Bekerja di Kapal dan Offshore di Era Digital: Mengapa Cyber Marine Security Kini Menjadi Bagian dari Keselamatan
Ancaman
Siber Mengintai Kapal dan Pelabuhan, Kesiapsiagaan Sektor Maritim Indonesia
Makin Penting
eMaritim.com — Perspektif Maritim
Selama bertahun-tahun, keselamatan
kerja di kapal dan fasilitas offshore identik dengan bahaya yang terlihat:
cuaca buruk, gelombang tinggi, kebakaran, ledakan, lifting operation, confined
space, machinery failure hingga human error.
Namun, di tengah semakin digitalnya
industri maritim, muncul satu jenis risiko yang tidak terlihat tetapi dapat
memengaruhi operasi secara nyata:
cyber risk.
Masalahnya, cyber security masih
sering dianggap sebagai urusan departemen IT.
Padahal kapal modern dan fasilitas
offshore semakin bergantung pada teknologi informasi dan Operational
Technology (OT) untuk menjalankan, memonitor, mengendalikan, dan mendukung
berbagai aktivitas operasional.
IMO mendefinisikan maritime cyber
risk sebagai risiko ketika suatu aset teknologi dapat terancam oleh suatu
kejadian yang menyebabkan kegagalan operasional, keselamatan atau keamanan
akibat informasi atau sistem yang rusak, hilang atau dikompromikan. Tujuan
akhirnya bukan sekadar melindungi komputer, tetapi memastikan pelayaran tetap
aman dan operasionalnya tangguh menghadapi risiko siber.
Dengan kata lain:
Cyber
Security di kapal bukan hanya masalah data. Ini juga masalah safety.
Ketika
Komputer Bertemu dengan Mesin
Kapal masa kini bukan lagi sekadar
kumpulan mesin mekanis.
Di anjungan terdapat berbagai
perangkat digital dan elektronik untuk mendukung navigasi dan komunikasi.
Di engine room terdapat sistem
monitoring dan automation.
Pada kapal tertentu terdapat
integrated systems yang menghubungkan berbagai perangkat.
Di pelabuhan terdapat sistem digital
untuk cargo, terminal operation, gate access, dokumentasi dan pertukaran data.
Sementara pada fasilitas offshore,
digitalisasi dapat menjadi lebih kompleks karena operasi melibatkan berbagai
sistem komunikasi, monitoring, automation, machinery control dan koneksi dengan
fasilitas di darat.
Di sinilah muncul perbedaan penting
antara Information Technology (IT) dan Operational Technology (OT).
IT pada dasarnya berkaitan dengan
pengelolaan informasi dan data.
OT berhubungan dengan sistem yang
memonitor atau mengendalikan perangkat, proses dan kejadian fisik.
Pedoman industri tentang cyber
security onboard ships menekankan bahwa meningkatnya konektivitas antara IT dan
OT juga dapat meningkatkan potensi kerentanan cyber.
Karena itu, ketika seseorang
mengatakan:
"Saya bukan orang IT."
jawabannya mungkin benar.
Tetapi bukan berarti orang tersebut
tidak mempunyai peran dalam cyber security.
Dari Laptop ke Operational Safety
Bayangkan seorang engineer membawa laptop untuk melakukan pekerjaan maintenance.
Seorang technician menggunakan USB
untuk memindahkan file.
Seorang vendor melakukan remote
troubleshooting.
Seorang crew menghubungkan perangkat
ke jaringan kapal.
Seorang operator menerima email yang
terlihat seperti berasal dari kantor.
Semua kegiatan tersebut mungkin
merupakan aktivitas normal.
Tetapi setiap perangkat, akun, media
penyimpanan dan koneksi dapat menjadi bagian dari cyber attack surface
apabila tidak dikelola dengan benar.
Itulah sebabnya cyber risk
management tidak dapat hanya diserahkan kepada IT department.
IMO menyatakan bahwa sistem IT dan
OT di kapal dapat menjadi sasaran serangan siber dan kompromi terhadap sistem
tersebut berpotensi memberikan dampak serius terhadap keselamatan dan keamanan
kapal, pelabuhan, fasilitas maritim serta sistem transportasi laut.
Bagaimana Risiko Siber Memengaruhi Offshore Drilling?
