Protes Menhub Kapal Barang di Selat Bali Mogok Layani Penyeberangan

Iklan Semua Halaman

Protes Menhub Kapal Barang di Selat Bali Mogok Layani Penyeberangan

Pulo Lasman Simanjuntak
Jumat, 10 April 2015

Selat Bali, eMaritim.Com,- Pengusaha kapal barang atau LCT yang beroperasi di Selat Bali, mogok melayani penyeberangan, karena ke­beratan terhadap peraturan Kementerian Perhubungan, yang melarang kapal jenis ini mengangkut penum­pang.
 
“Aksi mogok dilakukan di Pelabuhan Ketapang, Ka­bupaten Banyuwangi Jawa Timur, mulai pukul 10.00 WITA,” kata Manajer Ope­ra­sional PT ASDP Indonesia Ferry Gilimanuk, Kabupaten Jembrana Wahyudi Su­sian­to, saat dihubungi Selasa pe­tang.

Ia mengatakan, otoritas pelabuhan berusaha mengatasi aksi mogok ini, dengan mengajak pengusaha kapal barang untuk bertemu dan mu­syawarah.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, pengusaha kapal barang kecewa dengan Keputusan Direktorat Jen­deral Perhubungan Darat, Kementerian Perhubungan No:885/AP.005/DLJD/2015, yang melarang kapal ba­rang mengangkut penum­pang, termasuk sopir serta kernet truk.

Sebanyak sembilan pe­rusahaan yang tergabung da­lam Gabungan Peru­sa­ha­an Nasional Angkutan Su­ngai, Danau Dan Penye­berangan, menghentikan pe­layanan 14 kapal yang ber­operasi di Selat Bali.
“Sebelum melakukan mo­gok, gabungan perusaha­an tersebut sudah bersurat ke Polres Banyuwangi dan Jembrana terkait pengamanan. Meskipun mogok dilakukan di Pelabuhan Ke­ta­pang, penjagaan di Pe­labuhan Gilimanuk juga di­la­kukan polisi,” kata Wah­yudi.

Gabungan pengusaha kapal itu juga bersurat ke PT ASDP Indonesia Ferry memberitahukan, mogok tersebut mereka lakukan hingga batas waktu yang tidak di­tentukan, menunggu perubahan peraturan Kemen­te­rian Perhubungan tersebut.

“Larangan untuk meng­angkut penumpang bagi kapal LCT sebenarnya baru dimulai bulan Mei 2015, tapi mereka sudah melakukan protes dari sekarang. Me­re­ka menuntut, aturan tersebut diberlakukan tahun 2017,” ujarnya.

Untuk mengatasi pe­numpukan kendaraan, khu­susnya jenis truk, ia mengaku, mengerahkan armada kapal penumpang atau KMP untuk mengangkutnya.

Tiga kapal penumpang yang mampu mengangkut truk dengan berat 20 ton ke atas, khusus diarahkan un­tuk mengangkut kendaraan tersebut, sementara truk dengan berat dibawah itu dilayani KMP lainnya.

Dengan cara ini, ia me­ngatakan, arus penyebera­ngan di Pelabuhan Gili­ma­nuk masih lancar, namun pi­haknya masih menunggu hingga malam hari, dimana arus kedatangan truk mencapai puncaknya. (siman/juntak/lasman)