Imbas Covid-19, Sektor Logistik Indonesia Positif dan Negatif, Ini Penjabarannya -->

Iklan Semua Halaman

Imbas Covid-19, Sektor Logistik Indonesia Positif dan Negatif, Ini Penjabarannya

Wednesday, May 13, 2020
Jakarta, eMaritim.com - Pada triwulan 1 sektor ekonomi Indonesia mengalami pertumbuhan positif naik menjadi 1,27% namun untuk sektor logistik dipengaruhi pertumbuhan negatif ekspor dan impor Indonesia. Pertumbuhan ekspor sebesar -6,37% dan impor sebesar -11,89% hal ini dikarenakan dampak pandemi Covid-19.

1. Pada 5 Mei 2020, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis pertumbuhan ekonomi (Produk Domestik Bruto) Indonesia triwulan I-2020 sebesar 2,97% (y-on-y). Dibandingkan triwulan IV-2019, terjadi penurunan sebesar 2,41%

Berdasarkan data BPS, Supply Chain Indonesia (SCI) mencatat pertumbuhan sektor logistik (lapangan usaha transportasi dan pergudangan) pada triwulan I-2020 sebesar 1,27% (y-on-y). Pada semester I-2019, sektor logistik tumbuh 5,45%.

Dengan angka itu, sektor logistik berkontribusi terhadap PDB triwulan I-2020 sebesar 5,17%. Terjadi penurunan kontribusi dibandingkan triwulan I-2019 yang tercatat sebesar 5,53%.

Sektor logistik mencakup sub sektor pergudangan dan jasa penunjang angkutan, serta pos dan kurir. Sektor logistik juga mencakup sub sektor transportasi per moda, yatu rel; darat; laut; udara; serta sungai, danau, dan penyeberangan.

2. Chairman SCI Setijadi menyatakan pertumbuhan sektor logistik pada pada triwulan I-2020 terutama didorong industri pengolahan (yang tumbuh sebesar 2,06% y-on-y); akomodasi makan dan minum (1,95%); serta perdagangan (1,60%). Pada triwulan tersebut pertanian, kehutanan, dan perikanan hanya tumbuh sebesar 0,02%.

Terjadi penurunan pertumbuhan pada sektor-sektor tersebut, baik industri pengolahan (-1,79%); akomodasi makan dan minum (-3,92%); perdagangan (-3,61%); serta pertanian, kehutanan, dan perikanan (-1,80%).

3. Analisis SCI berdasarkan data BPS menunjukkan pada triwulan I-2020 sub sektor transportasi yang mengalami tingkat pertumbuhan tertinggi (y-on-y) adalah angkutan laut yaitu sebesar 5,93%; diikuti oleh angkutan darat (5,15%); dan angkutan sungai, danau, dan penyeberangan (1,16%). Pertumbuhan negatif terjadi pada angkutan rel (-6,96%) dan angkutan udara (-13,31%).

Sementara itu, sub sektor pergudangan dan jasa penunjang angkutan, serta pos dan kurir juga mengalami pertumbuhan negatif sebesar -0,73% (y-on-y).

Jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (q-to-q), semua subsektor transportasi tersebut pada triwulan I-2020 mengalami pertumbuhan negatif, dengan penurunan tertinggi pada angkutan udara (-23,11%); diikuti angkutan rel (-14,22%), angkutan sungai, danau, dan penyeberangan (-4,16%); angkutan laut (-4,07%); dan angkutan darat (-0,67%).

Subsektor pergudangan dan jasa penunjang angkutan, serta pos dan kurir mengalami pertumbuhan negatif q-to-q cukup besar, yaitu sebesar -10,89%.

4. Setijadi menjelaskan penurunan volume sektor logistik tersebut sangat dipengaruhi dampak pandemi Covid-19 yang berimbas terhadap penurunan permintaan barang dan komoditas, maupun aktivitas industri.

Konsumsi rumah tangga yang berkontribusi terbesar dalam PDB mengalami penurunan pertumbuhan dari 5,02% pada triwulan I-2019 menjadi 2,84% pada triwulan I-2020.

Penurunan volume sektor logistik juga dipengaruhi pertumbuhan negatif ekspor dan impor Indonesia. Pertumbuhan ekspor sebesar -6,37% dan impor sebesar -11,89% (q-to-q).

Penurunan ekspor dan impor terja`di karena industri Indonesia menjadi bagian dari global supply chain yang terdampak pandemi Covid-19. Penurunan impor yang besar itu di samping karena penurunan permintaan dalam negeri juga menunjukkan ketergantungan industri Indonesia terhadap pasokan barang modal dan bahan baku dari luar negeri.