Persoalan ini menjadi semakin
penting ketika kita berbicara mengenai offshore drilling dan offshore energy
operations.
Fasilitas offshore modern semakin
mengandalkan sistem digital untuk mendukung kegiatan operasi dan maintenance.
Ada sistem monitoring.
Ada automation.
Ada komunikasi.
Ada remote support.
Ada data transfer.
Ada condition monitoring.
Ada berbagai sistem yang
memungkinkan informasi dari lokasi offshore dikirimkan ke shore-based
operation.
Semua teknologi tersebut memberikan
keuntungan besar.
Tetapi semakin banyak koneksi
berarti semakin banyak pula hal yang harus diperhitungkan dalam cyber risk
assessment.
Pedoman Cyber Security Onboard Ships
bahkan memasukkan offshore sebagai salah satu contoh konteks yang dapat
menggunakan pendekatan cyber risk management.
Maka pertanyaan penting bukan:
"Apakah offshore harus kembali
menggunakan sistem manual?"
Tentu bukan.
Pertanyaannya adalah:
"Bagaimana digitalisasi
offshore dapat dilakukan dengan cyber resilience yang memadai?"
Ancaman Tidak Selalu Datang dari Hacker yang Terlihat
Ketika mendengar istilah cyber
attack, banyak orang langsung membayangkan seorang hacker yang sedang menyerang
komputer dari tempat yang jauh.
Dalam kenyataannya, pintu masuk
sebuah serangan dapat jauh lebih sederhana.
Misalnya:
Phishing
Seseorang menerima email palsu yang
terlihat seperti komunikasi resmi.
Malware
Sebuah file atau perangkat membawa
program berbahaya.
Compromised password
Password jatuh ke tangan pihak yang
tidak berhak.
Unauthorized remote access
Seseorang mendapatkan akses yang
seharusnya tidak dimiliki.
Unsafe USB
Media penyimpanan digunakan tanpa
pemeriksaan yang memadai.
Uncontrolled personal device
Perangkat pribadi dihubungkan ke
sistem operasional.
Human error
Seseorang melakukan tindakan yang
tidak disadari dapat membuka celah keamanan.
Karena itu, cyber security tidak
hanya membutuhkan teknologi.
Dibutuhkan juga manusia yang
sadar risiko.
Human Factor: Titik Lemah yang Sering Dilupakan
Dalam dunia keselamatan maritim,
kita sudah lama memahami konsep human factor.
Banyak kecelakaan bukan semata-mata
karena mesin rusak, tetapi juga karena keputusan, komunikasi, prosedur,
kelelahan, kurangnya training atau kesalahan manusia.
Prinsip yang sama berlaku pada cyber
security.
Seseorang tidak harus berniat buruk
untuk menyebabkan cyber incident.
Cukup:
tidak tahu → salah klik → salah
koneksi → sistem terganggu.
Karena itu cyber awareness harus
dibangun pada semua tingkatan organisasi.
Mulai dari:
- senior management,
- shore management,
- Master,
- Chief Engineer,
- deck officer,
- engineer,
- ETO,
- rating,
- drilling crew,
- operator,
- maintenance personnel,
- contractor,
- vendor,
- hingga personel pendukung.
IMO juga menekankan bahwa cyber risk
management yang efektif perlu dimulai dari tingkat manajemen dan menjadi bagian
dari budaya organisasi di berbagai level dan departemen.
"Saya Tidak Mengerti Cyber Security"
Pernyataan tersebut masih sangat
sering terdengar.
Dan sebenarnya seorang pelaut tidak
perlu menjadi cybersecurity engineer.
Seorang Chief Engineer tidak perlu
menjadi penetration tester.
Seorang Master tidak perlu memahami
seluruh konfigurasi network.
Seorang Driller tidak harus menjadi
SOC analyst.
Namun setiap personel perlu
mengetahui basic cyber hygiene.
Minimal memahami:
Jangan sembarang menggunakan USB
Pastikan media penyimpanan mengikuti
prosedur perusahaan.
Jangan
sembarang menghubungkan laptop
Perangkat pribadi atau perangkat
vendor harus mengikuti prosedur akses yang berlaku.
Jangan
membagikan password
Credential adalah bagian dari
pengamanan akses.
Waspadai
email dan attachment
Email yang terlihat resmi belum
tentu benar.
