Lesson Learnt, Kapal Kandas

Iklan Semua Halaman

Lesson Learnt, Kapal Kandas

Wednesday, August 10, 2022

"Sekitar pukul 02.35 saat jam jaga mualim 2, saya terpental dari atas kasur dan merasakan benturan keras kapal dengan benda diluarnya. Sebagai nakhoda, saya langsung bergegas ke anjungan dan mendapati kapal dalam posisi kandas". Demikian penuturan Capt Lambok Pakpahan nakhoda KM NNNNSSSS (nama kapal disamarkan untuk privasi perusahaan).

(ilustrasi)


Ketika kapal anda kandas pada posisi fully loaded, membebaskan kapal dengan memompa ballast tidak bisa dijadikan opsi. Terlebih kandasnya pada tengah malam, setiap langkah yang akan dilakukan harus diperhitungkan dengan hati-hati agar kapal posisi tidak semakin buruk.


Sebagai seorang nakhoda yang terbilang masih muda, apa yang dilakukan Capt Lambok Pakpahan (lulusan STIP angkatan 54) bisa dijadikan contoh baik saat mengalami kecelakaan kapal. Berikut rangkuman dari kronologis kejadian kandasnya KM NNNNSSS pada 14 Oktober 2020 lalu.


Kapal selesai memuat 2600 MT tepung terigu di pelabuhan Panjang, Lampung untuk tujuan pelabuhan Makassar pada 13 Oktober 2020 jam 18.00 WIB. Pada pukul 20.00 Nakhoda mengedarkan OHN (One Hour Notice) sebagai pemberitahuan kepada semua crew, bahwa kapal akan berangkat dalam waktu 1 jam kedepan, nakhoda juga mempersiapkan Master Night Order karena kapal akan berlayar malam hari. 


Tepat pukul 21.15, kapal Cast Off meninggalkan pelabuhan Panjang dan pandu turun 10 menit kemudian. Nakhoda melanjutkan manuver kapal sampai pukul 22.00, dan mengubah menjadi BOSV (begin of sea voyage). Seperti biasa, nakhoda melanjutkan tugas sebagai navigator sampai pukul 24.00 dan melakukan serah terima dengan Mualim 2 yang melanjutkan membawa kapal dari pukul 00.00-04.00.


Pada pukul 02.35 kapal NNNNSSS menabrak karang tepat diutara pulau Sebuku yang mengakibatkan benturan cukup keras. Nakhoda bergegas ke anjungan menyalakan lampu dek dan segera memerintahkan ABK memeriksa keadaan sekeliling kapal dan melakukan sounding tangki-tangki. ballast. Tidak lama kemudian kapal miring sekitar 12° ke kiri dan ditemukan kebocoran pada tangki Forepeak dan tangki ballast nomor 2 tengah. Mempertimbangkan resiko lost of buoyancy karena kemiringan kapal, nakhoda mencoba mengeluarkan kapal dari posisi tersebut menggunakan mesin dan bantuan bow thruster. Saat berangkat dari Panjang, draft depan 5,45 m dan pada posisi kandas hanya memiliki draft depan 3,11 m. Artinya ada ground friction yang besar, dibutuhkan tenaga yang besar untuk bisa keluar dari posisi itu.


Setelah berusaha 1 jam dan tidak berhasil, maka diputuskan untuk menyetop usaha tersebut setelah meyakinkan bahwa kapal tidak memiliki resiko terbalik. ABK lalu memeriksa semua compartment serta kedalaman perairan. Nakhoda memberitahu kantor dan otoritas kondisi yang terjadi serta meminta bantuan kapal untuk menarik keluar. Nakhoda juga memberitahu petugas TSS di Merak tentang kecelakaan ini, agar kapal yang lewat berhati-hati.


Sayangnya setelah 2 hari belum ada bantuan yang datang untuk menyelamatkan kapal, dan pada hari ke 3, nakhoda memutuskan menelpon seniornya untuk meminta advice. Disinilah sang nakhoda memainkan peran krusialnya demi menyelamatkan ABK, kapal, dan muatannya, karena posisi kapal terus bergeser dan semakin miring ke kiri setiap harinya. Beruntung sebuah tug berkekuatan 3200 HP bisa didatangkan 4 jam kemudian, setelah kesepakatan harga antara kantor dan pemilik tug disepakati. Kapal berhasil keluar tidak lama setelah ditarik oleh Tug dan bantuan mesin kapal sendiri. Nakhoda langsung mengarahkan kapalnya menuju daerah labuh jangkar yang aman sambil kembali memastikan bahwa hanya 2 tangki saja yang bocor.


Atas kordinasi dengan pihak kantor, dikirimkan tim penyelam untuk memeriksa lebih jauh dan menambal sementara tangki yang bocor dengan tehnik doubling. Perbaikan ini pun selanjutnya diperiksa petugas klasifikasi dan memberikan rekomendasi bahwa kapal masih bisa berlayar ke destinasi tujuan dengan aman setelah kebocoran ditangani.


Kapal pada akhirnya tiba di Makassar dan membongkar muatannya tanpa hambatan, selanjutnya setelah itu kapal berlayar menuju dok di Jakarta untuk perbaikan sampai selesai.


Sebagai penanggung jawab keselamatan ABK, kapal dan muatannya. nakhoda memainkan peran yang tepat. Karena selain sebagai pemimpin diatas kapal, nakhoda juga merupakan perwakilan perusahaannya.


Pertanyaannya ; 

Apakah aman berlayar dengan tangki yg bocor pada lunasnya dan ditambal sementara?


Silahkan memberikan saran dan komen dikolom komentar.