Prespektif lain, Pengakuan Frederik de Houtman Tawanan Laksamana Malahayati

Iklan Semua Halaman

Prespektif lain, Pengakuan Frederik de Houtman Tawanan Laksamana Malahayati

Ananta Gultom
14 Oktober 2026
Lukisan potret Frederik de Houtman dengan pakaian zirah abad ke-17
Frederik Pieterszoon de Houtman

 

 

Nama saya Frederik Pieterszoon de Houtman, pria kelahiran Gouda yang masa mudanya dihabiskan dengan menantang maut di perairan Hindia Timur.

 

 

Semua yang saya tuliskan di sini bukanlah dongeng pelaut di kedai minum Amsterdam, melainkan kesaksian mata dan darah yang saya catat sendiri dalam naskah harian saya, Cort Verhael van 'tgene wedervaren is Frederick de Houtman tot Atchein—sebuah kesaksian tentang bagaimana saya kehilangan kakak kandung saya di ujung rencong panglima perempuan Aceh, dirantai selama dua puluh enam bulan di bawah bayang-bayang pedang algojo dan gajah perang, hingga akhirnya kembali menginjakkan kaki di kepulauan ini sebagai Gubernur.

 

 


 

 

Ilustrasi ukiran armada kapal layar era Cornelis de Houtman
Armada Kapal Ekspedisi Hindia Timur (De Leeuw dan De Leeuwin)

 

 

Pada tanggal 15 Maret 1598, saya berlayar meninggalkan pelabuhan Vlissingen dalam ekspedisi kedua menuju Nusantara yang dibiayai oleh Veerse Compagnie milik saudagar kaya Balthazar de Moucheron.

 

 

Kakak saya, Cornelis de Houtman, memegang komando tertinggi di atas kapal De Leeuw (Singa Jantan), sementara saya sendiri memegang kendali sebagai kapten di atas kapal De Leeuwin (Singa Betina).

 

 

Bersama kami turut serta mualim ulung berkebangsaan Inggris, John Davis, serta wakil komandan berdarah Prancis, Guyon Lefort.

 

 


 

 

Peta kuno wilayah pesisir Kesultanan Aceh
Peta dan Pesisir Aceh Abad ke-17

 

 

Ketika jangkar kami diturunkan di pelabuhan Bandar Aceh Darussalam (Kutaraja) pada 21 Juni 1599, udara pesisir Sumatera menyambut kami dengan aroma lada dan ketegangan politik yang pekat.

 

 

Penguasa negeri itu, Sultan Alauddin Riayat Syah Sayyid al-Mukammil, seorang raja tua yang disegani sekaligus ditakuti, awalnya menerima kedatangan kami dengan upacara istana yang megah.

 

 

Sultan menjanjikan muatan lada yang melimpah dengan satu syarat: kapal-kapal dan meriam kami harus membantu armada Aceh menggempur musuh bebuyutannya, Kesultanan Johor, di Semenanjung Melayu.

 

 

Namun, kami tidak menyadari bahwa istana Aceh tengah menjadi panggung bisikan maut.

 

 

Seorang utusan Portugis dari Malaka bernama Afonso Vicente, bersama seorang nakhoda kapal dagang asal Gujarat dan Syahbandar Aceh sendiri, terus-menerus menghasut telinga Sultan.

 

 

Mereka membisikkan bahwa bangsa Belanda adalah perompak licik yang datang bukan untuk berdagang, melainkan untuk merampas kedaulatan Aceh.

 

 

Celakanya, tabiat kakak saya Cornelis yang keras kepala, mudah naik pitam, dan kerap melontarkan kata-kata kasar saat menagih janji muatan lada justru membenarkan hasutan orang-orang Portugis itu di mata istana.

 

 


 

 

Lukisan Laksamana Malahayati, panglima perang armada laut Kesultanan Aceh
Laksamana Keumalahayati

 

 

Puncak petaka itu pecah pada bulan September 1599 (yang tercatat dalam laporan pelayaran pada tanggal 1 September dan mencapai klimaks penyergapan penuh pada 11 September 1599).

