Jakarta, eMaritim.com - Direktur Lalu Lintas dan Angkutan
Laut Ditjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan, Capt. Wisnu Handoko
menegaskan, seluruh angkutan laut yang memperoleh subsidi dari pemerintah
merupakan armada Tol Laut.
"Jadi Tol Laut itu bukan hanya angkutan barang saja,
tetapi semua elemen armada bersubsidi itu armada Tol Laut," jelas Capt.
Wisnu di Jakarta hari ini (5/2/2019) di Jakarta.
Dalam operasionalnya, antara kapal Tol Laut, Perintis, atau
kapal Ternak, saling bersinergi. Capt. Wisnu mencontohkan, seluruh kapal Tol
Laut dipastikan ada konektivitas dengan kapal perintis. Hal itu dapat terjadi
mengingat adanya kendala terkait ukuran dan kemampuan dermaga di suatu wilayah
dan pada saat cuaca ekstrem.
"Pada prinsipnya kita masih bisa masuk ke
pelabuhan-pelabuhan di kepulauan T3P (Terluar, Terpencil, Terdepan, dan
Pedalaman) sepanjang di sana ada kargo in dan out," tuturnya.
Menurutnya, selama Dinas Perdagangan dan Dinas Perhubungan
setempat dalam suatu waktu menginformasikan kepada Ditjen Hubla bahwa ada kargo
yang harus dibawa dari dan ke luar wilayahnya, kapal-kapal tol laut dapat
bergerak dan sangat dinamis untuk menyesuaikan dengan kondisi dermaga agar
kargo dapat terangkut.
Misalnya saja di wilayah Sitaro, bila wilayah perintis ada,
maka tol laut akan berlayar ke sana. Hal itu mengingat konektivitas dan
integrasi antara armada tol laut dan kapal perintis dapat dilaksanakan.
"Terkait lokasi, bila hirarkinya di level 3 pelabuhan
tersebut, maka tidak bisa dipaksakan menjadi level 4, karena yang paling tepat
ke wilayah tersebut (Sitaro) adalah kapal perintis dan kapal ASDP," papar
Capt. Wisnu.
Lebih lanjut Capt. Wisnu mengatakan bahwa ukuran suatu kapal
perlu disesuaikan dengan level konektivitas pada Tol Laut. Untuk level 1 adalah
kapal utama 100 TeUs atau 200 Ton. Berangkat dari Pelabuhan asal ke Pelabuhan
tujuan. Selanjutnya pada Level 2 adalah
kapal feeder yang membawa kontainer lanjutan di pelabuhan tujuan ke pelabuhan pengumpan.
Dilanjutkan lagi (bila dibutuhkan) adalah ke level 3 dimana
peran kapal perintis dan kapal ASDP difungsikan mulai membawa mini kontainer ke
pelabuhan lokal. Terakhir level 4 yakni pengoperasian kapal LCT dengan berat GT
50 dan Pelayaran Rakyat (Pelra) dengan berat GT 35 melanjutkan angkutan
menggunakan kapal yang lebih kecil ke pulau kecil sekitar.
"Kepulauan Sangihe dan Talaud masih menjadi prioritas
Tol Laut baik perintis maupun angkutan barangnya," pungkas Capt. Wisnu.
Sebelumnya, Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi
menyatakan pemerintah berupaya mendorong program tol laut bukan hanya port to
port (dari pelabuhan ke pelabuhan), tapi sampai end to end (langsung sampai ke
konsumen), sehingga diharapkan masyarakat di daerah yang dilewati Tol Laut
benar-benar merasakan harga yang terjangkau.
(Syam S)
Komentar
