Dasar-Dasar Stabilitas Kapal: Metacentric Height (GM), Gaya Penegak, dan Angle of Loll

Iklan Semua Halaman

Dasar-Dasar Stabilitas Kapal: Metacentric Height (GM), Gaya Penegak, dan Angle of Loll

Ananta Gultom
10 Juli 2026

 


Stabilitas kapal adalah kemampuan kapal untuk kembali ke posisi tegak setelah mengalami kemiringan akibat pengaruh gelombang, angin, atau perubahan distribusi muatan. 



Kapal dapat terapung karena memenuhi prinsip Archimedes, yaitu gaya apung yang bekerja ke atas sama dengan berat air yang dipindahkan. Keseimbangan tercapai bila gaya berat yang bekerja melalui titik berat (G) dan gaya apung yang bekerja melalui pusat apung (B) berada pada satu garis vertikal.


Saat kapal miring, pusat apung bergeser sehingga timbul momen penegak. Titik potong garis kerja gaya apung dengan garis tengah kapal disebut metasenter (M), sedangkan jarak vertikal antara G dan M disebut tinggi metasenter (GM), yang merupakan parameter utama stabilitas kapal.





Kapal dapat berada dalam tiga keadaan keseimbangan: stabil (GM positif), tidak stabil (GM negatif), dan netral (GM nol). 


GM negatif terjadi ketika titik berat (G) berada di atas titik metasenter (M).


Pada keseimbangan stabil terbentuk lengan penegak (GZ) yang menghasilkan momen penegak untuk mengembalikan kapal ke posisi tegak. 


Sebaliknya, GM negatif menimbulkan momen pembalik yang dapat menyebabkan kapal terus miring atau bahkan terbalik.


Pada kondisi netral, kapal dapat berhenti pada sudut kemiringan tertentu yang disebut angle of loll. Untuk menjamin keselamatan pelayaran, titik berat kapal harus selalu dipertahankan di bawah metasenter sehingga GM tetap positif dan kapal berada dalam kondisi stabil.