Perayaan Hari Pelaut Sedunia, Bagaimana Nasib dan Perjalanan Pelaut Indonesia ? -->

Iklan Semua Halaman

Perayaan Hari Pelaut Sedunia, Bagaimana Nasib dan Perjalanan Pelaut Indonesia ?

Thursday, June 25, 2020
eMaritim.com - Perayaan Hari Pelaut seluruh dunia yang jatuh pada hari ini 25 Juni 2020 mengambil tema Seafarers are Key workers. Ini menggambarkan betapa penting nya peran pelaut sebagai motor penggerak ekonomi dunia termasuk Indonesia. Sementara untuk bangsa Indonesia arti pelaut jauh lebih dalam dan mengakar lagi didalam sendi-sendi kehidupan masyarakat negara kepulauan terbesar di dunia ini. Kita menyatakan bahwa Nenek Moyang Kita Seorang Pelaut, betulkah?

Masa Keemasan Pelaut Nusantara

Percayalah bahwa Nenek Moyang kita seorang Pelaut !!. Sejarah membuktikan dan bisa kita lihat di peninggalan sejarah bangsa yang hebat ini. Candi Borobudur yang dibangun pada abad ke 8 menceritakan tentang kegagahan nenek moyang kita jauh sebelum bangsa Eropa menjelajahi dunia.
Bukti arkeologis tersebut menyatakan bahwa para pelaut Nusantara telah menaklukkan begitu banyak samudra, 1000 tahun sebelum Christopher Colombus dan Kaisar Ceng Ho lahir.

Kerajaan Sriwajaya merupakan kerajaan yang memiliki peran penting terhadap pelayaran dan perdagangan di Asia Tenggara serta mampu mengontrol kawasan Selat Sumatera (tidak ada nama selat Malaka saat itu dan nanti) dan Selat Sunda. Walau letaknya tidak terlalu strategis karena agak jauh dari selat Sumatera, tetapi dengan kekuatan armadanya ia mampu menaklukkan Kerajaan Melayu pada 683 Masehi. Saat itu Raja Sriwijaya menugaskan 20.000 prajurit di atas kapal untuk menaklukkan bebuyutannya dan mengukuhkan kekuasaannya. Dengan kekuatannya pula, Sriwijaya memegang kendali atas selat Sunda, Genting Kra dan Kerajaan Kedah.

Pada abad XIII, kerajaan ini kemudian mampu menguasai titik-titik simpul perdagangan antara lain P’eng-F’eng (Pahang), Theng-ya-nung (Trengganu), Ling-ya-ssu-chia (Langkasuka) Chi-lan-tan (Kelantan), Fo-lo-an (Kuala berang), Tan-ma-ling (tambralingga, Ligor, Chia-lo-si (Grahi, Teluk Brandon, dan Sin-t’o(Sunda).

Selanjutnya, dengan datang nya bangsa Eropa mengelilingi dunia pada abad 14 melakukan perdagangan, penjajahan dan perbudakan seakan menutup sejarah tentang gagahnya sang Nenek Moyang. Dunia seakan hanya mengakui kehebatan Christopher Colombus, Ferdinand Magellan, Amerigo Vespucci dan para penjelajah Eropa lainnya

Masa Awal Berdirinya Negara Indonesia


Tertidurnya sejarah Bahari bangsa ini di masa kolonialisme Belanda baru terbangun lagi pada abad 19, setelah VOC resmi dibubarkan pada 1 januari 1800 dan wilayah-wilayah yang menjadi miliknya kini menjadi milik kolonial Hindia Belanda. Kegiatan Pelayaran periode kolonial Hindia Belanda pada abad 19 terdapat dua jalur pelayaran, khususnya pelayaran niaga. Jalur pertama yaitu, jalur pelayaran niaga Jawa-Makassar-Maluku, dan Jalur kedua ialah Makassar – Cina.

Pada tahun 1888 Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM) beroperasi di Indonesia dengan mengangkut muatan niaga. Pada Perang Dunia II, perusahaan ini berubah fungsi mengangkut tentara, suplai dan logistik pasukan Sekutu di bawah ABDACOM (American British Dutch Australia Command) dan berbasis di Sydney, Australia. Pada 5 September 1950, Menteri Perhubungan RI dan Menteri Pekerjaan Umum RI mengeluarkan Surat Keputusan Bersama tentang pendirian Yayasan Penguasaan Pusat Kapal-kapal (PEPUSKA).