 

 

Dengan dalih hendak mempersiapkan ekspedisi gabungan ke Johor, perahu-perahu Kesultanan Aceh merapat ke kapal De Leeuw dan De Leeuwin.

 

 

Mereka membawa hidangan daging, buah-buahan, serta minuman tuak yang ternyata telah dicampur dengan biji kecubung (datura)—racun pembius yang membuat para kelasi kami kehilangan akal sehat, limbung, dan berhalusinasi di atas geladak.

 

 

Saat pertahanan kapal lumpuh oleh racun itulah, armada tempur Kesultanan Aceh menyerbu di bawah komando seorang perempuan bangsawan berdarah biru yang namanya kelak terpatri dalam ingatan saya seumur hidup: Laksamana Keumalahayati, panglima tertinggi armada laut Aceh sekaligus pemimpin ribuan prajurit janda perang, Inong Balee.

 

 

Di atas geladak kapal De Leeuw yang bersimbah darah, pecah pertarungan jarak dekat yang brutal.

 

 

Kakak saya, Cornelis de Houtman, berhadapan langsung dalam duel satu lawan satu melawan Laksamana Malahayati.

 

 

Di tengah kepungan prajurit Aceh yang menghunus pedang dan kelewang, Cornelis roboh bersimbah darah, tewas ditikam oleh rencong di tangan Laksamana perempuan itu.

 

 

Di kapal De Leeuwin, John Davis dan Guyon Lefort berjuang mati-matian menebas tali jangkar, menembakkan meriam ke arah perahu-perahu penyerbu, dan berhasil membawa kedua kapal kami lolos ke laut lepas.

 

 

Tetapi bagi saya, jalan pulang telah tertutup.

 

 

Saat kekacauan itu pecah, saya bersama puluhan awak kapal Belanda yang berada di darat dan yang tertinggal di perairan pelabuhan—seluruhnya berjumlah sekitar 30 orang yang selamat dari pembantaian 95 rekan kami—diringkus oleh prajurit Aceh.

 

 

Guyon Lefort sempat mengirimkan surat dari tengah laut untuk menebus nyawa saya dengan imbalan lada dan uang, namun perundingan itu buntu.

 

 

Dari balik terali tahanan di pesisir Aceh, saya hanya bisa menatap layar De Leeuw dan De Leeuwin mengecil di cakrawala pada akhir September 1599, meninggalkan saya seorang diri sebagai tawanan utama Sultan Aceh.

 

 


 

 

Dalam naskah Cort Verhael yang saya susun dari balik jeruji, saya mencatat dengan rinci bagaimana Kesultanan Aceh memperlakukan saya bukan sekadar sebagai tawanan perang, melainkan sebagai trofi politik dan keagamaan.

 

 

Beberapa hari setelah kapal-kapal Belanda menghilang, saya digiring menghadap Sultan Alauddin Riayat Syah dan dewan hakim agamanya (Qadhi).

 

 

Di antara para petinggi istana itu, duduk seorang ulama sufi paling berpengaruh di seluruh Sumatera yang menjadi penasihat rohani utama Sultan: Syeikh Syamsuddin bin Abdullah as-Sumatrani—yang dalam catatan harian saya sebut sebagai Sheikh Sommedin.

 

 

Dengan tutur kata yang awalnya lembut dan penuh wibawa, Syeikh Syamsuddin dan para pejabat istana membujuk saya untuk meninggalkan iman Kristen saya dan memeluk agama Islam.

 

 

Sultan sendiri menjanjikan kemuliaan duniawi yang tak tanggung-tanggung: jika saya bersedia mengucapkan syahadat dan disunat, rantai di tubuh saya akan dilepas seketika, saya akan diangkat menjadi bangsawan tinggi (Orang Kaya) di istana Aceh, dikaruniai rumah, budak, serta dinikahkan dengan perempuan bangsawan pilihan Sultan.