Jangan
mengabaikan gejala aneh
Komputer, network atau perangkat
operasional yang menunjukkan perilaku tidak normal harus dilaporkan.
Jangan
mencoba memperbaiki sistem kritis tanpa kewenangan
Dalam kondisi tertentu, tindakan
"membantu" justru dapat memperburuk incident.
Bagaimana Jika Sistem Tiba-Tiba Bermasalah?
Bayangkan sebuah situasi:
Sebuah komputer operasional
tiba-tiba menunjukkan perilaku yang tidak biasa.
Ada file yang berubah.
Koneksi tiba-tiba terputus.
Akun tidak dapat digunakan.
Muncul pesan yang tidak dikenal.
Atau perangkat yang biasanya bekerja
normal tiba-tiba menunjukkan gejala aneh.
Respons pertama bukan:
"Saya coba perbaiki
sendiri."
Tetapi:
STOP
– ISOLATE AS REQUIRED – REPORT – FOLLOW PROCEDURE
Tindakan spesifik tentu harus
mengikuti prosedur cyber incident response perusahaan dan karakteristik sistem
yang terdampak.
Yang penting adalah jangan
memperluas masalah dan jangan menghilangkan informasi penting yang dapat
membantu investigasi.
Cyber Risk Sudah Masuk ke Safety Management
Cyber security bukan lagi isu masa
depan.
IMO pada 2017 mengadopsi Resolution
MSC.428(98) – Maritime Cyber Risk Management in Safety Management Systems.
Resolusi tersebut mendorong agar
cyber risk ditangani dalam Safety Management System sesuai tujuan dan
persyaratan ISM Code. IMO juga telah menerbitkan Guidelines on Maritime Cyber
Risk Management sebagai panduan bagi industri.
Artinya, perusahaan tidak seharusnya
melihat cyber risk sebagai proyek IT yang berdiri sendiri.
Cyber risk perlu dipertimbangkan
dalam kerangka:
Risk Assessment → Prevention →
Detection → Response → Recovery
Sama seperti risiko operasional
lainnya.
Kapal yang Aman Harus Semakin Cyber-Resilient
Konsep keselamatan kapal selama ini
berkembang mengikuti teknologi.
Dulu kita berbicara tentang:
SOLAS – ISM – ISPS – STCW – SMS
Kemudian berkembang dengan berbagai
sistem elektronik, automation dan digitalization.
Sekarang kita memasuki fase baru:
Cyber
Resilience.
Tujuannya bukan menjamin bahwa
serangan siber tidak akan pernah terjadi.
Itu hampir mustahil.
Tujuan yang lebih realistis adalah
memastikan bahwa ketika sebuah cyber incident terjadi:
- ancaman dapat diketahui,
- dampak dapat dibatasi,
- operasi kritis dapat dipertahankan,
- incident dapat direspons,
- sistem dapat dipulihkan,
- dan pelajaran dapat digunakan untuk mencegah kejadian
serupa.
Itulah hakikat resilience.
Jangan Menunggu Sampai Terjadi Insiden
Salah satu masalah dalam cyber
security adalah kita sering baru menyadari pentingnya keamanan setelah terjadi
gangguan.
Padahal pencegahan dapat dimulai
dari hal-hal sederhana.
Perusahaan dapat meningkatkan:
- cyber awareness training,
- risk assessment,
- access control,
- password management,
- network segmentation,
- backup,
- patch management,
- device control,
- remote access control,
- incident response plan,
- drills dan exercises,
- vendor management,
- serta cyber security awareness bagi crew.
Untuk pekerja kapal dan offshore,
training juga harus dibuat praktis dan sesuai pekerjaan, bukan hanya
teori IT.
Cyber Drill: Mengapa Tidak Seperti Fire Drill?
Di kapal kita terbiasa melakukan:
Fire Drill.
Abandon Ship Drill.
Enclosed Space Rescue Drill.
Security Drill.
Lalu mengapa tidak mulai
memperkenalkan:
Cyber
Incident Exercise?
Tidak harus rumit.
Skenarionya bisa sederhana:
"Laptop maintenance terindikasi
malware."
Kemudian tim mendiskusikan:
- siapa yang harus diberitahu?
- siapa yang berwenang memutuskan?
- apakah perangkat harus diisolasi?
- bagaimana menjaga evidence?
- bagaimana pekerjaan tetap berlangsung?
