JAKARTA, eMaritim.com — Usia boleh mencapai 80 tahun, tetapi semangat untuk berbagi ilmu tak harus ikut menua. Itulah pesan yang tercermin dalam perayaan ulang tahun Bas Suparwo, sosok yang dikenal luas dengan nama “Lilin Tua”, pada 20 Oktober 2026.
Dikenal sebagai YouTuber di bidang permesinan kapal dengan jumlah pelanggan yang hampir menyentuh 20 ribu, Bas Suparwo merayakan hari istimewanya secara sederhana di Coffee Setahun Kemarin. Bukan pesta megah yang menjadi pusat perhatian, melainkan pertemuan hangat bersama sahabat, kolega, dan rekan seperjuangan dari dunia pelayaran.
Sejumlah kolega yang hadir antara lain Capt. Albert Lapian, Direktur STIMAR, Bas Malao, Bas Lamsegar Sihombing yang merupakan alumni STIMAR, Bas Endang Suharman, Bas Rudi Setiomartono, Engine Cadet STIMAR, serta sejumlah undangan dari Navindotrex. Mereka berkumpul untuk merayakan perjalanan hidup seorang pelaut senior yang masih memiliki semangat untuk berkontribusi bagi generasi berikutnya.
Didampingi sang istri, Lilin Tua memotong kue ulang tahun tanpa meniup lilin seperti tradisi yang lazim dilakukan. Alasannya sederhana, tetapi sarat makna: “Lilin yang menerangi takkan pernah padam.”
Ungkapan itu seolah menggambarkan perjalanan dan tekadnya. Bagi Bas Suparwo, pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki tidak seharusnya berhenti pada dirinya sendiri. Keduanya perlu diteruskan kepada generasi muda, terutama calon perwira mesin kapal atau bidang Teknika.
Membalas Budi Melalui Pendidikan
Dalam pengakuannya, Lilin Tua menegaskan komitmennya untuk tetap konsisten di dunia pendidikan maritim. Ia ingin terus membagikan pengetahuan praktis kepada generasi muda insan pelayaran sebagai bentuk balas budi atas kesempatan pendidikan yang pernah diterimanya.
Ia mengenang bahwa pendidikan di Akademi Ilmu Pelayaran (AIP) dan pendidikan lanjutan di Belanda dahulu dibiayai sepenuhnya oleh pemerintah. Baginya, kesempatan tersebut merupakan amanah yang layak dibalas melalui pengabdian dan kontribusi nyata bagi pendidikan pelaut Indonesia.
Kini, ketika banyak orang seusianya memilih mengurangi aktivitas, Lilin Tua justru menyampaikan tantangan baru: ikut meningkatkan kompetensi calon perwira mesin kapal melalui kolaborasi dengan STIMAR, dengan metode khusus yang ingin ia kembangkan.
Gagasan ini menjadi menarik di tengah kebutuhan industri pelayaran terhadap tenaga teknis yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga menguasai praktik permesinan kapal. Pengalaman lapangan dari pelaut senior dapat menjadi sumber pembelajaran berharga apabila dipadukan dengan sistem pendidikan dan pelatihan yang tepat.
Buku Baru, Cara Pandang Baru bagi Engineer
Di akhir acara, Bas Suparwo memberikan kenang-kenangan kepada para kolega berupa buku terbarunya yang dicetak dalam bahasa Inggris, berjudul Predictive Maintenance & Reliability Engineering. Buku ini menjadi bagian dari upayanya membagikan pengetahuan sekaligus mendorong perubahan cara pandang dalam dunia permesinan kapal.
Menurut gagasan yang diusung dalam buku tersebut, seorang engineer tidak seharusnya hanya dipandang sebagai “tukang perbaikan” yang bekerja setelah mesin mengalami kerusakan. Seorang engineer perlu membangun system mindset atau pola pikir sistemik: memahami bagaimana seluruh komponen, peralatan, dan proses saling terintegrasi dalam satu kesatuan sistem Kamar Mesin.
Dengan pendekatan ini, perhatian tidak berhenti pada satu mesin sebagai komponen yang berdiri sendiri. Engineer dituntut memahami hubungan antarsistem, mengenali potensi gangguan lebih dini, memprediksi kebutuhan perawatan, serta menjaga keandalan operasional secara menyeluruh. Inilah esensi penting dari predictive maintenance dan reliability engineering yang relevan bagi peningkatan kompetensi tenaga teknis pelayaran.
Pemikiran tersebut juga sejalan dengan tekad Lilin Tua untuk berkolaborasi dengan STIMAR dalam meningkatkan kompetensi calon perwira mesin kapal. Pengalaman praktis, pemahaman sistem, dan kemampuan berpikir analitis diharapkan dapat membentuk engineer yang tidak sekadar mampu memperbaiki kerusakan, tetapi juga mampu mencegahnya.
Lilin yang Terus Menyala
Perjalanan Lilin Tua mengingatkan kita bahwa kontribusi seorang pelaut tidak berakhir ketika masa dinas selesai. Justru, pengalaman panjang yang telah ditempuh dapat menjadi bekal untuk menyiapkan generasi baru yang lebih kompeten dan siap menghadapi tantangan teknologi pelayaran.
Pada usia ke-80, Bas Suparwo tidak sekadar merayakan bertambahnya umur. Ia menyampaikan pesan tentang pendidikan, rasa syukur, dan tanggung jawab untuk meneruskan ilmu.
Sebab, kapal membutuhkan mesin yang terus bekerja, tetapi dunia pelayaran juga membutuhkan engineer yang mampu memahami keseluruhan sistem dan mencegah kerusakan sebelum terjadi.
Dan bagi Lilin Tua, selama masih ada ilmu yang bisa dibagikan dan generasi muda yang perlu dibimbing, lilin itu belum waktunya padam.
eMaritim.com — Maritim, Pengetahuan, dan Pengabdian.








Tidak ada komentar:
Komentar yang bijaksana dan bertanggung jawab sesuai dengan yang diatur dalam UU ITE.
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Komentator.