![]() |
| Capt. Zaenal Hasibuan |
MENGAPA KAPAL RoRo RENTAN TERBALIK DAN TENGGELAM?
Wawancara eMaritim.com dengan Capt. Zaenal Hasibuan, Pengamat Maritim, Anggota IKPPNI dan Pengurus INSA
Jakarta, 20 September 2026 — eMaritim.com
Kapal ferry jenis RoRo (Roll On Roll Off) merupakan salah satu moda transportasi laut yang sangat penting, khususnya untuk mengangkut penumpang sekaligus kendaraan.
Namun, di balik kepraktisan sistem roll on-roll off, kapal jenis ini memiliki karakteristik keselamatan yang kompleks. Ruang muat kendaraan yang luas, posisi muatan yang relatif tinggi, freeboard yang relatif rendah, hingga potensi pergeseran kendaraan dapat menjadi faktor serius yang memengaruhi stabilitas kapal.
Untuk memahami lebih jauh karakteristik keselamatan kapal RoRo dan mengapa kapal jenis ini memiliki risiko tersendiri terhadap kecelakaan, eMaritim.com melakukan wawancara melalui WhatsApp dengan Capt. Zaenal Hasibuan, Pengamat Maritim, Anggota IKPPNI serta Pengurus INSA.
Capt. Zaenal memiliki pengalaman selama lima tahun bekerja di kapal RoRo dengan rute North Spain–Finland.
Berikut wawancara selengkapnya.
eMaritim:
Capt., mengapa kapal RoRo sering dianggap memiliki karakteristik keselamatan yang lebih kompleks dibandingkan jenis kapal lainnya?
Capt. Zaenal Hasibuan:
Pada dasarnya, kapal RoRo memang mempunyai karakteristik yang berbeda dengan kapal konvensional lainnya.
Kapal ini memiliki kemampuan mengangkut kendaraan dan penumpang. Kendaraan tidak dimuat secara vertikal dari atas seperti pada kapal kargo pada umumnya, tetapi masuk melalui ramp door dan ditempatkan di car deck.
Artinya, desain kapal, stabilitas, sistem pemuatan, lashing, ramp door, hingga pengaturan kendaraan harus benar-benar diperhatikan.
Ada beberapa faktor utama yang menurut saya harus menjadi perhatian.
1. STABILITAS
Secara mendasar kapal ini memiliki ruang muat yang tinggi, dimana kendaraan ditempatkan di atas deck, jauh melebihi tingginya tangki double bottom.
Hal ini secara mendasar membuat Center of Gravity kapal menjadi relatif tinggi atau dengan kata lain kapal memiliki GM (Metacentric Height) yang kecil.
Ditambah lagi dengan akomodasi penumpang dan crew yang berada bahkan lebih tinggi lagi dari cargo bay, maka stabilitas selalu menjadi masalah serius untuk kapal jenis ini.
Stabilitas harus benar-benar diperhitungkan secara presisi.
2. FREEBOARD YANG KECIL
Umumnya kapal RoRo memiliki freeboard yang kecil. Hal ini disebabkan karena posisi ramp door biasanya tidak jauh dari garis air.
Ini dimaksudkan agar kendaraan yang masuk dan keluar tidak harus mendaki terlalu tinggi, yang juga akan membahayakan saat di pelabuhan.
Karena rendahnya freeboard, maka pada saat kapal miring, risiko air masuk ke dalam kapal menjadi sangat besar.
Apalagi jika pintu-pintu tersebut tidak dirawat dan tidak memiliki watertight integrity yang baik.
3. RAMP DOOR
Dikarenakan sebagai akses keluar masuk kendaraan, maka ramp door menjadi salah satu titik lemah kapal RoRo.
Pentingnya menjaga agar kendaraan yang lewat tidak melebihi SWL (Safe Working Load) dari ramp adalah hal yang tidak bisa ditawar-tawar.