 

 

Beberapa rekan kelasi saya yang tak tahan menanggung siksaan dan ketakutan akhirnya menyerah dan berpindah agama demi menyelamatkan nyawa mereka.

 

 

Namun, sebagai komandan yang memegang teguh keyakinan Calvinis, saya menolak tawaran itu.

 

 

Ketika bujukan manis tidak membuahkan hasil, wajah istana berubah menjadi bengis.

 

 

Saya diseret keluar dan dihadapkan pada serangkaian eksekusi bayangan yang dirancang untuk menghancurkan mental saya:

 

 

Para algojo menekan leher saya, menempelkan mata pedang besar yang tajam tepat di tengkuk saya, dan menunggu aba-aba untuk memenggal kepala saya jika saya tidak segera mengucapkan kalimat syahadat.

 

 

Ketika saya tetap bergeming, mereka membawa saya ke hadapan gajah-gajah perang Sultan yang gadingnya telah dipasangi dua bilah pedang besar, mengancam akan membiarkan binatang raksasa itu mencabik dan menginjak tubuh saya hingga lumat.

 

 

Dalam kesempatan lain, saya diancam akan diikat di depan moncong meriam besar untuk ditembakkan hingga berkeping-keping.

 

 

Di hadapan para hakim agama dan algojo itu, saya mengucapkan kalimat pembelaan yang saya tulis kembali kata demi kata dalam Cort Verhael: bahwa Sultan Aceh memang memiliki kuasa penuh atas raga dan darah saya selama saya menjadi tawanannya—ia bebas memenggal kepala saya atau membiarkan gajah mencabik daging saya—tetapi jiwa saya adalah milik Tuhan semata, dan saya tidak akan pernah menukar keselamatan jiwa saya dengan jabatan duniawi.

 

 

Keteguhan hati itu justru membuat Sultan Alauddin tertegun.

 

 

Alih-alih memerintahkan algojo mengayunkan pedang, Sultan membatalkan eksekusi mati saya.

 

 

Namun, sebagai hukumannya, kaki saya dibelenggu dengan rantai besi dan saya dibuang ke penjara Benteng Pidie (Pedir) di pesisir timur Aceh.

 

 

Di sanalah saya mendekam selama 26 bulan, terhitung sejak 11 September 1599 hingga 25 Agustus 1601, bertahan hidup dengan jatah beras seadanya di bawah pengawasan ketat.

 

 

Di tengah masa penahanan itu, tepatnya pada bulan Desember 1600 hingga Januari 1601, harapan palsu sempat datang ketika dua kapal Belanda di bawah pimpinan Paulus van Caerden berlabuh di perairan Aceh.

 

 

Saya sempat berusaha meloloskan diri untuk mencapai kapal Van Caerden, namun rencana itu bocor dan saya kembali diringkus serta dijebloskan ke tahanan dengan penjagaan berlipat ganda.

 

 

Lebih parah lagi, tindakan gegabah Paulus van Caerden yang merampas dan membakar kapal-kapal dagang bermuatan lada milik Aceh di pelabuhan membuat murka Sultan Alauddin dan Laksamana Malahayati meledak, sehingga nyawa saya kembali berada di ujung tanduk sebagai sasaran balas dendam.

 

 


 

 

Selama dua tahun lebih dirantai di Aceh dan Pidie, saya sadar bahwa satu-satunya cara agar tidak menjadi gila adalah dengan menaklukkan keterbatasan saya melalui ilmu pengetahuan.

 

 

Jika raga saya terpenjara di tanah Sumatera, pikiran saya harus memetakan dunia ini untuk bangsa saya.

 

 

Setiap hari, saya mendengarkan dengan saksama percakapan para penjaga penjara, saudagar lokal, pejabat pelabuhan, hingga sesama tahanan.

 

 

Dari balik sel Benteng Pidie, saya mempelajari struktur bahasa yang menjadi kunci perdagangan di seluruh kepulauan Nusantara: bahasa Melayu.

