eMaritim.com – Maritime Experts Speak
Selat Hormuz kembali menjadi salah satu titik paling berisiko bagi pelayaran dunia. Ketegangan di kawasan Timur Tengah telah menyebabkan lalu lintas kapal niaga melalui jalur strategis tersebut merosot tajam, sementara serangkaian serangan terhadap kapal komersial menempatkan keselamatan pelaut semakin dalam sorotan.
Organisasi Maritim Internasional atau International Maritime Organization (IMO) menyatakan telah memverifikasi 80 serangan terhadap kapal niaga di dalam dan sekitar Selat Hormuz sejak konflik terbaru di kawasan tersebut berlangsung.
Dalam pernyataan yang disampaikan IMO, serangan-serangan tersebut telah menyebabkan sedikitnya 22 pelaut meninggal dunia. Angka tersebut memperlihatkan bahwa kapal niaga dan para awaknya tidak lagi hanya menghadapi risiko operasional biasa, tetapi juga ancaman keamanan yang dapat berakibat fatal.
Lalu Lintas Kapal Merosot Tajam
Data pelacakan kapal yang dikutip Reuters menunjukkan betapa drastis perubahan situasi di Selat Hormuz.
Pada akhir pekan yang dilaporkan Reuters, hanya 17 kapal komoditas yang terlihat melintas Selat Hormuz. Jumlah tersebut turun dari 37 kapal pada akhir pekan sebelumnya.
Angka tersebut juga sangat jauh dibandingkan kondisi sebelum konflik, ketika jalur tersebut rata-rata dilalui sekitar 125 kapal komersial berukuran besar setiap hari.
Namun, angka pelacakan tersebut tidak berarti seluruh kapal yang sebenarnya melintas dapat terdeteksi. Sebagian kapal diketahui mematikan Automatic Identification System (AIS) untuk mengurangi kemungkinan terdeteksi atau menjadi sasaran.
Dengan demikian, jumlah kapal yang benar-benar melintas kemungkinan lebih besar daripada yang terlihat dalam data AIS.
Dua Kapal Kembali Menjadi Sasaran
Situasi semakin mengkhawatirkan setelah dua kapal dilaporkan terkena serangan di sekitar Selat Hormuz.
Salah satunya adalah kapal tanker minyak mentah LR Stephanie berbendera Isle of Man yang terkena proyektil ketika melintas. Dua awak kapal dilaporkan mengalami luka ringan.
Kapal tanker LPG berbendera Liberia, Al Maryah, juga dilaporkan terkena serangan ketika keluar dari kawasan selat.
Kedua kapal tersebut tetap dapat melanjutkan pelayaran dan tidak memerlukan penarikan oleh kapal tunda.
Pelaut Berada di Garis Depan
Bagi dunia pelayaran, persoalan terbesar bukan hanya terganggunya distribusi minyak atau naiknya biaya angkutan.
Di atas setiap kapal terdapat manusia.
Master, deck officer, engineer, rating, cadet dan seluruh awak kapal harus tetap menjalankan tugas mereka ketika kapal memasuki wilayah dengan tingkat ancaman keamanan yang tinggi.
Dalam kondisi seperti ini, keputusan navigasi menjadi jauh lebih kompleks. Perwira jaga harus mempertimbangkan rute, kecepatan, kondisi cuaca, informasi keamanan, komunikasi dengan pihak berwenang serta kemungkinan ancaman terhadap kapal.
Masalah lain adalah penggunaan AIS. Dalam situasi normal, AIS merupakan salah satu alat penting untuk meningkatkan situational awareness. Namun ketika kapal mematikan AIS karena pertimbangan keamanan, kapal tersebut juga kehilangan sebagian manfaat dari sistem identifikasi dan pemantauan lalu lintas secara terbuka.
Situasi tersebut menunjukkan betapa rumitnya keputusan yang harus dibuat oleh Master dan operator kapal.
Dampaknya Tidak Hanya pada Tanker
Selat Hormuz bukan hanya jalur bagi kapal tanker minyak.
Jalur ini juga dilalui berbagai jenis kapal, termasuk bulk carrier, container ship, LNG carrier dan kapal pengangkut komoditas lainnya.
Ketika lalu lintas di selat tersebut terganggu, dampaknya dapat merambat ke rantai pasok energi dan perdagangan internasional.
Reuters juga melaporkan bahwa sebagian pengiriman minyak masih berlangsung, termasuk dengan kapal yang menggunakan pola operasi dan rute yang berbeda dari kondisi normal.
Bab el-Mandeb Juga Mendapat Perhatian
Selat Hormuz bukan satu-satunya jalur strategis yang menjadi perhatian pelayaran internasional.
Bab el-Mandeb dan kawasan Laut Merah juga kembali menjadi sorotan karena meningkatnya ancaman terhadap kapal komersial.
Artinya, operator kapal menghadapi persoalan yang lebih luas: bagaimana mempertahankan kelancaran perdagangan dunia sekaligus menjaga keselamatan awak kapal.
Keselamatan Pelaut Harus Menjadi Prioritas
IMO telah menyerukan agar kapal niaga dan para pelaut tidak dijadikan sasaran dalam konflik bersenjata.
Pesan tersebut memiliki arti penting bagi industri pelayaran karena kapal niaga pada dasarnya membawa fungsi perdagangan internasional dan para pelaut yang bekerja di atasnya bukanlah pihak yang menentukan konflik.
Bagi perusahaan pelayaran, kondisi seperti ini juga berarti meningkatnya kebutuhan terhadap voyage risk assessment, komunikasi keamanan, perencanaan rute, koordinasi dengan pihak berwenang dan kesiapan menghadapi keadaan darurat.
Dalam situasi ekstrem, keputusan untuk melanjutkan pelayaran, menunda keberangkatan atau mengubah rute menjadi bagian penting dari manajemen keselamatan kapal.
Selat Hormuz dan Masa Depan Pelayaran
Penurunan drastis lalu lintas kapal di Selat Hormuz memperlihatkan betapa cepatnya sebuah konflik geopolitik dapat mengubah pola pelayaran dunia.
Dari sudut pandang maritim, angka puluhan kapal yang terkena serangan dan puluhan pelaut yang kehilangan nyawa merupakan pengingat bahwa keselamatan manusia harus tetap menjadi perhatian utama.
Selat Hormuz bukan sekadar garis di peta.
Di balik setiap titik kapal yang terlihat pada layar AIS terdapat Master, perwira, engineer dan seluruh awak kapal yang sedang menjalankan tugasnya untuk membawa barang dan energi bagi dunia.
Ketika jalur tersebut berubah menjadi kawasan berisiko tinggi, maka pertanyaan terpenting bagi industri pelayaran bukan hanya “kapan kapal bisa kembali melintas?”, tetapi juga:
“Bagaimana memastikan setiap pelaut dapat kembali pulang dengan selamat?”
Sumber: International Maritime Organization (IMO), Reuters, UKMTO.
Catatan Redaksi: Situasi keamanan di Selat Hormuz berkembang sangat cepat. Data jumlah kapal dapat berubah karena sebagian kapal dapat mematikan AIS atau menggunakan pola pelayaran yang tidak seluruhnya terdeteksi oleh sistem pelacakan terbuka.
eMaritim.com
Maritime Experts Speak
๐ง Dengarkan Berita Ini




Tidak ada komentar:
Komentar yang bijaksana dan bertanggung jawab sesuai dengan yang diatur dalam UU ITE.
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Komentator.