BATTLING THE STORM
Catatan; Capt Zaenal Arifin Hasibuan
Di hari Perhubungan Nasional 17 September 2026 ini redaksi eMaritim.com menyampaikan bela sungkawa atas tragedi kecelakaan kapal Virgo Transport 8, Mutiara Sentosa 2 dan kapal lain di Indonesia belakangan ini.
Atas kecelakaan terakhir KM Virgo Transport 8, dimana kapal masih dalam kondisi terkelungkup di tengah laut sampai saat ini dengan potensi banyaknya korban yang terjebak di dalam kapal, penulis akan fokus kepada Good Seamanship seorang nakhoda dalam melayari kapal pada kondisi yang dianggap tidak bersahabat.
Apa yang harus dilakukan kapal di tengah laut saat menghadapi ombak besar?
1. Untuk kapal yang masih dekat dengan pulau, hal yang umum dilakukan adalah mencari shelter dengan berlindung di balik pulau, let go jangkar sepanjang mungkin dan lanjutkan dengan berjaga-jaga. Sebagai contoh; Lingayen bay adalah tempat paling sering dipakai kalal saat terjebak taifun di pacific.
2. Untuk kapal yang berada di laut dan tidak ada tempat berlindung dari terjangan ombak, maka cara terbaik yang harus dilakukan adalah memperhatikan tangki-tangki cairan, hanya ada 2 pilihan: penuh atau kosongkan jangan membiarkan free surface moment memperburuk keadaan kapal.
3. Pintu pintu kedap air harus ditutup rapat dan jangan ada celah sedikit pun untuk air masuk kedalamnya, tambahkan vaseline di karet pintu untuk menambah kedap.
3. Periksa kekuatan lashing muatan atau kendaraan. Tambahkan lashing jika perlu dan dunnage untuk mencegah muatan bergeser kesamping. Lashing putus akan berakibat fatal miringnya kapal.
4. Jika GM (stabilitas) kapal terlalu kecil maka isi penuh tangki ballast untuk memperbesar Momen Penegak agar kapal mempunyai stabilitas yg lebih baik berlayar di laut yang ganas, pengisian tidak boleh dilakukan dalam kondisi kapal rolling.
5. Navigator di anjungan dan Masinis di kamar mesin harus tetap melakukan tugasnya dengan baik, harus selalu ada yang bertugas sepanjang waktu.
6. Setelah semua itu dilakukan, maka Nakhoda harus kembali ke kodratnya sebagai manusia yang tidak takut menerjang ombak dan badai, kapal harus battling the storm !.
Yang dimaksud dengan battling the storm adalah bernavigasi dengan selalu menempatkan haluan kapal kearah datangnya gelombang alias menerjang gelombang, ini adalah cara paling aman karena beberapa aspek yang sudah dikaji terutama dari sisi stabilitas kapal dan kemampuan konstruksi kapal berada di keadaan yang sangat ekstrem. Hal ini sangat efisien apabila kapal benar-benar bebas bermanuver dengan tidak ada kapal lain atau pulau di dekatnya. Kecepatan harus di sesuaikan karena kapal hanya buying time sampai gelombang berlalu dan keadaan menjadi tenang kembali.
Membiarkan gelombang menghantam dari sisi kiri atau kanan, adalah pilihan yang buruk dan kapal bisa cepat tenggelam. Hal lain adalah bahwa dengan external force yang besar dari samping maka kapal akan rolling dengan keras yang bisa mempercepat kerusakan konstruksi kapal. Dengan rolling yang keras pelaut sangat sulit untuk membuat makanan bahkan sulit untuk tidur sehingga kondisi crew kapal akan mudah kena penyakit dan Fatigue.
Hal yang harus dilakukan saat haluan kapal dan arah ombak besar membentuk sudut 90 derajat, kapal harus merubah haluannya sehingga haluan menghadap gelombang.
Banyak juga yang beranggapan bahwa Sailing with the sea adalah cara yang aman dan nyaman karena kapal tidak harus pitching dengan keras, hal ini sangat terbatas dilakukan untuk beberapa kapal dengan kecepatan tertentu dan tergantung besarnya gelombang. Dengan rata rata kecepatan kapal niaga berada diantara 10 - 15 knot, maka kapal terlalu pelan untuk ikut Surfing bersama gelombang dan bahkan akan bisa terlempar ke kiri atau kanan bahkan terbalik.
Ini seperti kita mengendarai mobil dengan kecepatan 20 km/jam, tetapi didorong oleh buldozer berkecepatan 30 km/jam. Mobil akan selalu oleng dan terlempar hilang kendali.
Dalam keadaan kapal berlayar dengan dorongan ombak dari belakang, kapal akan banyak kehilangan kontrol terhadap kemudinya dan kehilangan stabilitas terutama saat puncak gelombang berada di tipping centre/ tengah kapal, keadaan ini disebut ( quasi ) static lost of stability atau Pure loss stability.
Bahkan dengan ombak yang datang dari Port/Starboard quater (kiri atau kanan belakang dari sudut 135 derajat atau 225 derajat) pun masih bahaya untuk kapal.
Dalam kejadian tenggelamnya kapal Ropax Finn Birch di Laut Baltik yang dingin pada November 2006 dimana penulis termasuk diantara kapal yang datang untuk rescue, didapat sebuah rekomendasi hasil incident investigation yang mengatakan; *apabila panjang gelombang berkisar 0,6 sampai 2,3 dari panjang garis air kapal dan kecepatan kapal sama atau lebih pelan dari kecepatan gelombang, maka kemungkinan Pure Loss Stability atau (quasi) static lost of stability akan terjadi*. Kapal akan kehilangan kemampuan momen penegak atau Righting Arm nya sehingga kapal miring dan tidak kembali ke posisi tegak yang pada akhirnya akan terbalik.
Dari segala jenis kapal yang paling rentan terbalik pada posisi ini adalah : Kapal Roro dan Kapal Container, dan kapal passanger. Tetapi karena kapal Roro (bisa Ropax, atau Storo) membawa muatan yang heterogen berbagai jenis ukuran kendaraan, maka jenis inilah tang paling rentan. Selamat atau tidaknya kapal terhantung pada 3 hal utama;
1. Stabilitas positif
2. Watertight Integrity
3. Lashing yang kuat
Oleh karena itu, apabila menghadapi ombak dari samping, jangan biarkan keadaan itu juga jangan membalikkan badan. Hadapilah gelombang sebesar apapun dari depan. Karena secara kodrat pelaut adalah orang yang gemar mengarungi samudra dan tidak takut menerjang badai, maka siapa yang mempersiapkan diri dan kapalnya dengan baik akan selamat. Oleh karena itu apabila memang harus menghadapi gelombang besar ditengah dilaut, maka Face it ! never turn your back dan Terjanglah gelombang serta berdoa meminta keselamatan dari Allah SWT !!. Semoga tulisan berguna.
salam maritim
zah




Tidak ada komentar:
Komentar yang bijaksana dan bertanggung jawab sesuai dengan yang diatur dalam UU ITE.
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Komentator.