Apabila ramp door sudah tidak lurus dikarenakan muatan-muatan yang berat, maka secara otomatis ramp door tersebut dapat kehilangan kekedapannya terhadap air.
Peranan jembatan timbang di pelabuhan adalah salah satu kunci apakah kapal RoRo bisa bertahan lama atau tidak.
4. SEDIKITNYA TRANSVERSE BULKHEAD
Di kapal jenis lain, palka kapal dibagi menjadi beberapa bagian dan dipisahkan oleh bulkhead.
Sementara di kapal RoRo, hal tersebut tidak bisa dibuat dengan cara yang sama, karena muatannya tidak dimuat secara vertikal dari atas, tetapi kendaraan masuk dari belakang atau depan dan dikemudikan ke sisi depan, belakang, kiri dan kanan.
Inilah juga yang membuat kapal ini rawan terhadap bahaya kebakaran dan kemasukan air, dimana api atau air bisa menjalar ke seluruh bagian kapal tanpa banyak dihalangi oleh watertight transverse bulkhead.
5. LETAK ALAT-ALAT PENYELAMATAN
Tingginya letak alat keselamatan membuat penumpang dan crew sulit menjangkaunya dalam kondisi darurat.
Disaat kapal miring, sekoci dan life raft yang bisa dipakai mungkin hanya berada di satu sisi saja, yaitu sisi yang masih aman atau sisi yang tidak tenggelam.
Untuk mencapai sekoci dan life raft yang letaknya cukup tinggi disaat kapal miring adalah sesuatu yang hanya bisa dilakukan dengan baik oleh orang-orang yang terlatih.
6. CUACA
Dikarenakan karakteristik stabilitas kapal, maka momen penegak atau GZ (Righting Arm) juga menjadi faktor penting.
Ini membuat kapal harus menghadapi dengan baik external force dari luar seperti angin dan ombak.
Di kapal jenis lain yang letak muatannya lebih rendah, karakteristik momen penegaknya dapat berbeda dibandingkan kapal RoRo atau kapal penumpang.
Karena itu kondisi cuaca, angin, gelombang dan kondisi kapal harus selalu menjadi bagian dari pertimbangan operasional.
7. CARGO STOWAGE
Sulit memilih kendaraan apa yang ideal untuk dimuat lebih dahulu atau ditempatkan di lower hold, car bay atau upper hold.
Karena sifat pemuatan yang first come, first in, maka ada kemungkinan kendaraan-kendaraan yang berat, apalagi truk ODOL (Over Dimension Over Loading), dimuat di titik yang lebih tinggi dari kendaraan ringan.
Ini dapat menyebabkan buruknya pengaturan stabilitas kapal.
Jadi cargo stowage bukan sekadar persoalan parkir kendaraan. Ini merupakan bagian penting dari stability management kapal.
8. LASHING MUATAN
Ini adalah salah satu kegiatan yang jika tidak dilakukan dapat menjadi PEMBUNUH kapal-kapal jenis RoRo.
Seperti diketahui bahwa kapal ini memiliki karakteristik stabilitas tertentu. Jika mendapat tekanan ombak atau angin, kapal akan mengalami rolling dan pitching sesuai kondisi gelombang dan operasionalnya.
Apabila kendaraan di dalamnya tidak di-lashing dan kemudian bergerak ke sisi yang rendah, maka ini akan menjadi seperti efek bola salju.
Semakin kapal rolling atau bergoyang ke kiri dan kanan, kendaraan tersebut dapat semakin bergeser ke sisi rendah.
Kondisi ini dapat menambah kemiringan kapal dan selanjutnya memperburuk stabilitas.
Karena itu, lashing kendaraan merupakan bagian yang sangat penting dalam keselamatan operasi kapal RoRo.
eMaritim:
Capt., kalau kapal yang dirawat dengan baik saja memiliki karakteristik risiko seperti itu, bisa dibayangkan bagaimana risikonya apabila ada faktor tambahan lainnya?