 

 

Lembar demi lembar kertas yang berhasil saya dapatkan saya penuhi dengan ribuan kosakata dan dua belas naskah percakapan sehari-hari—mulai dari cara menawar harga lada di pasar Aceh, tata krama menghadap Sultan, hingga percakapan di meja makan.

 

 

Catatan dari penjara inilah yang kelak saya terbitkan di Amsterdam pada tahun 1603 dengan judul Spraeck ende woord-boeck, in de Maleysche ende Madagaskarsche talen met vele Arabische ende Turcsche woorden—kamus dan buku pedoman tata bahasa Belanda–Melayu pertama dalam sejarah Eropa.

 

 

Tidak berhenti di situ, setiap kali malam turun menyelimuti langit Aceh yang cerah, saya menengadah dari halaman tahanan untuk mengamati gugusan bintang di belahan langit selatan yang tidak pernah terlihat dari langit Eropa.

 

 

Melanjutkan pengamatan mualim kami terdahulu, Pieter Dirkszoon Keyser, saya mengukur koordinat 303 bintang dan memetakan 12 rasi bintang baru di belahan bumi selatan—termasuk rasi Apus (Burung Cenderawasih), Chamaeleon (Bunglon), Dorado (Ikan Todak), Phoenix, Tucana, dan Hydrus—yang saya lampirkan langsung di bagian akhir kamus Melayu saya.

 

 


 

 

Titik balik pembebasan saya akhirnya tiba pada bulan Agustus 1601.

 

 

Empat buah kapal dari Zeeland yang tergabung dalam Verenigde Zeeuwse Compagnie di bawah komando Gerard de Roy dan Laurens Bicker membuang sauh di pelabuhan Aceh.

 

 

Berbeda dengan kedatangan kakak saya Cornelis yang penuh arogansi atau Paulus van Caerden yang mengumbar tembakan meriam, De Roy dan Bicker datang membawa misi diplomatik tingkat tinggi.

 

 

Mereka membawa sepucuk surat resmi yang ditulis dengan tinta emas dalam bahasa Spanyol dan Arab, beserta hadiah-hadiah senjata berukir dan cermin mewah langsung dari pemimpin tertinggi Kerajaan Belanda, Pangeran Maurits van Oranje (Stadhouder Belanda).

 

 

Pada saat itu, Sultan Alauddin dan Laksamana Malahayati tengah mencari sekutu kuat di Eropa untuk mengimbangi ancaman armada Portugis yang semakin agresif di Selat Malaka.

 

 

Dalam perundingan bersejarah yang melibatkan Laksamana Malahayati bersama dewan istana Aceh, tercapailah kesepakatan damai antara Kesultanan Aceh dan Belanda:

 

 

Pihak Belanda menyampaikan permohonan maaf resmi dan menyetujui pembayaran ganti rugi sebesar 50.000 gulden atas kerugian kapal lada yang dibajak oleh Paulus van Caerden.

 

 

Sultan Alauddin memberikan izin pembukaan kantor dagang Belanda di Aceh serta mengutus delegasi diplomatik pertama Kesultanan Aceh ke Eropa—yang dipimpin oleh Abdul Zamat (Abdoelhamid), Laksamana Sri Setia, dan Mir Hasan—untuk menemui Pangeran Maurits di Belanda.

 

 

Sebagai tanda pulihnya hubungan kedua bangsa, pada tanggal 25 Agustus 1601, Sultan Alauddin memerintahkan agar rantai saya dilepaskan.

 

 

Setelah 26 bulan menghirup udara penjara, saya melangkah naik ke atas kapal Laurens Bicker sebagai manusia bebas, berlayar meninggalkan tanah Aceh bersama para duta besar Sultan menuju tanah air saya, dan tiba kembali di Belanda pada musim panas 1602.

 

 


 

 

Pemandangan Benteng Victoria di Ambon, Maluku
Benteng Victoria di Ambon

 

 

Kepulangan saya ke Belanda pada tahun 1602 bertepatan dengan berdirinya kongsi dagang raksasa Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) pada tanggal 20 Maret 1602.

