Maritime Excellence: Ketika Keselamatan Berhenti Menjadi Formalitas

Iklan Semua Halaman

Maritime Excellence: Ketika Keselamatan Berhenti Menjadi Formalitas

Ananta Gultom
24 Juni 2026

 


Setiap tanggal 25 Juni, dunia maritim memperingati Day of the Seafarer sebagai bentuk penghormatan kepada para pelaut yang bekerja tanpa banyak sorotan. Mereka adalah orang-orang yang memastikan rantai pasok global tetap bergerak, mengangkut energi, bahan pangan, hingga kebutuhan sehari-hari yang sering kali kita nikmati tanpa pernah memikirkan bagaimana barang tersebut sampai ke tangan kita.


Namun tahun ini, tema yang diangkat oleh IMO terasa lebih menggugah dibandingkan biasanya. “From Policy to Practice: Powering Maritime Excellence” bukan sekadar slogan tahunan. Bagi saya, tema tersebut justru mengandung sebuah pengakuan yang cukup jujur: bahwa masih ada jarak yang lebar antara kebijakan yang dibuat di darat (kantor Perusahaan pelayaran) dan kenyataan yang dijalani oleh para pelaut di atas kapal.


Selama bertahun-tahun industri pelayaran terus memperkuat sistemnya. Regulasi semakin lengkap. Audit semakin ketat. Prosedur semakin rinci. Manual keselamatan semakin tebal. Di atas kertas, semuanya terlihat meyakinkan.


Tetapi sebuah pertanyaan sederhana layak kita ajukan: apakah semakin banyak prosedur otomatis membuat operasi kapal menjadi semakin aman?


Jawabannya ‘tidak’ selalu demikian.


Dalam berbagai kesempatan berdiskusi dengan pelaut maupun praktisi pelayaran, saya sering menemukan keluhan yang sebenarnya serupa. Banyak awak kapal merasa bahwa sebagian besar energi mereka tersita untuk memastikan dokumen terlihat sempurna. Checklist harus terisi. Laporan harus lengkap. Formulir harus ditandatangani.


Tidak ada yang salah dengan dokumentasi, karena memang itulah bagian dari sistem keselamatan modern. Masalah muncul ketika perhatian terhadap dokumen menjadi lebih besar daripada perhatian terhadap kondisi nyata di lapangan.


Pada titik inilah keselamatan berisiko berubah menjadi formalitas.


Fenomena tersebut bukan rahasia di industri maritim. Berbagai penelitian yang dilakukan World Maritime University bahkan memperkenalkan istilah culture of adjustment, yaitu praktik menyesuaikan dokumen agar sesuai dengan ekspektasi audit meskipun kondisi operasional yang sebenarnya tidak selalu demikian. Kalimatnya mungkin terdengar keras, tetapi kenyataannya cukup sederhana: ada checklist yang dicentang sebelum pekerjaan dilakukan, ada formulir yang diisi berdasarkan kebiasaan, bukan berdasarkan hasil pemeriksaan yang sesungguhnya.


Dokumen menjadi sempurna. Sistem terlihat berjalan. Namun risiko tetap ada.


Ironisnya, banyak kecelakaan justru lahir dari situasi seperti ini. Bukan karena prosedur tidak tersedia, melainkan karena prosedur tersebut tidak benar-benar hidup dalam aktivitas sehari-hari. Investigasi berbagai kecelakaan pelayaran, termasuk yang dilakukan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi, berulang kali menunjukkan bahwa akar masalah sering kali bukan terletak pada kurangnya aturan, melainkan pada lemahnya implementasi dan pengawasan.


Di sinilah saya melihat pentingnya peran Designated Person Ashore atau DPA.


Terlalu sering kita mendengar bahwa DPA adalah “mata dan telinga” manajemen perusahaan. Namun pertanyaannya, apakah manajemen benar-benar melihat dan mendengar?


