Krisis Hormuz Ubah Jalur Minyak Dunia: VLCC dan Ship-to-Ship Jadi Sorotan

Iklan Semua Halaman

Krisis Hormuz Ubah Jalur Minyak Dunia: VLCC dan Ship-to-Ship Jadi Sorotan

Ananta Gultom
25 September 2026

 



Krisis pelayaran di Selat Hormuz mulai mengubah cara minyak Timur Tengah dikirim ke pasar dunia.

Ketika lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz masih jauh di bawah kondisi normal, perusahaan minyak dan operator kapal mencari cara untuk tetap mengalirkan crude oil menuju konsumen di Asia.

Salah satu pola yang semakin menonjol adalah penggunaan Very Large Crude Carrier atau VLCC dan operasi ship-to-ship atau STS di kawasan Teluk Oman.


Minyak Tetap Bergerak, Tetapi Jalurnya Berubah

Arab Saudi meningkatkan kembali pengiriman minyak melalui terminal-terminalnya di kawasan Teluk setelah serangan terhadap East-West Pipeline mengganggu pengiriman crude melalui jalur menuju Laut Merah.

Kondisi tersebut membuat sebagian volume minyak kembali diarahkan melalui terminal seperti Ras Tanura dan Juaymah.

Masalahnya, kedua terminal tersebut berada di kawasan yang ekspornya tetap harus melewati Selat Hormuz.

Akibatnya, minyak yang sebelumnya dapat dikirim melalui jalur alternatif kini kembali membutuhkan armada tanker untuk melewati kawasan yang sedang menghadapi risiko keamanan tinggi.


VLCC Menjadi Sangat Penting

Dalam situasi tersebut, VLCC menjadi salah satu kapal paling penting dalam rantai distribusi minyak.

Satu VLCC dapat mengangkut sekitar dua juta barel minyak mentah. Kapasitas yang sangat besar membuat kapal jenis ini menjadi pilihan untuk mengangkut crude dalam jumlah besar menuju pasar Asia.

Data pelacakan kapal menunjukkan peningkatan aktivitas VLCC dari terminal minyak Saudi di kawasan Teluk.

Pada 20 September, sekitar 14 juta barel crude oil dilaporkan dimuat ke dalam tujuh VLCC di Ras Tanura.

Namun, meningkatnya kebutuhan terhadap VLCC juga menimbulkan persoalan baru.

Semakin banyak kapal yang digunakan untuk operasi shuttle dan STS, semakin sedikit kapasitas kapal yang tersedia untuk perdagangan minyak di rute lainnya.


Ship-to-Ship di Teluk Oman Jadi Sorotan

Di sinilah operasi ship-to-ship atau STS memainkan peran penting.

Minyak dari kapal yang keluar dari kawasan Teluk dapat dipindahkan ke kapal tanker yang lebih besar di kawasan Teluk Oman, termasuk di sekitar perairan Oman.

Dengan cara tersebut, kapal-kapal besar yang akan membawa minyak menuju Asia tidak harus melakukan seluruh perjalanan dengan pola operasi yang sama.

Namun, operasi STS membutuhkan perencanaan dan koordinasi yang sangat ketat.

Posisi kedua kapal, kondisi cuaca dan gelombang, kecepatan relatif, komunikasi, kesiapan peralatan, prosedur keselamatan, serta risiko pencemaran harus diperhitungkan secara matang.

Untuk operasi minyak dalam jumlah besar, kesalahan kecil selama STS dapat menimbulkan konsekuensi besar.


Kapasitas STS Mulai Terbatas

Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa peningkatan volume minyak yang membutuhkan STS mulai memberikan tekanan terhadap kapasitas operasi tersebut.

Pada 25 September, Reuters melaporkan bahwa kapasitas transfer minyak secara STS di Teluk Oman mulai mencapai batasnya.

Meningkatnya pengiriman minyak Saudi, ditambah volume dari produsen Timur Tengah lainnya, membuat semakin banyak tanker membutuhkan lokasi dan kapal pendukung untuk melakukan transfer.

Kondisi ini menyebabkan kapal harus menunggu lebih lama dan meningkatkan kebutuhan terhadap armada tanker.

Akibatnya, biaya pengangkutan minyak juga ikut terdorong naik.