Modal awal Pepuska hanya 8 unit kapal berbobot 4.800 DWT dan berlayar berdampingan dengan armada KPM, namun kalah bersaing, karena armada KPM selain banyak, juga memiliki kontrak monopoli. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Perhubungan RI tertanggal 28 Februari 1952, PT PELNI (Perusahaan Umum Pelayaran Indonesia) didirikan dengan Presiden Direktur pertama R. Ma'moen Soemadipraja, selanjutnya Yayasan Pepuska dibubarkan pada 28 April 1952.
KPM masih tetap beroperasi hingga dinasionalisasi oleh pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1957.

Periode ini sebenarnya bleu print pembangunan negara maritim yang hebat sudah dimulai, dari tatanan negara yang proporsional dengam adanya Kementerian Perhubungan Laut, didirikannya Sekolah Pelayaran sampai kekuatan armada Djasagetri sebagai tulang punggung kegiatan berniaga antar megara dan antar benua. Sayangnya itu tidak berlangsung lama, lambat laun peran penting pelaut mulai termarjinalkan.

Periode Orde Baru

Sampai tahun 80an, kondisi Kepelautan Indonesia ada di posisi stagnan, dimana dari sekolah pelayaran yang awalnya menjadi pelengkap negara maritim berubah menjadi sekolah berbayar. Dari banyaknya armada kapal niaga Indinesia meramaikan seluruh benua di dunia, perlahan-lahan hanya ada di perairan Asia saja. Pelaut mulai tidak lagi menduduki posisi penting dalam lembaga negara.

Elemen negara mulai termakan racun korupsi, kolusi dan nepotisme. Semua kegiatan maritim Indonesia bisa dipastikan berbayar dan diselimuti pungli besar-besaran sampai rontoknya seluruh armada pelayaran antar benua milik Indonesia, dengan hanya menyisakan Pelayaran Samudera Indonesia. Dunia pendidikan pelautpun terlupakan dan jalan ditempat.

Periode Pelaut Millenial

Kecelakaan kapal masih ramai menghiasi wajah pelayaran Indonesia, dan yang lebih mengerikan lagi adalah ramainya penggunaan ijazah palsu pelaut Indonesia. Dua hal tersebut jelas memiliki korelasi yang sangat kuat. Indonesia tidak lagi memiliki armada yang mengarungi samudera, bahkan untuk hidup di dalam negerinya sendiripun Indonesia harus menerapkan azaz cabotage agar tidak kembali dijajah oleh kapal-kapal bangsa lain.

Pemakaian ijazah palsu dan aspal bukan hanya ada di dalam negeri dan diluar negeri, di struktur negara pun banyak SDM pemerintah yang menggunakan ijazah aspal karena mudah mendapatkannya dan bisa secara sertifikasi masuk kedalam kategori pelaut, tetapi tentu tidak secara kualifikasi dan kompetensi.

Sulitnya mendapatkan pekerjaan dan rendahnya nilai tawar pelaut di dalam negeri, sampai pada level yang mengkhawatirkan. Apalagi urusan sertifikasi dan dokumen pelaut juga tidak luput dari hantu pungli di lembaga negara.

Rendahnya kadar kepelautan di lembaga pemerintah yang mengurusi pelaut juga dibarengi dengan jebloknya serikat pekerja pelaut yang diketuai bukan oleh pelaut. Ini semakin menjerumuskan pelaut kedalam kotak sapi perahan yang hanya boleh bekerja dikapal tanpa bisa mengurus dirinya sendiri.

Beberapa organisasi kepelautan berdiri, sebagai bentuk ketidak puasan terhadap Serikat Pelaut Indonesia yang dikuasai kelompok yang sama selama lebih dari 15 tahun. Sayangnya karena karakter keras masing-masing pelaut, mereka sulit disatukan kedalam sebuah kekuatan besar berjumlah 850.000 orang yang mampu merubah keadaannya sendiri.

Ikatan almamater yang kuat, kesukuan yang kuat dan hal hal lain masih menjadi kendala bersatunya para pelaut kedalam wadah yang tunggal. Dibutuhkan satu figur besar untuk mampu mempersatukan mereka, untuk bersama-sama memperbaiki nasibnya sendiri. Jika diatas kapal mereka patuh kepada nakhodanya, didarat dibutuhkan Nakhoda besar yang mau dan mampu mempersatukan seluruh pelaut Indonesia agar cepat kembali kemasa dimana pelaut memiliki daya tawar yang tinggi.

Selamat Hari Pelaut Sedunia, Bersatulah Pelaut Indonesia


Tulisan ini ditulis oleh : Capt. Zaenal A Hasibuan (Pengamat dan Praktisi Maritim Nasional)