Kecelakaan Kapal Tanto Bersinar, Rekomendasi Perbaikan Dari CAAIP -->

Iklan Semua Halaman

Kecelakaan Kapal Tanto Bersinar, Rekomendasi Perbaikan Dari CAAIP

Monday, January 25, 2021
(ilustrasi tug boat)

Kecelakaan kapal yang kembali terulang di Indonesia menarik Pengurus Corps Alumni Akademi Ilmu Pelayaran (CAAIP) melakukan diskusi daring atas musibah yang sepertinya belum ada obat mujarabnya itu.

Seperti diketahui pada hari Sabtu (23/1/2021) di perairan Gresik-Surabaya, pada pukul 03.30 WIB KM Tanto Bersinar (kapal container) menubruk Tug Boat Mitra Jaya XIX yang sedang menarik tongkang Makmur Abadi V bermuatan Crude Palm Oil.

Berikut adalah rangkuman yang diberikan oleh Capt Irwansyah M.Mar. M.KKK (Ahli Keselamatan) yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua CAAIP kepada eMaritim.


Kelompok kajian menyepakati bahwa atas setiap kecelakaan kapal yang terjadi, bukan hanya kesalahan individu, tapi collective dari culture organisasi, sampai ke regulatory. Tidak ada blaming culture dalam ilmu keselamatan modern.

Agenda pembahasan utama diskusi adalah;
1. Safe Navigation
2. Organization Safety Culture
3. Safety Behavior

Ini dikarenakan ke 3 hal tersebut belum terlaksana dengan baik di dunia pelayaran Indonesia sampai saat ini.

1. Safe Navigation
Ini adalah bagian terpenting dari good semanship, dimana kemampuan navigator adalah bagian yang utama dalam keselamatan pelayaran, terlepas dari keberadaan semua peralatan diatas anjungan kapal. Dengan banyaknya alat navigasi elektronik, kadang pelaut lupa kepada tugas utamanya yaitu melakukan good look out pada saat bernavigasi. Hal ini bisa berpengaruh fatal, seperti kapal menubruk kapal lain di sekelilingnya.

2. Organizational safety culture.
Hal ini banyak dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yakni behavior, person dan environment. Faktor environment memiliki pengaruh dalam keseluruhan penerapan safety behavior, dan sangat tergantung dari kondisi dan aturan yang ada di tempat kerja. Sehingga apabila seseorang bekerja pada sebuah institusi dengan bidang pekerjaan yang memiliki resiko tinggi, maka bisa dikatakan bahwa environment merupakan faktor yang paling dominan sebagai dasar pelaksanaan safety behavior. Ketiga faktor tersebut saling berkaitan, dan bergantung kepada faktor mana yang paling dominan untuk bisa dipakai sebagai basis pelaksanaan safety behavior.

3. Safety behaviour.
Untuk bisa melaksanakan perilaku keselamatan dalam bekerja, diperlukan adanya behaviour invididu yang baik. Namun demikian terkadang behaviour tersebut tidak melekat dalam diri individu, karena belum menjadi value (nilai dan attitude). Sehingga pekerja yang bersangkutan melakukan safety behavior hanya menuruti aturan perusahaan yang berlaku, bukan sebagai sebuah kesadaran akan pentingnya nilai keselamatan kerja.

Safety behavior tersebut belum menjadi value ataupun attitude bagi para pekerja dalam menjalankan pekerjaan walaupun dalam menjalankan nya mendapat intervensi secara internal maupun external.

Menurut Capt Dina Christina yang sehari-hari bekerja sebagai Independent Marine Inspector di pelayaran lepas pantai; "Selama survey dan audit kapal-kapal di pelayaran Indonesia paling umum kami temukan adalah kurangnya kesadaran  bernavigasi yang baik, mengikuti BRM (Bridge Resource Management) dan persiapan passage plan yang benar".

Lebih jauh dia menyarankan;
"Sebaiknya ini memang peran aktif INSA untuk ikut promote Marine Safety Culture, bisa bekerja sama dengan lembaga yang ahli dibidang tersebut seperti CAAIP dan Organisasi Profesi Perwira Pelayaran Niaga serta penerintah selaku regulator dunia pelayaran".(jan)