Asia Menjadi Tujuan Utama

Sebagian besar minyak yang menggunakan pola pengiriman tersebut ditujukan ke pasar Asia.

China, Korea Selatan, India dan Jepang merupakan sejumlah pasar penting bagi crude oil Timur Tengah.

Dengan meningkatnya penggunaan VLCC dan STS, perjalanan minyak menuju Asia menjadi lebih kompleks dibandingkan kondisi normal.

Kapal tidak hanya harus mempertimbangkan rute pelayaran, tetapi juga waktu tunggu, ketersediaan kapal untuk transfer, kondisi keamanan dan biaya asuransi.


 AIS dan Transparansi Pelayaran

Krisis Hormuz juga membuat aktivitas tanker semakin sulit dipantau secara terbuka.

Sejumlah kapal diketahui melakukan pelayaran dengan informasi AIS yang terbatas atau tidak selalu memberikan gambaran lengkap mengenai rute dan tujuan akhirnya.

Situasi tersebut membuat data satelit, pengamatan kapal dan analisis pergerakan tanker menjadi semakin penting bagi perusahaan pelayaran, trader minyak dan analis pasar.

Bagi operator kapal, kondisi ini juga meningkatkan kebutuhan terhadap voyage planning, security assessment dan komunikasi antara kapal, operator serta pihak terkait di darat.


Krisis Hormuz Mengubah Biaya Angkutan

Perubahan pola pelayaran tersebut tidak datang tanpa biaya.

Penggunaan lebih banyak VLCC, waktu tunggu untuk STS, perjalanan yang lebih panjang dan kebutuhan pengamanan tambahan membuat biaya transportasi minyak meningkat.

Ketika kapasitas tanker semakin terbatas, pemilik kapal memiliki posisi tawar yang lebih kuat dalam menentukan tarif angkutan.

Dengan demikian, krisis di Selat Hormuz tidak hanya menjadi persoalan geopolitik atau keselamatan pelayaran, tetapi juga telah memengaruhi ekonomi industri tanker.


Selat Hormuz Tetap Menjadi Titik Kritis

Yang menarik, meskipun berbagai jalur alternatif sedang digunakan, Selat Hormuz tetap sulit digantikan sepenuhnya.

Data terbaru menunjukkan lalu lintas kapal melalui selat tersebut masih jauh di bawah kondisi normal. Namun minyak tetap bergerak melalui kombinasi perjalanan tanker, shuttle dan operasi STS.

Ini memperlihatkan bahwa industri pelayaran sedang beradaptasi terhadap kondisi yang tidak normal.

Bukan berarti jalur minyak dunia telah sepenuhnya berpindah dari Selat Hormuz.

Yang terjadi adalah munculnya pola distribusi baru yang menggabungkan jalur tradisional dengan transfer antar kapal di luar kawasan chokepoint.


Tantangan Baru bagi Dunia Pelayaran

Bagi para pelaut, perubahan tersebut berarti meningkatnya kompleksitas operasi.

VLCC harus menjalankan pelayaran dalam kondisi keamanan yang tidak menentu. Sementara kapal yang terlibat dalam STS harus melaksanakan operasi dengan tingkat presisi dan disiplin keselamatan yang tinggi.

Master dan seluruh perwira kapal dituntut melakukan penilaian risiko secara terus-menerus.

Karena dalam kondisi seperti ini, keputusan mengenai kapan bergerak, di mana melakukan transfer dan bagaimana menjaga keselamatan kapal bukan lagi sekadar persoalan efisiensi pelayaran.


Krisis Hormuz telah menunjukkan satu hal penting:

Ketika sebuah chokepoint strategis terganggu, dunia pelayaran tidak berhenti. Kapal mencari cara baru, operator mengubah strategi, dan minyak mencari jalur baru menuju pasar.

Namun setiap perubahan rute memiliki konsekuensi terhadap kapal, pelaut, biaya angkutan dan keselamatan pelayaran.

Dan di tengah perubahan tersebut, VLCC dan operasi ship-to-ship di Teluk Oman kini menjadi bagian penting dari wajah baru perdagangan minyak dunia.


Sumber: Reuters, International Maritime Organization, data pelacakan kapal dan laporan industri pelayaran.


eMaritim.com
Maritime Experts Speak