 

 

Pengalaman pahit saya di penjara Aceh, ditambah terbitnya kamus Spraeck ende woord-boeck pada tahun 1603, seketika mengubah nasib saya.

 

 

Di seluruh negeri Belanda, tidak ada satu pun perwira tinggi yang menguasai bahasa Melayu, memahami adat-istiadat raja-raja Nusantara, sekaligus mengenal medan pelayaran Hindia Timur sedalam saya.

 

 

Maka, pada bulan Desember 1603, saya kembali menaiki geladak kapal, berlayar menuju kepulauan Indonesia di bawah armada Laksamana Steven van der Hagen.

 

 

Bukan lagi sebagai tawanan yang dirantai, melainkan sebagai calon penguasa wilayah.

 

 

Pada bulan Februari 1605, armada kami tiba di perairan Ambon, jantung perdagangan cengkih yang selama puluhan tahun dikuasai oleh Portugis.

 

 

Pada tanggal 23 Februari 1605, komandan benteng Portugis Nossa Senhora da Anunciada, Gaspar de Melo, menyerahkan benteng tersebut kepada kami tanpa pertumpahan darah.

 

 

Benteng itu kami beri nama baru: Benteng Victoria.

 

 

Atas keputusan pimpinan ekspedisi dan Dewan Direktur VOC (Heeren XVII), saya, Frederik de Houtman, dilantik menjadi Gubernur VOC pertama di Ambon, jabatan yang saya emban selama enam tahun penuh dari tahun 1605 hingga 1611.

 

 

Di kursi Gubernur Ambon itulah, pelajaran yang saya peroleh dari penjara Aceh menjadi senjata politik saya yang paling ampuh:

 

 

Saat berhadapan dengan para pemimpin lokal di Jazirah Hitu (seperti Kapitan Hitu Tepil) maupun para kepala negeri di Leitimor, saya tidak memerlukan juru bahasa yang kerap memelintir kata-kata.

 

 

Saya berbicara langsung kepada mereka dalam bahasa Melayu yang fasih—bahasa yang dulu saya pelajari sambil dirantai di Benteng Pidie.

 

 

Saya memimpin penataan administrasi pemerintahan kolonial pertama VOC di kepulauan rempah, membangun sekolah bagi penduduk setempat, dan merintis penerjemahan teks-teks katekismus serta doa-doa Kristen Protestan ke dalam bahasa Melayu yang dicetak di Belanda untuk digunakan di Ambon.

 

 

Setelah masa jabatan pertama saya di Ambon berakhir pada 1611, saya sempat kembali ke Belanda sebelum dipanggil lagi untuk pelayaran ketiga menuju Nusantara pada akhir 1618.

 

 

Dalam pelayaran menuju Jawa pada bulan Juli 1619 dengan kapal Dordrecht dan Amsterdam, saya bahkan sempat memetakan bentangan gugusan karang berbahaya di pesisir barat benua Australia yang hingga kini menyandang nama keluarga saya: Houtman Abrolhos.

 

 

Setibanya di Batavia pada tahun 1619, saya diangkat menjadi anggota Dewan Hindia (Raad van Indiรซ) mendampingi Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen.

 

 

Dua tahun kemudian, pada tahun 1621, saya kembali dipercaya memegang tampuk pemerintahan tertinggi di kepulauan rempah sebagai Gubernur Maluku yang berkedudukan di Benteng Oranje, Ternate, hingga tahun 1623.

 

 

Ketika saya akhirnya meletakkan jabatan dan berlayar pulang untuk terakhir kalinya ke Alkmaar pada tahun 1624, saya kerap merenungkan ironi perjalanan hidup saya.

 

 

Pada bulan September 1599, di pelabuhan Aceh, Laksamana Malahayati telah merenggut nyawa kakak saya dan Kesultanan Aceh merantai kaki saya di dalam penjara Pidie selama lebih dari dua tahun.

