer serta kerusakan pada instalasi pembangkit listrik dan desalinasi air akibat serangan yang dikaitkan dengan Iran. Gangguan terhadap fasilitas tersebut memicu kekhawatiran akan pasokan listrik dan air bersih di tengah musim panas dengan suhu yang dapat mencapai 50 derajat Celsius.


Di Washington, analis Al Jazeera menilai strategi Presiden Donald Trump mulai mengalami perubahan. Bila sebelumnya operasi militer lebih difokuskan pada target yang berkaitan dengan penguasaan Selat Hormuz, kini sasaran serangan mulai bergeser ke wilayah pedalaman Iran. Pergeseran strategi itu dinilai sebagai indikasi meningkatnya intensitas konflik sekaligus memperbesar risiko perang berkepanjangan.


Dampak lain yang langsung terlihat adalah menurunnya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Data pemantauan maritim menunjukkan jumlah kapal yang melintasi selat tersebut turun drastis dibandingkan kondisi normal sebelum konflik. Meski demikian, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menegaskan bahwa jalur pelayaran internasional masih terbuka dan tetap aman dilalui setelah operasi pembersihan ranjau dilakukan oleh militer AS.


Pengamat militer Harlan Ullman yang diwawancarai Al Jazeera menilai kedua pihak kini berada pada titik yang sangat berbahaya. Menurutnya, apabila serangan terus meluas hingga menyasar infrastruktur sipil, termasuk fasilitas energi dan desalinasi air di kawasan Teluk, dampaknya dapat berkembang menjadi krisis kemanusiaan yang jauh lebih besar. Ia berharap kedua negara kembali membuka jalur diplomasi sebelum konflik berubah menjadi perang regional yang sulit dikendalikan.


Sumber: Diolah dari laporan siaran Al Jazeera