Capt. Zaenal Hasibuan:
Nah, di sinilah kita masuk ke faktor ke-9: faktor yang tidak terukur.
Kapal yang tidak terawat, mengalami material fatigue, peralatan keselamatan tidak lengkap, crew tidak memiliki good seamanship practice yang baik, ditambah lagi jika otoritas pelabuhan tidak melakukan pemeriksaan secara optimal terhadap kapal dan kendaraan yang masuk, maka itulah kira-kira jawaban mengapa kapal-kapal jenis ini dapat mengalami kecelakaan, tenggelam atau terbakar.
eMaritim:
Jadi, apakah kapal RoRo pada dasarnya memang berbahaya?
Capt. Zaenal Hasibuan:
Saya tidak mengatakan kapal RoRo itu berbahaya.
Yang harus dipahami adalah kapal RoRo memiliki karakteristik keselamatan yang berbeda dan membutuhkan disiplin keselamatan yang sangat tinggi.
Kalau desainnya benar, kapal dirawat dengan baik, loading plan dilaksanakan dengan benar, kendaraan ditimbang, lashing dilakukan dengan baik, watertight integrity dijaga, crew mempunyai good seamanship, serta pengawasan dilakukan secara konsisten, maka risiko dapat dikendalikan.
Masalahnya muncul ketika beberapa faktor tersebut diabaikan secara bersamaan.
Dan ketika terjadi kondisi ekstrem, kapal tidak memberikan banyak ruang untuk kesalahan.
eMaritim:
Apa pesan Capt. kepada operator kapal, pelaut dan otoritas pelabuhan?
Capt. Zaenal Hasibuan:
Jangan pernah menganggap perjalanan pendek berarti risikonya kecil.
Kapal yang hanya berlayar beberapa jam tetap merupakan kapal laut yang menghadapi risiko stabilitas, cuaca, kebakaran, kebocoran dan kegagalan peralatan.
Justru karena pelayarannya pendek, jangan sampai muncul pemikiran bahwa pemeriksaan dan persiapan keselamatan bisa dilakukan secara lebih longgar.
Safety harus dimulai sebelum kendaraan pertama masuk ke kapal dan baru berakhir setelah kapal sandar dengan selamat.
Dan satu lagi yang sangat penting:
Good seamanship bukan hanya teori. Itu harus menjadi budaya kerja.
Saya sendiri pernah bekerja selama lima tahun di kapal RoRo pada rute North Spain–Finland, sehingga saya melihat langsung bagaimana karakteristik kapal jenis ini harus dihadapi dalam operasi sehari-hari.
============================
CATATAN REDAKSI eMaritim.com
Kapal RoRo memberikan kemudahan luar biasa dalam sistem transportasi laut karena kendaraan dapat langsung masuk dan keluar kapal tanpa proses bongkar muat konvensional.
Namun, kemudahan tersebut datang bersama konsekuensi teknis.
Stabilitas, distribusi muatan, kondisi ramp door, watertight integrity, lashing, kesiapan awak kapal, cuaca dan pengawasan merupakan satu kesatuan sistem keselamatan.
Satu mata rantai yang lemah dapat memengaruhi mata rantai lainnya.
Karena itu, keselamatan kapal RoRo tidak cukup hanya dilihat dari kondisi kapal ketika meninggalkan pelabuhan.
Keselamatan dimulai dari bagaimana kapal dipersiapkan, bagaimana kendaraan ditimbang dan ditempatkan, bagaimana muatan diamankan, bagaimana kapal dirawat, dan bagaimana seluruh pihak menjalankan tanggung jawabnya.
eMaritim.com — Maritime Experts Speak




Tidak ada komentar:
Komentar yang bijaksana dan bertanggung jawab sesuai dengan yang diatur dalam UU ITE.
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Komentator.