 

 

Namun, justru karena rantai besi dan dinginnya dinding penjara Sultan Aceh itulah saya dipaksa menyelami bahasa, budaya, dan langit Nusantara—sebuah bekal tak ternilai yang mengantarkan saya dari seorang tawanan yang nyaris dipenggal menjadi Gubernur pertama di kepulauan rempah.


=====

Berikut adalah rujukan dan sumber-sumber sejarah (primer dan sekunder) yang mendasari penulisan kisah kesaksian Frederik de Houtman.

1. Sumber Primer (Catatan Saksi Mata & Pelaku Sejarah Langsung)

  • De Houtman, Frederik (1603).

    Cort Verhael van 'tgene wedervaren is Frederick de Houtman tot Atchein (Catatan Singkat Mengenai Apa yang Dialami Frederik de Houtman di Aceh).

    Catatan ini merupakan buku harian pribadi Frederik de Houtman selama ditawan di Aceh dan Pidie (1599–1601), yang kemudian diterbitkan di Amsterdam.

  • De Houtman, Frederik (1603).

    Spraeck ende woord-boeck, in de Maleysche ende Madagaskarsche talen met vele Arabische ende Turcsche woorden. Amsterdam: Jan Cornelisz.

    Kamus dan panduan percakapan Melayu–Belanda pertama yang disusunnya langsung dari balik penjara Aceh beserta lampiran peta 303 bintang langit selatan.

  • Davis, John (1600).

    The Voyage of Captain John Davis to the Eastern India, Pilot in a Dutch Ship; written by himself. (Dipublikasikan dalam kompilasi pelayaran Samuel Purchas: Purchas His Pilgrimes, Vol. I, 1625).

    Catatan mualim asal Inggris yang berada di kapal De Leeuw dan De Leeuwin saat penyerangan armada Laksamana Malahayati di pelabuhan Aceh terjadi pada September 1599.

  • Bicker, Laurens & De Roy, Gerard (1601–1602).

    Journaal van de reis naar Atjeh onder bevel van Laurens Bicker en Gerard de Roy.

    Laporan resmi ekspedisi Zeeland yang membawa surat Pangeran Maurits van Oranje, berunding dengan Laksamana Malahayati dan Sultan Aceh, hingga berhasil membebaskan Frederik de Houtman.

2. Sumber Naskah & Historiografi Tradisional Lokal

  • Bustanus al-Salatin (Taman Para Raja) karya Syeikh Nuruddin ar-Raniri (1638).

    Naskah kronik Kesultanan Aceh Darussalam yang mencatat masa pemerintahan Sultan Alauddin Riayat Syah Sayyid al-Mukammil dan hubungan politik/diplomatik Aceh dengan bangsa-bangsa Eropa.

  • Tradisi Lisan & Manuskrip Dayah Inong Balee (Aceh).

    Catatan sejarah lokal mengenai kepemimpinan Laksamana Keumalahayati, benteng Inong Balee di Teluk Krueng Raya, serta pertahanan laut Kesultanan Aceh menghadapi Portugis dan Belanda.

3. Sumber Sekunder (Kajian Akademik & Sejarah Modern)

  • Boxer, C. R. (1965).

    The Dutch Seaborne Empire: 1600–1800. London: Hutchinson & Co.

  • Lombard, Denys (1967).

    Le Sultanat d'Atjeh au temps d'Iskandar Muda (1607-1636). Paris: ร‰cole franรงaise d'Extrรชme-Orient. (Diterjemahkan ke bahasa Indonesia: Kerajaan Aceh: Zaman Sultan Iskandar Muda, Kepustakaan Populer Gramedia).

  • Ricklefs, M. C. (2008).

    A History of Modern Indonesia since c. 1200. Stanford University Press.

  • Reid, Anthony (1993).

    Southeast Asia in the Age of Commerce, 1450–1680: The Lands Below the Winds. Yale University Press.

  • Alfian, Teuku Ibrahim, dkk. (1997).

    Wanita Utama Nusantara dalam Lintasan Sejarah: Keumalahayati. Jakarta: Proyek Pengembangan Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.