Dua Kapal KM Nusa Kenari 2 dan KM Rahmat Ilahi Tenggelam Berdekatan Waktu, Ini Kronologisnya

Iklan Semua Halaman

Dua Kapal KM Nusa Kenari 2 dan KM Rahmat Ilahi Tenggelam Berdekatan Waktu, Ini Kronologisnya

Minggu, 16 Juni 2019
Ilistrasi
Kupang, eMaritim.com - Kapal Motor (KM) Nusa Kenari 02 dikabarkan tenggelam di perairan laut Tahun Jung Margeta, Kabupaten Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Kejadian ini dibenarkan Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Kelas Atas Kupang, Emi Frezer.

"Benar, ada musibah tenggelamnya kapal di perairan Kabupaten Alor," ujar Emi Frezer saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon WhatsApp, Sabtu (15/6/2019).

Kapal naas tersebut mengangkut 30 penumpang. Sebanyak 20 orang selamat dan 2 penumpang meninggal dunia.

Ada 8 orang penumpang belum ditemukan. Saat ini sedang dalam pencarian oleh tim SAR.

Emi Frezer mengatakan, tim Kantor SAR Kupang kini melakukan operasi pencarian dan penyelamatan menggunakan KN SAR Antareja yang berangkat dari Pelabuhan Navigasi Kupang pukul 10.30 Wita.
.
Peristiwa itu terjadi tepat pukul 08.00 WITA. KM Nusa Kenari II sebelumnya berangkat dari Pelabuhan Kalabahi pukul 02.30 WIT. Namun, di tengah perjalanan, kapal yang sedianya akan membawa penumpang ke tujuan Pelabuhan Pureman ini karam.

Berdasarkan catatan tim SAR, kapal itu karam tepat di koordinat 08 26' 51.85" S dan 124 24' 38.09". Belum diketahui penyebab tenggelamnya kapal. Saat ini, tim tengah berfokus mencari penumpang yang hilang di sekitar perairan.

Adapun kapten kapal, Peter Plaituka, yang turut selamat dalam musiban KM Kenari II tenggelam itu saat ini tengah diamankan pihak berwenang. “Kapten Kapal sementara berada di Polsek Alor Barat Daya Moru,” ucapnya


KM Rahmat Ilahi Tenggelam

Sebelumnya, KM Rahmat Ilahi asal Makasar yang beroperasi mencari ikan di Laut Timor, Provinsi NTT tenggelam, Kamis (14/2/2019) pukul 01.00 Wita.

Kapal yang dinahkodai Jabal Nur (48), tenggelam akibat dihantam gelombang tinggi disertai angin kencang di laut lepas.

Namun, delapan ABK termasuk nahkoda dalam kapal naas itu selamat.

Bagaimana kisah delapan nahkoda itu bisa bertahan di tengah ganasnya gelombang laut dan dinginnya udara malam?

ABK bernama Hermanus Manafe yang ditemui POS-KUPANG.COM, JUMAT (15/2/2019), menuturkan, ketika kapal tenggelam kondisi sangat gelap, gelombang laut tinggi dan angin sangat kencang.

Saat itu mereka tak berdaya karena posisi tenggelamnya kapal di laut lepas.

Beruntung, mereka tidak panik dan saling menguatkan satu sama lain.

"Kami pasrah saja. Malam begitu gelap. Kami di tengah laut. Kami hanya pakai jeriken untuk bertahan," ungkap Hermanus.

Hermanus yang berasal dari Camplong itu ikut dalam kapal tersebut untuk menangkap ikan. Ia mengaku sudah sering ikut dalam kapal ikan tersebut.

"Kami sudah sering ke tempat itu untuk cari ikan tapi tidak ada kejadian. Ini kali baru kami dapat musibah," tutur Hermanus.

Hermanus, mengungkapkan, tenggelamnya kapal yang mereka tumpangi berawal dari gelombang tinggi yang datang tiba-tiba.

Akibat gelombang tinggi air laut masuk sampai ke mesin kapal.

Seketika mesin kapal mati. Setelah terombang ambing sekitar 15 menit, kapal pun tenggelam.

"Kami tidak bisa berbuat banyak untuk menyelamatkan kapal. Kami tidak berdaya," kisah Hermanus mengenang peristiwa malam naas di Laut Timor tersebut.

Malam itu, tutur Hermanus, mereka menyerahkan hidup mereka sepenuhnya pada kemurahan Tuhan.

Mereka hanya bisa menyelamatkan diri dengan cara berenang menggunakan jeriken yang ada dalam kapal.

Kebetulan dalam kapal naas itu terdapat banyak jerigen. Pertarungan mereka melawan ganasnya gelombang dan dinginnya air laut dimulai sejak tenggelamnya kapal, Kamis pukul 01.00 Wita sampai pukul 17.00 Wita.


Kurang lebih 18 jam mereka bertahan di laut dan bertarung dengan maut tanpa makan dan minum.

Di sela-sela perjuangan mereka bertahan di tengah gelombang, komunikasi mereka tidak putus.

Mereka tidak panik dan saling mengingatkan satu sama lain agar tetap menjaga stamina.

Untuk menjaga agar mereka tidak terpencar di tengah laut, mereka mengikat jeriken dengan tali agar tetap dalam satu titik.

Sekitar pukul 17.00 Wita, mereka melihat di kejauhan ada kapal yang sedang berlalu di tengah laut.

Dua rekan ABK berenang menuju titik kapal guna meminta pertolongan.

Upaya tersebut berhasil dan kapal asal Bali yang diketahui bernama KM Senjaya itu merapat ke lokasi mereka berenang. Mereka langsung dievakuasi ke kapal Senjaya.

Perasaan lega bercampur haru karena selamat dari maut.

Mereka kemudia meminta agar dievakuasi di daerah terdekat. Permintaan mereka diamini nahkoda kapal asal Bali itu.

Akhirnya mereka dievakuasi ke Pantai Motadikin, Kabupaten Malaka yang merupakan daerah terdekat pada Jumat (15/2/2019).

Selanjutnya mereka dibawa ke RSPP Betun untuk dirawat. Hermanus merasa beruntung bisa selamat dalam peristiwa naas tersebut.Saat itu mereka hanya berharap mujizat. Mujizat itu pun datang lewat kapal asal Bali tersebut. (*/hp)