- kapan shore management harus diberitahu?
- bagaimana sistem dipulihkan?
Latihan semacam ini dapat
meningkatkan kesiapan tanpa harus menunggu serangan sungguhan.
Indonesia Tidak Bisa Mengabaikan Ancaman Ini
Indonesia merupakan negara kepulauan
dengan aktivitas pelayaran, pelabuhan, terminal, offshore energy dan industri
maritim yang sangat besar.
Di tengah digitalisasi tersebut,
ketahanan sistem digital menjadi bagian penting dari ketahanan sektor maritim.
IMO saat ini terus mengembangkan
pendekatan terhadap cyber resilience. Dalam perkembangan terbaru, Maritime
Single Window juga menjadi perhatian cyber security; IMO mencatat bahwa pada
FAL 50 telah disetujui rancangan amendemen yang akan memperkuat perlindungan
dan resilience sistem digital yang digunakan untuk pertukaran informasi antara
kapal, pelabuhan dan otoritas. Rancangan tersebut akan diajukan untuk adopsi
pada FAL 51 pada 2027.
Ini menunjukkan satu hal:
Digital
maritime security akan semakin menjadi bagian dari agenda keselamatan dan
keamanan maritim dunia.
Dari "Safety First" Menjadi "Safety +
Cyber Safety"
Sudah waktunya lingkungan maritim
mulai memperluas cara pandangnya.
Ketika melakukan toolbox meeting,
kita bertanya:
Apa bahaya pekerjaan hari ini?
Ke depan, dapat ditambahkan:
Apa cyber risk dari pekerjaan hari
ini?
Ketika melakukan risk assessment:
Apa yang dapat menyebabkan
kecelakaan?
Tambahkan:
Apakah ada sistem digital yang dapat
memengaruhi risiko tersebut?
Ketika vendor datang:
Apa pekerjaan yang akan dilakukan?
Tambahkan:
Akses digital apa yang diperlukan
dan bagaimana akses tersebut dikendalikan?
Ketika menggunakan perangkat:
Apakah perangkat tersebut
diperlukan?
Tambahkan:
Apakah perangkat tersebut aman untuk
dihubungkan ke sistem operasional?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana
seperti ini dapat mengubah budaya organisasi.
Cyber Security Adalah Tanggung Jawab Bersama
Cyber Marine Security bukan
pekerjaan eksklusif IT department.
Bukan hanya tanggung jawab Master.
Bukan hanya tanggung jawab Chief
Engineer.
Bukan hanya tanggung jawab ETO.
Dan bukan hanya tanggung jawab shore
management.
Ini adalah tanggung jawab bersama.
Karena satu kelemahan kecil dapat
menjadi pintu masuk menuju masalah yang jauh lebih besar.
Di era kapal pintar, automation,
remote monitoring, digital port dan offshore operation yang semakin terkoneksi,
seorang pekerja maritim harus memiliki dua kesadaran sekaligus:
Safety
Awareness
dan
Cyber
Awareness.
Keduanya semakin sulit dipisahkan.
Penutup: Ancaman yang Tidak Terlihat Harus Dihadapi
dengan Kesadaran
Kapal mungkin terlihat aman dari
luar.
Mesin mungkin bekerja normal.
Anjungan mungkin berjalan seperti
biasa.
Operasi offshore mungkin berlangsung
tanpa gangguan.
Tetapi di balik semua itu terdapat
jaringan digital yang semakin kompleks.
Dan jaringan tersebut juga
membutuhkan perlindungan.
Serangan siber tidak selalu dimulai
dengan sesuatu yang spektakuler.
Kadang hanya dimulai dari:
satu klik.
Satu password.
Satu USB.
Satu laptop.
Satu koneksi remote.
Atau bahkan satu kesalahan kecil
karena kurangnya awareness.
Karena itu, sudah saatnya cyber
security tidak lagi dianggap sebagai istilah asing bagi pekerja maritim.
Bagi industri pelayaran dan offshore
Indonesia, pesan sederhananya adalah:
CYBER
SECURITY IS MARITIME SAFETY.
Semakin cepat kesadaran tersebut
tumbuh di kapal, pelabuhan dan fasilitas offshore, semakin siap pula industri
maritim Indonesia menghadapi era digital yang semakin terkoneksi.
eMaritim.com

Komentar
