Angkatan 15 Akademi Ilmu Pelayaran Rayakan Reuni Emas 50 Tahun, Ini Pesannya -->

Iklan Semua Halaman

Angkatan 15 Akademi Ilmu Pelayaran Rayakan Reuni Emas 50 Tahun, Ini Pesannya

Sunday, July 5, 2020
eMaritim.com – Kekompakan menjadi tombak persaudaraan dalam mencapai kebersamaan yang harmonis, ‘golden reunion’ menjadi kalimat yang pas dalam merayakan 50 tahun kelulusan Akademi Ilmu Pelayaran angkatan 1970-2020, perayaan tersebut dilakukan dengan sederhana, bahagia namun penuh doa dan makna, reunian emas angkatan 15 AIP dilaksanakan  di lingkup area Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP), Marunda, Jakarta.

Sudah bukan usia yang muda bagi seorang taruna lulusan jaman orde baru yang berusaha axis di masa generasi digital dan milenial ini, mereka tetap menjaga kekompakan dan kebersamaan dalam menikmati masa tua untuk tetap sehat dalam menjalani kehidupan.

Di dalam perayaan reunian emas angkatan 15 dilakukan  penanaman pohon di lingkup taman STIP bagian depan, dimaknai pohon itu akan tumbuh dan dirasakan oleh generasi penerus, pertumbuhannya diharapkan menjadi saksi bahwa lintas angkatan bukan menjadi alasan dalam berkumpul dan membimbing satu sama lainnya.
Suryo Sulistiyo Ketua Panitia Golden Reunion, mantan Komandan Batalyon, Mayoret Drumband mengatakan penanaman pohon merupakan wujud bentuk yang sama dengan kita yang harus diperhatikan pelihara dan rawat sebagai makhluk ciptaan ALLAH SWT.

Menurutnya penanaman pohon ini nantinya juga bisa dinikmati oleh orang lain yang mendapatkannya, “niat kami untuk memberikan berkah dan manfaat kepada orang lain,” tuturnya.

Ia menambahkan bahwa pohon itu nantinya dapat memberikan naungan, perlindungan dan menjaga sekitarnya dari hal tidak baik, “maka ide kita menanam pohon dan masih di area STIP yang ada kaitannya dengan alumni AIP kita dulu,”jelasnya.

Sementara itu Nanang Risnandar Ketua Angkatan 15, mantan Kepala Staf Resimen mengatakan reuni emas 50 tahun angkatan 15 AIP sebagai wujud bersyukur dalam kebersamaan selama ini, yang diharapkan nantinya akan menjadi contoh untuk generasi dibawahnya.

“Dengan adanya reunian emas mudah-mudahan adik-adik kita bisa mengikuti apa yang sudah kami lakukan dan tetap saling sharing kepada alumni, CAAIP tetap terjaga dan tidak terpecah-pecah,” ungkap Nanang.

Ia menambahkan, di tahun 70-an dengan sekarang sangat berbeda, diharapkan STIP selalu ‘upgrade’ apa yang menjadi masukan seniornya, ia akui bahwa generasi angkatan AIP 15 masih konvensional.

Dengan adanya perbedaan jaman saat ini  menurutnya persaingan sangat ketat sehingga pelaut dan akademi pelayaran diwajibkan memacu dirinya untuk dapat bersaing di dunia international.
Cholik Kirom mantan Direktur Kepelabuhanan & Pengerukan, Ditjen Perhubungan Laut R.I. mengatakan pasca adanya reunian emas ini ia berharap generasi penerus maupun taruna yang baru lulus agar bisa membangkitkan dunia maritim, agar lebih maju dari sekarang mengingat maritim ujung tombak dari perekonimian Indonesia, “yakin ekonomi kita akan maju kalau maritim kita maju,” ungkapnya

“Sedangkan untuk memajukan maritim di Indonesia sangat sulit, semua yang didarat rata-rata kurang mendukung, padahal banyak yang mencari kesempatan hidup didunia maritim ini, kalau ditata dengan baik, pasti negara kita akan maju di bidang maritim dan ekonomi,” tuturnya.

Awi Imam mantan Komandan Resimen juga berharap kepada angkatan dibawahnya bahwa taruna jangan berfokus pada spesialisasi lulusannya, “bidang maritim itu sangat luas, bisa jadi konsultan, surveyor, eksporties, banyak sekali, buat ade-ade itu uang bukan segalanya, jangan menghalalkan berbagai cara dengan uang untuk mendapatkan posisi yang diiniginkan,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan mudah mudahan STIP menjadi suatu perguruan tinggi yang sesuai dengan Tri Darma perguruan tinggi, “harus melakukan suatu research harus ada pengabdian, “ jelasnya.



Cerita Angkatan 15 AIP

Menurut Awi Imam keseluruhan angkatan 15 terdiri dari 100 orang dan 10 diantaranya merupakan taruna dari malaysia, “mungkin yang meneruskan sekitar 80 yang lain ada yang di drop out dan pindah jurusan,” ungkapnya.

Ia menambahkan di jaman angkatannya terdiri dari 3 jurusan nautika, teknika, dan markonis, jaman dulu di kapal harus ada yang ahli radio.

Namun dalam perkembangannya jurusan markonis harus ditiadakan, hal ini membuat teman seangkatannya yang sudah di jurusan tersebut banyak yang mengalami kendala.

“Ada yang beruntung dia pindah jurusan, ada 2 orang yg menjadi pilot garuda, ada 2 jurusan yg pindah nautika, ada yang menjadi pengajar di STIP hingga saat ini masih mengajar, ada yang tidak bisa meneruskan karirnya karena terlambat dengan perubahan, itu kami prihatin,” jelasnya.

Pada saat sekolah pendidikan AIP di jamannya di tahun 1970 sudah sulit untuk mencari kerjaan berlayar diatas kapal, dikarenakan jumlah armada yang terbilang sedikit, ia menambahkan salah satu caranya ialah harus berangkat kerja di luar negeri.

Seperti diketahui dihadiri dalam reuni AIP angkatan 15 perwakilan dari Corps Alumni Akademi Ilmu Pelayaran (CAAIP) yang diwakili oleh Capt Otto dan Capt Zauhari yang mengenakan jas biru kebanggaan CAAIP.