JAKARTA, eMaritim – Peringatan Hari Pelaut Sedunia (Day of the Seafarer) yang diperingati setiap 25 Juni menjadi momentum penting untuk menegaskan kembali peran strategis pelaut Indonesia dalam menjaga kelancaran perdagangan global sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi nasional. Tahun ini, peringatan mengusung tema "Carrying World Trade, Carrying the Risks", yang menyoroti besarnya kontribusi sekaligus risiko yang dihadapi para pelaut di seluruh dunia.
Sekretaris Jenderal PPNK 223 Lemhannas RI, R. Adhimaskin Kusumawardani, menegaskan bahwa pelaut Indonesia merupakan aset strategis bangsa yang berperan menjaga rantai pasok global. Menurutnya, profesi pelaut bukan sekadar pekerjaan, tetapi juga bentuk pengabdian kepada negara karena menjadi salah satu pilar utama yang menopang stabilitas logistik dan perekonomian dunia.
Menghadapi transformasi industri maritim, Adhimaskin menilai peningkatan kompetensi sumber daya manusia menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditunda.
Ia menekankan bahwa digitalisasi, dekarbonisasi, dan penerapan green shipping menuntut pelaut Indonesia untuk menguasai teknologi baru, mulai dari sistem propulsi hibrida hingga manajemen energi kapal. Adaptasi terhadap perkembangan teknologi dinilai sebagai syarat utama agar pelaut Indonesia tetap kompetitif di pasar pelayaran internasional.
Selain peningkatan kompetensi, ia juga mendorong terciptanya ekosistem yang lebih berpihak kepada pelaut melalui peningkatan kesejahteraan, perlindungan hukum, serta pemenuhan standar keselamatan kerja sesuai konvensi internasional.
Untuk mewujudkan hal tersebut, diperlukan sinergi yang lebih kuat antara pemerintah, asosiasi profesi, dan pelaku industri maritim.
Menutup pesannya, Adhimaskin menyampaikan apresiasi kepada seluruh pelaut Indonesia yang bertugas di dalam maupun luar negeri. Ia mengajak seluruh pelaut untuk terus menjunjung tinggi profesionalisme, mengutamakan keselamatan, serta menjadi duta bangsa yang membanggakan di kancah maritim dunia.

Komentar