Dalam banyak perusahaan pelayaran, posisi DPA masih identik dengan pengelolaan dokumen, pengumpulan laporan, dan persiapan audit. Padahal jika merujuk pada semangat ISM Code, peran DPA jauh lebih strategis daripada itu. DPA seharusnya menjadi jembatan yang menghubungkan realitas operasional kapal dengan ruang rapat direksi di kantor.


Ketika awak kapal kesulitan menerapkan sebuah prosedur karena keterbatasan waktu, personel, atau sumber daya, DPA seharusnya menjadi orang pertama yang menyampaikan fakta tersebut kepada manajemen. Ketika kebijakan yang dibuat di kantor ternyata tidak realistis untuk diterapkan di lapangan, DPA harus memiliki keberanian untuk mengatakan bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki.


Karena pada akhirnya, keselamatan bukan soal apakah prosedur telah diterbitkan. Keselamatan adalah soal apakah prosedur tersebut benar-benar dapat dijalankan.


Sayangnya, masih ada kecenderungan di sebagian organisasi perusahaan mengukur keberhasilan melalui indikator administratif. Selama dokumen lengkap dan audit berjalan lancar, sistem dianggap baik-baik saja. Padahal kondisi sebenarnya bisa sangat berbeda.


Menurut saya, cara pandang seperti ini perlu diubah.


Maritime Excellence tidak akan pernah tercapai hanya dengan memperbanyak aturan. Keselamatan bukan produk administrasi. Keselamatan adalah hasil dari perilaku, budaya kerja, komunikasi yang terbuka, dan kepemimpinan yang hadir secara nyata.


Karena itu, pembahasan mengenai keselamatan maritim tidak boleh dilepaskan dari faktor manusia. Kita sering berbicara tentang kapal, mesin, teknologi, dan regulasi, tetapi terkadang lupa bahwa semua sistem tersebut dijalankan oleh manusia yang memiliki keterbatasan fisik maupun psikologis.


Pelaut yang kelelahan tidak akan mampu mengambil keputusan dengan kualitas yang sama seperti pelaut yang cukup beristirahat. Pelaut yang bekerja di bawah tekanan berkepanjangan lebih rentan melakukan kesalahan. Pelaut yang merasa tidak didengar pada akhirnya akan kehilangan kepedulian terhadap sistem yang seharusnya mereka jalankan.


Karena itulah pendekatan yang berpusat pada manusia menjadi semakin penting. Kepatuhan yang lahir karena kesadaran akan selalu lebih kuat dibandingkan kepatuhan yang lahir karena rasa takut.


Tantangan ke depan bahkan akan menjadi lebih kompleks. Agenda dekarbonisasi IMO, digitalisasi pelayaran, dan berbagai tuntutan efisiensi operasional akan menambah tekanan bagi perusahaan maupun awak kapal. Dalam beberapa tahun mendatang, industri pelayaran tidak hanya dituntut untuk lebih aman, tetapi juga lebih ramah lingkungan dan lebih efisien.


Pertanyaannya bukan lagi apakah perubahan itu akan terjadi. Jawabannya adalah: perubahannya sudah dan sedang berlangsung.


Pertanyaannya adalah apakah kita siap memastikan bahwa setiap kebijakan baru benar-benar dapat diterapkan oleh orang-orang yang menjalankannya di kapal.


Di sinilah makna sesungguhnya dari tema Day of the Seafarer 2026. Bukan tentang menambah regulasi baru atau memperbanyak prosedur. Melainkan tentang memastikan bahwa apa yang ditulis di atas kertas benar-benar menjadi praktik yang hidup di atas kapal.


Sebab pada akhirnya, keunggulan pelayaran tidak diukur dari seberapa tebal manual keselamatan yang dimiliki perusahaan. Keunggulan pelayaran diukur dari kemampuan organisasi perusahaan untuk menerjemahkan kebijakan menjadi tindakan nyata, dari ruang rapat hingga keanjungan kapal.


Dan di tengah laut, tindakan nyata selalu lebih berharga daripada seribu halaman prosedur.

Oleh: Capt. Popo Hartoyo, M.M., M.Mar

Praktisi Maritim dan Akademisi